Grid.ID - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) yang baru. Pelantikan tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Bagi yang penasaran dengan sosoknya, inilah profil Juda Agung, Wamenkeu yang baru.
Penunjukan ini sekaligus menandai pergantian posisi dari Thomas Djiwandono. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3/M Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih Masa Jabatan 2024–2029.
Kehadiran Juda Agung di Kementerian Keuangan diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Publik pun mulai menaruh perhatian pada profil Juda Agung sebagai wamenkeu baru berlatar belakang bank sentral.
Profil Juda Agung
Juda Agung lahir di Pontianak pada 6 Agustus 1964. Ia memiliki fondasi akademik yang kuat di bidang ekonomi. Dikutip dari Kompas.com, ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI).
Setelah menyelesaikan pendidikan di dalam negeri, Juda Agung melanjutkan studi ke Inggris. Ia meraih gelar Master of Science (M.Sc.) in Economics serta Doctor of Philosophy (Ph.D.) in Economics dari University of Warwick.
Setelah itu, mengutip laporan Tribunnews, Juda Agung dikenal sebagai teknokrat moneter yang telah lama berkiprah di lingkungan Bank Indonesia (BI). Kiprahnya di Bank Indonesia dimulai dari level ekonom.
Ia kemudian menapaki berbagai jabatan strategis di internal BI. Dikutip dari Tribun Video, Jumat (6/2/2026), Juda Agung pernah menjadi Staf Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter.
Berkat pengalaman dan keahliannya, ia dipercaya menjadi Analis Senior di Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. Tak berhenti di situ, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Grup Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter sebelum akhirnya menduduki posisi puncak sebagai Deputi Gubernur BI periode 2022–2027.
Sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, ia menangani berbagai isu strategis, mulai dari stabilitas sistem keuangan, kebijakan makroprudensial, hingga penguatan transmisi kebijakan moneter. Juda Agung terlibat dalam berbagai kebijakan strategis.
Salah satunya terkait pencatatan devisa dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). Pada 2023, devisa PMI tercatat mencapai USD 14,2 miliar atau setara Rp 230,6 triliun. Kebijakan tersebut berkontribusi terhadap penguatan cadangan devisa dan stabilitas eksternal Indonesia.
Kini, pria berusia 61 tahun itu dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pengalaman panjang dan kematangan usia dinilai menjadi modal penting dalam mengemban jabatan strategis di pemerintahan.
Pandangan Ekonomi
Dalam berbagai kesempatan, Juda Agung kerap menekankan pentingnya menjaga stabilitas sektor keuangan. Ia juga dikenal vokal mengenai pentingnya penguatan transmisi kebijakan moneter agar kebijakan bank sentral dapat berdampak optimal ke sektor riil. Selain itu, ia sering menyoroti perlunya mitigasi risiko global yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.
Pandangan ekonomi yang tercermin dalam profil Juda Agung dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi Kementerian Keuangan saat ini. Tekanan nilai tukar rupiah, dinamika pasar keuangan global, serta meningkatnya biaya operasional di berbagai sektor menuntut sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter. Dalam konteks ini, peran Juda Agung sebagai wamenkeu baru menjadi strategis, terutama dalam menjembatani koordinasi dengan Bank Indonesia.
Dengan latar belakang moneter yang kuat serta pengalaman panjang menjaga stabilitas keuangan, profil Juda Agung menempatkannya sebagai figur yang diharapkan mampu memperkuat kinerja Kementerian Keuangan. (*)
Artikel Asli



