EtIndonesia. Situasi keamanan dan politik di Iran kembali memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Rentetan peristiwa berdarah di dalam negeri, peringatan keras dari Teheran, serta manuver militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya, kini saling bertaut dalam satu krisis yang berpotensi meluas ke tingkat regional.
Penindasan Demonstrasi di Ardabil
Pada 4 Februari 2026, di Kota Ardabil, Iran barat laut, sejumlah kendaraan lapis baja Garda Revolusi Iran (IRGC) menerobos kerumunan massa yang tengah menggelar aksi protes. Menurut laporan warga setempat yang beredar luas di media sosial, kendaraan tersebut bahkan melindas para demonstran, memicu korban jiwa dalam jumlah signifikan.
Usai insiden itu, seruan darurat bermunculan dari dalam Iran. Pesan singkat bertuliskan “Tolong bantu kami” menyebar cepat, mencerminkan kepanikan sekaligus keputusasaan publik menghadapi eskalasi kekerasan aparat.
Perintah Eksekusi dan Penyanderaan
Sehari berselang, 5 Februari, warga Iran kembali melaporkan kabar mengejutkan: Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut telah memerintahkan eksekusi terhadap 15 orang, serta menyandera kembali 15 awak kapal patroli. Informasi ini belum dikonfirmasi secara independen, namun menambah ketegangan dan ketakutan di tengah masyarakat.
Peringatan Keras dari Donald Trump
Dalam wawancara dengan NBC yang disiarkan 5 Februari, Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat menemukan indikasi Iran sedang mempertimbangkan pembangunan fasilitas nuklir baru di lokasi lain. Trump menegaskan, bila langkah tersebut benar-benar diambil, AS tidak akan tinggal diam.
Dia bahkan menyebut bahwa Khamenei “seharusnya sangat khawatir saat ini”, sebuah pernyataan yang ditafsirkan luas sebagai sinyal ancaman serius.
Manuver Militer AS dan Respons Iran
Pada saat yang hampir bersamaan, Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis video yang memperlihatkan kapal induk USS Abraham Lincoln (USS Abraham Lincoln) sedang bergerak mendekati kawasan perairan sekitar Iran.
Di sisi lain, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Mousavi, muncul dari sebuah pangkalan rudal bawah tanah IRGC dan menyampaikan pernyataan keras. Dia menegaskan bahwa seluruh arsenal rudal balistik Iran telah dimodernisasi—mulai dari akurasi, jangkauan, kecepatan, daya hancur, hingga kemampuan siluman dan sistem pemandu.
Menurut Mousavi, daya gentar Iran kini berada pada tingkat maksimum, dan Teheran siap melancarkan pembalasan yang menghancurkan bila diserang.
Perundingan Nuklir Kembali ke Meja
Di tengah eskalasi ini, jalur diplomasi sempat hampir runtuh. Namun menurut dua pejabat AS, pada sore 4 Februari, sejumlah pemimpin Timur Tengah melakukan lobi darurat agar pemerintahan Trump tidak menarik diri dari perundingan. Hasilnya, perundingan nuklir AS–Iran yang semula terancam batal kembali dimasukkan ke agenda, dengan jadwal sementara pada Jumat ini.
Pada Kamis, dalam Acara Doa Nasional, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran sedang berunding, dan menurutnya Iran tidak ingin diserang. Dia juga menegaskan bahwa armada militer AS dalam jumlah besar sedang menuju kawasan tersebut.
Kritik Keras dari Publik Iran
Namun, di dalam negeri Iran, wacana perundingan justru menuai kecaman. Sejumlah warga menulis di media sosial: “Bagaimana mungkin berunding dengan pihak seperti ini? Mereka tidak pernah menepati janji. Di masa depan, kalian akan dikritik karena ikut perundingan semacam ini. Berunding dengan kaum ekstremis tidak ada gunanya.”
Sentimen ini memperlihatkan ketidakpercayaan mendalam publik terhadap proses diplomasi, baik terhadap AS maupun elite Iran sendiri.
