Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai US$154,6 miliar atau setara Rp2.596,66 triliun (kurs JISDOR 30 Januari 2026 di level Rp16.796 per dolar AS) pada akhir Januari 2025. Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar US$156,5 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.
"Posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2026 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas Denny dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
BI, sambungnya, menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank sentral turut meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga dengan cadangan devisa tersebut.
"Sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," lanjut Denny.
Dia menyatakan BI terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga
- BI Targetkan Cadangan Devisa di Atas US$156,5 Miliar Usai Stagnan pada 2025
- Cadangan Devisa RI Tambah Rp107 Triliun dalam Sebulan, Ini Pemicunya
- BI: Cadangan Devisa Naik ke US$156,5 Miliar per Akhir Desember 2025
Sebagai informasi, perkembangan akhir Januari 2026 ini memutus tren kenaikan cadangan devisa yang dimulai pada Oktober 2025.
Pasar keuangan Indonesia memang mengalami gejolak pada Januari lalu. Misalnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia mengumumkan pembekuan sementara terhadap penambahan emiten baru dan perubahan bobot pada kumpulan saham terpilih dari indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Rabu (28/1/2026).
Akibatnya, investor asing ramai-ramai menjual sahamnya. Merujuk data statistik mingguan BEI, investor asing pada pekan terakhir Januari 2026 membukukan jual bersih (net sell) Rp13,92 triliun atau setara dengan US$830,86 juta, jauh lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya dengan net sell Rp3,25 triliun (US$191,69 juta).
Sebelumnya, rupiah juga terus mengalami tekanan. Sepanjang pekan ketiga Januari, kurs rupiah terus bergerak naik-turun mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah juga dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing (valas) korporasi domestik, termasuk dari BUMN raksasa seperti Pertamina dan PLN.
Kombinasi sentimen domestik dan gejolak global seperti eskalasi geopolitik, kebijakan tarif AS, hingga tingginya imbal hasil US Treasury juga memicu arus modal keluar yang signifikan.
BI memastikan telah dan akan terus melakukan intervensi pasar dalam skala besar. Perry menyebut cadev Indonesia lebih dari cukup untuk membiayai langkah stabilisasi tersebut.
Perry pun menyatakan bank sentral telah meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui strategi intervensi di pasar keuangan, termasuk menggunakan cadangan devisa demi menstabilkan nilai tukar rupiah.
"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di pasar luar negeri maupun di dalam negeri. Kami tidak segan-segan menggunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi," kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG Januari, Rabu (21/1/2026).



