Menakar Peluang Rebound Yield SUN Usai Dihempas Pengumuman Moody's

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai peluang membaiknya yield SUN bertenor 10 tahun masih terbuka, terutama di tengah revisi outlook Indonesia menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody's Ratings.

Meskipun begitu, secara jangka pendek, Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto menilai yield SUN masih akan mengalami tekanan akibat outlook baru tersebut. Hal itu tampak dari kinerja yield SUN bertenor 10 tahun yang kembali melemah pada perdagangan hari ini. Pada perdagangan Kamis (5/2/2026) misalnya, yield masih bertengger di level 6,31% dan kini telah melemah ke level 6,33%.

“Meskipun Konsensus Bloomberg per Januari 2026 mengindikasikan ekspektasi rata-rata yield 10 tahun di kisaran 6,17% pada kuartal pertama dan 6,13% pada kuartal kedua, realitas pasar pasca-pengumuman revisi prospek menjadi negatif telah mendorong yield melampaui proyeksi tersebut,” katanya kepada Bisnis, Jumat (6/2/2026).

Angka yield yang kian melemah pada Februari ini dinilai sebagai konfirmasi bahwa para pelaku pasar tengah melakukan penyesuaian harga terhadap profil risiko terbaru dalam berinvestasi di Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan proyeksi nilai tukar rupiah yang diprediksi tetap melemah di level Rp16.725–Rp16.750 per dolar AS pada 6 bulan pertama 2026.

Baca Juga : Pefindo soal Outlook Moody's: Pemerintah Perlu Kembalikan Kepercayaan Pasar

Suhindarto menilai bahwa revisi outlook Indonesia merupakan risiko jangka pendek, dengan harapan lembaga pemeringkat internasional lain memberikan penilaian stabil terhadap kondisi pasar Tanah Air.

Hanya saja, peluang kembali menguatnya yield SUN akan sangat bergantung pada siklus pelonggaran moneter dan upaya disiplin fiskal yang diterapkan pemerintah. Hal itu penting untuk meningkatkan kepercayaan investor dalam melakukan investasi di Tanah Air.

“Potensi penurunan yield di masa depan akan sangat bergantung pada kelanjutan siklus pelonggaran moneter, serta kemampuan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan pendapatan guna mengimbangi ekspansi pengeluaran fiskal. Jika disiplin fiskal tetap terjaga dan ketidakpastian kebijakan mereda, terdapat peluang bagi yield untuk kembali melandai dalam beberapa waktu ke depan seiring dengan stabilisasi persepsi risiko investor,” katanya.

Suhindarto menegaskan bahwa prospek pasar surat utang negara (SUN) Indonesia ke depan, sebetulnya masih ditopang oleh fundamental ekonomi yang solid. Revisi outlook ini hanya tampak sebagai periode transisi krusial bagi pemerintah untuk membuktikan konsistensi dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal.

Hanya saja, risiko tetap membayangi pasar SUN, terutama jika arah kebijakan fiskal kian ekspansif tanpa reformasi pendapatan yang memadai atau terjadi pelemahan signifikan pada posisi eksternal Indonesia.

“Arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi mendatang, serta langkah konkret otoritas dalam menangani kekhawatiran para pelaku pasar global,” tegasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cara Membuat Donat Kampung Anti Gagal, Empuk dan Mengembang Sempurna
• 9 jam laluintipseleb.com
thumb
Hampir 1 Juta Pelanggan Kereta Jarak Jauh Manfaatkan Face Recognition
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Awal Mula Kasus Ibu Kandung di Jakbar Jual Anaknya ke Pedalaman Sumatra
• 2 jam laludetik.com
thumb
Britney Spears Ungkap Perlaukuan Mengerikan Keluarganya: Saya Beruntung Masih Hidup
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
FSP BUMN Bersatu Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Perusahaan Pelat Merah dari Korupsi
• 10 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.