Jakarta, CNBC Indonesia Research - Pasar aset kripto mengalami guncangan hebat pada perdagangan Jumat (06/02/2026). Aksi jual masif atau panic selling melanda seluruh sektor, menyeret Bitcoin (BTC) jatuh ke level terendah dalam 15 bulan terakhir.
Sentimen pasar berubah drastis dari optimisme politik menjadi pesimisme makroekonomi yang mendalam. Hilangnya minat investor institusi dan kegagalan Bitcoin berfungsi sebagai aset safe haven menjadi katalis utama kehancuran harga kali ini.
Nilai kapitalisasi pasar global tercatat telah kehilangan lebih dari US$ 1 triliun dalam satu bulan terakhir, atau total penyusutan sebesar US$ 2 triliun sejak puncak pasar pada Oktober 2025.
Penurunan Massal di Seluruh Sektor
Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $64.886, mencatatkan penurunan harian yang tajam sebesar -9,19% dan kerugian mingguan mencapai -20,84%. Penurunan ini secara efektif menghapus seluruh keuntungan spekulatif yang sempat terbangun di awal tahun.
Kondisi lebih parah dialami oleh Ethereum (ETH) yang harus merelakan level psikologis $2.000. Aset kripto terbesar kedua ini terperosok ke harga $1.907, anjlok -10,16% dalam 24 jam terakhir dan mencatatkan penurunan mingguan yang mengkhawatirkan sebesar -30,26%.
Kehancuran harga ini merata ke aset Layer-1 lainnya, di mana Solana (SOL) menjadi salah satu yang terburuk dengan penurunan mingguan mencapai -32,43% ke level $76,91.
Meskipun pasar sedang berdarah, terdapat satu anomali menarik pada aset Hyperliquid (HYPE). Di tengah lautan merah, HYPE justru mencatatkan kenaikan mingguan sebesar +22,13% dan diperdagangkan di level $35,16.
Kenaikan yang melawan arus ini kemungkinan besar didorong oleh spekulasi ritel yang beralih ke instrumen derivatif terdesentralisasi (DEX) untuk mencari imbal hasil tinggi ketika pasar spot sedang tidak kondusif.
Namun, secara umum, pasar didominasi oleh tekanan jual yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, diperparah oleh likuidasi paksa senilai lebih dari US$ 2 miliar dalam sepekan terakhir.
Institusi Balik Kanan dan Kegagalan Narasi Safe Haven
Kejatuhan pasar kali ini menyoroti perubahan fundamental yang signifikan, yakni eksodus investor institusional. Laporan terbaru dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa permintaan institusi telah berbalik arah secara material.
ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat, yang pada tahun lalu menjadi motor penggerak harga dengan pembelian masif, kini tercatat sebagai penjual bersih (net sellers) di awal tahun 2026.
Maja Vujinovic, CEO FG Nexus, menegaskan bahwa Bitcoin tidak lagi diperdagangkan berdasarkan sensasi atau hype, melainkan murni bergantung pada likuiditas dan arus modal yang kini sedang mengering.
Selain itu, salah satu pukulan terberat bagi sentimen investor adalah terbuktinya kegagalan Bitcoin sebagai "Emas Digital". Di tengah gejolak makroekonomi global yang terjadi di Venezuela, Timur Tengah, dan Eropa, Bitcoin justru bergerak searah dengan aset berisiko seperti saham teknologi, bukannya berfungsi sebagai lindung nilai.
Data pasar menunjukkan divergensi yang ekstrim yaitu Bitcoin turun hampir 40% dalam satu tahun terakhir, sementara Emas Berjangka justru melonjak 61% pada periode yang sama. Fakta ini meruntuhkan argumen investasi utama Bitcoin dan mendorong investor global untuk kembali ke emas fisik sebagai safe haven yang sesungguhnya.
Ritel Beralih ke Judi Bola dan Opsi Saham
Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, mencatat bahwa selain institusi, investor ritel tradisional juga mulai kehilangan minat pada pasar kripto spot. Pesimisme yang meningkat membuat likuiditas ritel beralih ke instrumen spekulasi lain yang dianggap menawarkan keuntungan lebih cepat atau hiburan lebih nyata.
Menjelang perhelatan Super Bowl, volume transaksi di pasar taruhan olahraga melonjak drastis, menyedot dana yang biasanya mengalir ke bursa kripto.
Selain itu, fenomena pergeseran minat juga terlihat pada maraknya perdagangan di prediction markets dan opsi saham harian (0DTE).
Ritel kini lebih memilih mengejar volatilitas jangka pendek di pasar ekuitas atau bertaruh pada peristiwa dunia nyata daripada menunggu pemulihan harga Bitcoin yang tak kunjung tiba. Deutsche Bank menilai bahwa penjualan stabil ini merupakan sinyal bahwa investor mulai meninggalkan kripto sebagai kelas aset spekulatif utama mereka.
Outlook: Waspada Level Kritis $60.000
Secara teknikal, kerusakan pada struktur harga Bitcoin dinilai sangat signifikan. Untuk pertama kalinya sejak Maret 2022, harga Bitcoin menembus ke bawah rata-rata pergerakan 365 hari (365-day Moving Average), sebuah sinyal bearish jangka panjang.
Dengan harga pasar yang sudah berada di area $64.000-an, posisi Bitcoin menjadi sangat rapuh, walaupun hal ini masih sejalan dengan momentum play 4 year cycle dari Bitcoin itu sendiri hingga berpotensi pivot pada Q3 ataupun Q4 2026 mendatang.
Namun dengan penurunan yang sudah cukup drastis terdapat potensial untuk melakukan revisit di level 58.000 - 62.000 dengan asumsi rebound sehingga berpotensi untuk reclaim ke level 69.500 - 72.500 di Q2 kemudian melanjutkan potensi penurunan ke support yang lebih dalam selanjutnya di Q3 hingga Q4 2026, sampai akhirnya mampu melanjutkan rally kenaikan cycle yang baru.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)




