Hidup Berpindah di Balik Gemerlap Pasar Malam

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Dari balik gemerlap lampu dan musik riuh pasar malam, Lintang (20), menjalani pagi-paginya di ruang sempit yang hanya dibatasi tirai bergambar kartun. Ruang itu berada di balik wahana komidi putar yang berdiri di sekitar Alun-alun Kota Semarang, Jawa Tengah.

Di sanalah ia bersolek seadanya, mengoleskan bedak tipis dan gincu merah muda, sebelum hari kembali bergerak seperti biasa.

Gadis asal Boyolali, Jawa Tengah, itu tak sendirian. Di sebelahnya, Alia (20), sesekali menunduk menatap layar telepon seluler. Keduanya adalah bagian dari rombongan wahana keliling Diana Ria, kelompok pekerja pasar malam yang hidup berpindah-pindah, mengikuti jadwal hiburan rakyat dari satu kota ke kota lain.

Tempat tinggal mereka bukan rumah, melainkan bilik darurat yang dibangun di sela-sela besi dan papan wahana permainan. “Sudah setahun ikut keliling,” kata Lintang pelan.

Waktu pulang ke rumah hanya sebentar, beberapa hari saja, sebelum kembali berangkat untuk perjalanan berikutnya yang bisa berlangsung berbulan-bulan. 

Pada setiap kota yang disinggahi mereka menetap sekitar sebulan, menunggu pasar malam rampung digelar. Ramai sepi pengunjung menentukan banyak hal, termasuk jumlah upah yang dibawa pulang.

Siang itu, Jumat (6/2/2026), para pekerja sibuk menyiapkan wahana. Tiang-tiang baja kora-kora ditegakkan, satu per satu, seperti rangka yang menunggu dihidupkan oleh teriakan pengunjung.

Berada di sudut lain tampak pekerja mulai merakit rumah hantu. Bangunan menyerupai kastil dengan lukisan-lukisan seram yang kelak memancing rasa takut sekaligus tawa. Bagi pengunjung, wahana-wahana tersebut adalah hiburan. Sedangkan bagi para pekerja, wahana ini adalah tempat menggantungkan hidup.

Pasar malam keliling semacam ini telah lama menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Sejumlah catatan sejarah menyinggung pasar malam Sekaten di Keraton Yogyakarta dan Surakarta sebagai yang terbesar dan berlangsung rutin sejak lama. Dari tradisi itulah, denyut hiburan rakyat terus bergerak, menjangkau kota-kota kecil hingga lapangan-lapangan alun-alun.

Di Semarang, rombongan Diana Ria hadir menjelang tradisi Dugderan, penanda datangnya bulan Ramadhan. Lampu-lampu warna-warni akan segera dinyalakan, musik diputar, dan pengunjung berdatangan. Dari balik semua itu, Lintang dan kawan-kawan kembali bersiap menjalani hari, di antara besi wahana dan perjalanan yang nyaris tak pernah benar-benar usai.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Klarifikasi Untar soal Insiden Adik Keisya Levronka Jatuh dari Lantai 6
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Cadangan Devisa Turun, Dipakai Jaga Rupiah dan Bayar Utang Pemerintah
• 9 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Getaran Gempa M 6,4 di Pacitan Terasa hingga Surabaya
• 18 jam laludetik.com
thumb
Timnas Futsal Melaju ke Final Piala Asia 2026, Bahlil Lahadalia: Ah Paten Itu!
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Kemenkes Bangun 66 RS Tipe C di Daerah Terpencil, Apa Saja Fasilitas Canggihnya?
• 10 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.