Terik matahari siang hingga sore tak pernah benar-benar menjadi penghalang bagi Yadi (13) dan adiknya, Siska (7). Setiap hari, dua bocah asal Kampung Bojong, Bandung Barat, itu menyusuri jalanan untuk memulung botol bekas.
Langkah kecil mereka kerap membawa mereka jauh dari rumah, bahkan hingga wilayah Padalarang.
Dengan karung sederhana di tangan, Yadi dan Siska mulai mencari botol plastik sejak siang hari. Mereka berjalan kaki menyusuri trotoar, selokan, pinggir jalan raya, hingga rumah makan.
Aktivitas itu biasanya berakhir sekitar pukul 16.00 WIB. Dari hasil memulung seharian, botol-botol bekas tersebut dijual ke pengepul dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp20 ribu.
“Botolnya dijual ke pengepul. Biasanya dapat dua puluh ribuan,” kata Yadi lirih.
Di usia yang seharusnya dipenuhi aktivitas belajar dan bermain, Yadi justru harus mengubur keinginannya untuk bersekolah. Ia mengaku berhenti sekolah demi membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kedua orang tuanya juga bekerja sebagai pemulung.
“Enggak sekolah buat bantu orang tua cari uang,” ujar Yadi. Padahal, jika mengikuti jenjang pendidikan semestinya, ia kini sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Nasib serupa dialami sang adik, Siska. Bocah perempuan berusia tujuh tahun itu juga tidak mengenyam pendidikan formal. Seharusnya, Siska sudah memasuki bangku Taman Kanak-Kanak (TK).
Namun realitas hidup memaksanya ikut turun ke jalan, menemani sang kakak memulung botol bekas demi membantu perekonomian keluarga.
Meski harus menjalani kehidupan keras di usia dini, secercah kebaikan masih mereka rasakan. Seusai memulung, Yadi dan Siska terkadang pulang dengan menumpang angkutan kota.
Tak jarang pula, para pedagang atau penjual di sekitar lokasi mereka mencari botol memberikan makanan dan minuman.
“Sering dikasih makan dan minum sama tukang jualan,” tuturnya.
Kisah Yadi dan Siska menjadi potret nyata masih adanya anak-anak yang terpaksa bekerja demi membantu keluarga.
Di balik tumpukan botol bekas yang mereka kumpulkan setiap hari, tersimpan harapan sederhana: bisa kembali mengenyam pendidikan dan menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak seusia mereka.



