Misteri Jeffrey Epstein — pemodal (financier) AS keturunan Yahudi yang dekat dengan elite global— kembali memasuki babak baru. Jutaan halaman dokumen yang dirilis Kementerian Kehakiman AS (DOJ) mengungkap klaim mengejutkan.
Seorang informan rahasia FBI dengan istilah Confidential Human Source atau CHS menyatakan keyakinannya bahwa Epstein bukan sekadar pemodal biasa. Ia menyebut Epstein adalah seorang mata-mata Israel.
Dalam dokumen yang dikeluarkan DOJ tertulis bahwa sang informan ingat saat pengacara Epstein, Alan Dershowitz, bicara kepada Jaksa AS Alex Acosta. Dershowitz menyebut Epstein adalah bagian dari dinas intelijen AS dan negara sekutunya.
"Informan tersebut membagikan isi panggilan telepon antara Dershowitz dan Epstein yang sempat ia catat. Setelah telepon itu berakhir, Mossad kemudian akan menghubungi Dershowitz untuk meminta laporan (debriefing). Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya," tulis dokumen tersebut, dikutip dari Anadolu, Jumat (6/2).
Dokumen itu mencatat bahwa Ehud Barak 'percaya Netanyahu adalah seorang kriminal'. Disebutkan pula bahwa sang informan "menjadi yakin bahwa Epstein adalah agen Mossad yang direkrut" di tengah persaingan regional yang melibatkan Israel.
Dokumen tersebut memiliki catatan tambahan untuk "melihat laporan sebelumnya", tapi tidak jelas apa yang dimaksud dengan rujukan tersebut.
Sumber itu lebih lanjut memberi tahu FBI bahwa Dershowitz pernah berkata kepada mereka: "jika saya muda kembali, saya akan memegang stun gun (pistol setrum) sebagai agen Intelijen Israel (Mossad)".
"Informan (CHS) percaya bahwa Dershowitz telah direkrut oleh Mossad dan mendukung misi mereka," tulis dokumen tersebut.
Public Figure di Dokumen EpsteinKumpulan dokumen terbaru terkait Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman (DOJ) minggu lalu menyebutkan beberapa tokoh profil tinggi, termasuk Dershowitz dan anggota elite politik serta keuangan lainnya.
Epstein tewas di sel penjara New York pada 2019 sebelum sempat disidang. Walau laporan resmi menyebutnya bunuh diri, banyak pihak tetap meyakini predator seks ini sengaja dihabisi agar tak membongkar nama-nama besar yang menjadi kliennya.
Pada 2008, Epstein mengaku bersalah di pengadilan Florida dan divonis 13 bulan penjara karena membujuk anak di bawah umur untuk prostitusi.
Namun, para kritikus menyebut hukuman yang relatif ringan tersebut—yang disetujui oleh jaksa Acosta—sebagai sebuah "kesepakatan istimewa" (sweetheart deal).
Para korbannya menuduh bahwa ia mengoperasikan jaringan perdagangan seks luas yang dimanfaatkan oleh para elite kaya dan tokoh politik.