Kekhawatiran Regional dan Upaya Mediasi
Konfrontasi yang meningkat cepat ini memicu kekhawatiran luas di Timur Tengah, karena banyak pihak menilai Trump bisa saja memilih opsi militer. Sebelumnya, sedikitnya sembilan negara kawasan telah mengajukan permohonan langsung ke Gedung Putih agar pertemuan nuklir tidak dibatalkan.
Turki, Mesir, dan Qatar bahkan mengusulkan kerangka mediasi:
- Iran menghentikan pengayaan uranium selama tiga tahun,
- mempertahankan tingkat pengayaan di bawah 1,5%,
- serta memindahkan stok uranium ke negara ketiga.
Tekanan dari Eropa dan Sikap AS
Di Eropa, Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyatakan bahwa Berlin berkoordinasi erat dengan Washington, dan menegaskan Iran harus menghentikan program nuklirnya serta menghindari ancaman militer terhadap Israel dan negara-negara kawasan.
Sementara itu, pada Rabu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menegaskan bahwa agar perundingan bermakna, pembahasan harus mencakup rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok ekstrem, program nuklir, serta perlakuan rezim terhadap rakyatnya sendiri.
Posisi Iran dan Peran Tiongkok
Menurut Reuters, sumber Iran menyebutkan bahwa tuntutan AS untuk membatasi program rudal balistik dianggap sebagai hambatan terbesar dalam perundingan. Namun seorang pejabat Iran juga mengakui bahwa Teheran bersedia menunjukkan fleksibilitas dalam isu pengayaan uranium.
Isu Iran turut dibahas dalam pembicaraan telepon antara Trump dan Xi Jinping pada awal Februari. Pemerintah AS kini mendorong Beijing dan negara lain untuk semakin mengisolasi Teheran.
Data World Trade Organization mencatat, hingga 2024, nilai perdagangan internasional Iran mendekati 125 miliar dolar AS, termasuk sekitar 32 miliar dolar AS dengan Tiongkok, mitra dagang terbesarnya. Pada Januari 2026, AS mengumumkan tarif 25% bagi negara-negara yang masih berdagang dengan Iran.
Analisis Militer: Risiko Perang Singkat tapi Intens
Sejumlah analis militer menilai bahwa kehadiran kapal perang Tiongkok di sekitar Iran membuat AS cenderung menempatkan USS Abraham Lincoln di Teluk Oman atau Laut Arab, lebih dekat ke India, demi meningkatkan keamanan. Posisi ini dinilai mempersempit sudut serang Iran dan memerlukan tiga hingga empat lapis sistem pertahanan, termasuk menghadapi ancaman kelompok Houthi.
Kolonel Purnawirawan Angkatan Darat AS, Douglas Macgregor, menganalisis bahwa dalam beberapa pekan terakhir Tiongkok memasok Iran dengan senjata, amunisi, dan citra satelit, sementara Rusia membantu integrasi sistem pertahanan udara. Akibatnya, Iran tidak lagi mudah diserang secara mendadak.
Macgregor juga menyebut kemungkinan keterlibatan rudal buatan Tiongkok, seperti DF-21 atau DF-23, yang dirancang untuk menargetkan sasaran maritim. Menurut perhitungannya, bila perang pecah, konflik kemungkinan berlangsung 10 hari hingga dua minggu, karena cadangan rudal AS akan mendekati batas—terutama jika Tiongkok dan Rusia ikut campur. Meski demikian, ia menilai senjata nuklir tidak akan digunakan.
Kesimpulan
Rentetan peristiwa sejak 4 Februari 2026 memperlihatkan bahwa krisis Iran kini bergerak cepat dari penindasan internal menuju konfrontasi internasional. Di satu sisi, diplomasi masih berusaha bertahan; di sisi lain, opsi militer semakin nyata. Timur Tengah pun kembali berada di persimpangan paling berbahaya, dengan konsekuensi yang bisa meluas jauh melampaui kawasan.




