Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam milik Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencatat capaian signifikan dengan berhasil mendeteksi dan menyaring lebih dari 2 miliar panggilan, pesan, serta tautan yang terindikasi sebagai spam dan penipuan dalam enam bulan terakhir sejak pertama kali fitur ini diluncurkan.
Fitur berbasis kecerdasan artifisial (AI) dan dikembangkan bersama mitra teknologi strategis Tanla melalui platform Wisely AI ini bekerja secara proaktif di jaringan Indosat. Tujuannya untuk melindungi seluruh pelanggan dari potensi ancaman digital sebelum berdampak langsung.
Fakta itu diungkap oleh President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, dalam acara “Media Update Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam” yang digelar di Kantor Pusat Indosat MX Center, Jakarta Pusat, Jumat (6/2).
Data internal Indosat menunjukkan, modus penipuan yang paling banyak ditemukan berasal dari OTP palsu, phishing, hingga undian fiktif, dengan kanal utama melalui SMS dan panggilan suara. Intensitas ancaman bahkan cenderung meningkat pada momen-momen tertentu, seperti menjelang hari raya, musim belanja daring, hingga masa pencairan bantuan sosial.
Tak hanya berfungsi sebagai sistem pemblokiran otomatis, fitur Anti-Scam dan Anti-Spam ini juga mendorong partisipasi aktif pelanggan. Sejak diperkenalkan, ada lebih dari 2,5 juta pengguna telah mengaktifkan aplikasi pendukung untuk meningkatkan pengalaman perlindungan. Dari sana, tercatat lebih dari 124 ribu nomor berhasil diidentifikasi dan dilaporkan sebagai pelaku penipuan.
Dampaknya tak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga sosial dan ekonomi. Sistem perlindungan ini membantu pelanggan terhindar dari risiko kehilangan dana, gangguan operasional usaha, hingga penyalahgunaan data pribadi.
Vikram mengatakan, manfaat ini juga terasa signifikan terutama bagi pelaku UMKM, lansia, serta pelanggan di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Secara keseluruhan, fitur ini diperkirakan mampu mencegah potensi kerugian finansial hingga 500 juta dolar AS. Vikram, menyebut bahwa penguatan fitur ini lahir dari kebutuhan nyata pelanggan.
“Kami melihat ponsel telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi seperti Tanla, kami menghadirkan perlindungan yang lebih proaktif dan adaptif. Teknologi AI di jaringan kami membantu menyaring ancaman sebelum berdampak pada pelanggan,” jelas Vikram.
Di sisi lain, Tanla yang merupakan mitra Indosat berperan dalam pengembangan sistem deteksi berbasis AI yang mampu beradaptasi dengan pola kejahatan digital yang terus berubah. Sistem ini diklaim memiliki tingkat akurasi hingga 99 persen dan terus disempurnakan melalui pembelajaran data berkelanjutan.
DR, RS Sharma, Independent Director Tanla Platforms, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kolaborasi dengan Indosat dan pemerintah Indonesia mencerminkan komitmen kami untuk menghadirkan inovasi yang relevan bagi industri dan masyarakat. Melalui wisely.ai, kami membantu melindungi masyarakat Indonesia sekaligus mendorong adaptasi digital di seluruh negeri,” kata RS Sharma.
Sementara Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, menilai langkah Indosat sebagai contoh nyata pemanfaatan AI yang tepat guna.
“Kami mengapresiasi upaya yang dilakukan Indosat dalam memerangi scam dan spam di Indonesia. Ini menjadi contoh konkret bagaimana AI bisa digunakan untuk perlindungan konsumen. Kami mendorong pelaku industri lain untuk mengimplementasikan hal serupa demi terciptanya ekosistem digital yang lebih aman,” ujar Nezar.
Di tengah meningkatnya ancaman penipuan digital, langkah Indosat memperkuat perlindungan berbasis AI menjadi gambaran bagaimana teknologi jaringan tak hanya soal kecepatan dan konektivitas, tetapi juga tentang menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi penggunanya.



