2 Sekolah di NTT Kini Punya Air Bersih, Inisiasi Plan Indonesia dan Zap Clinic

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Air bersih merupakan kebutuhan primer paling dasar untuk menjalani kehidupan. Namun, bagi penduduk di berbagai desa di Nusa Tenggara Timur, air justru menjadi privilese yang tak bisa dinikmati dengan mudah. Sulitnya akses air, termasuk di sekolah-sekolah, mempersulit keberlangsungan hidup mereka.

kumparanWOMAN berkesempatan untuk berkunjung langsung ke SDN Cekok di Desa Wae Codi, Kabupaten Manggarai, NTT. Pantauan kami, kondisi toilet yang memprihatinkan dan tanpa akses air memadai menjadi tantangan bagi anak-anak sekolah.

Guru kelas 2 SDN Cekok, Eva, bercerita, untuk memenuhi kebutuhan air di sekolah, anak-anak harus membawa jerigen air untuk nantinya dipakai bersama di toilet.

“Akses air selama sebelum adanya bantuan Plan Indonesia ini sangat sulit sekali. Biasanya anak-anak membawa air pakai jerigen, itu sebelum adanya air bersih masuk ke sekolah. Kita bikin mereka piket saja, misalnya di hari Senin, yang bawa anak-anak kelas 6, bergilir saja,” jelasnya.

Selain akses air yang terbatas, bangunan SDN Cekok juga mengalami kerusakan berat. Ruang kelas 3 dan 4 di sekolah ini, berlokasi tanah yang curam, dipenuhi lumpur akibat hujan deras.

Plafon ruangan yang rusak dan bolong bisa sewaktu-waktu roboh. Ruang kelas ini sudah rusak sejak tiga tahun lalu, sehingga tidak bisa digunakan. Proses pembelajaran pun terpaksa diungsikan ke ruang kelas lain.

Kondisi yang hampir serupa juga terjadi di SDN Golomondo, Desa Latung, Kabupaten Manggarai. Di sekolah ini, kelas dan meja belajar mengalami kerusakan cukup parah.

Terbatasnya akses air dan kondisi toilet yang rusak berat menghambat kenyamanan anak-anak serta staf sekolah dalam menjalani proses belajar mengajar.

Tantangan anak-anak sekolah semakin pelik akibat kondisi jalan di area sekolah yang berlubang, penuh batu, curam, dan licin.

Jika hujan deras, jam sekolah harus ditunda sampai hujan reda karena akses menuju sekolah terhambat. Alhasil, proses belajar anak-anak pun ikut terganggu.

Kebutuhan dasar kehidupan yang tidak terpenuhi pada akhirnya bercabang dan memicu berbagai permasalahan hidup lainnya, mulai dari kemiskinan, kekerasan, gangguan kesehatan, sampai perkawinan anak.

Uluran tangan untuk Wae Codi dan Latung

Inilah yang menjadi dorongan bagi yayasan Plan Indonesia—organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial untuk anak dan anak muda—untuk menyalurkan bantuan di SDN Cekok dan SDN Golomondo.

“Masih ada daerah yang belum bisa mendapatkan akses air, masih jauh, jadi harus kita dekatkan. Termasuk juga ke sekolah-sekolah ini. Padahal, anak-anak harus menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah, terutama anak perempuan yang sudah masuk ke masa menstruasi. Oleh sebab itu, akses air bersifat penting sekali untuk memastikan kesehatan menstruasi mereka,” jelas Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, kepada kumparanWOMAN, pada Selasa (3/2).

Bantuan ini diberikan atas kerja sama dengan ZAP Clinic sebagai kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) mereka.

Plan Indonesia bersama ZAP Clinic hadir dengan bantuan berupa pembangunan dan perbaikan fasilitas sekolah serta penyediaan akses air bersih di SDN Wae Codi dan SDN Golomondo.

Direktur Operasional ZAP Clinic, Syarif Assegaf, menegaskan bahwa lingkungan belajar yang aman dan sehat akan mendukung kualitas tumbuh kembang anak di sekolah.

”Melalui kegiatan CSR ini, kami berkomitmen berkontribusi tidak hanya melalui dukungan renovasi fasilitas pendidikan, tetapi juga lewat edukasi kesehatan dan sanitasi yang berdampak jangka panjang, sebagai bagian dari upaya bersama menciptakan generasi cerdas Indonesia," papar Syarif saat memberikan sambutan di SDN Cekok pada Rabu (4/2).

"Saya melihat keadaan di sini, saya cukup terharu dengan keadaan ini. Dengan adanya bantuan di sekolah ini, mudah-mudahan akan semakin maju lagi, khususnya di daerah ini,” lanjutnya.

Kegiatan sosial ini juga dilakukan dengan menggandeng sejumlah selebriti di bawah naungan Lee Management. Wulan Guritno, Shaloom Razade, Joe Taslim, Kenes Andari, Winky Wiryawan, Gerin Nathaniel, dan Ida Rhijnsburger hadir di Desa Wae Codi dan Desa Latung dan ikut berpartisipasi dalam program.

Managing Director Lee Management, Bucie Lee, menjelaskan bahwa kerja sama ini lahir usai dia dan Joe Taslim mengunjungi salah satu daerah di NTT dengan akses air yang buruk.

Tersentuh dengan realita berat dan memilukan, Bucie pun mengajak para selebriti di bawah naungan manajemennya untuk ikut menyalurkan bantuan di NTT.

Bucie mengatakan, mereka sangat antusias untuk bisa terjun langsung dan berinteraksi dengan anak-anak di SDN Cekok dan SDN Golomondo.

“Karena sudah ada pengalaman Joe (pernah berkunjung ke NTT) dan saya juga menceritakan pengalaman saya, mereka pun jadi semangat untuk berangkat mengikuti kegiatan voluntrip ini,” kata Bucie saat diwawancarai.

Selain berinteraksi langsung dengan warga dan anak-anak sekolah, para selebriti juga melakukan kegiatan-kegiatan relawan, seperti membantu membawa selang air bersih ke bangunan toilet sekolah hingga mengecat dinding ruang kelas dan meja belajar.

Tentunya, menyaksikan langsung keadaan di Desa Wae Codi dan Desa Latung merupakan pengalaman berharga bagi aktris Shaloom Razade.

Meski perasaannya berkecamuk, ia juga merasa senang dapat memberikan bantuan kepada anak-anak dan warga yang membutuhkan.

“Ada rasa bersyukur karena kita lebih privileged dan bagaimana kita bisa membantu mereka yang kurang beruntung untuk bisa mendapatkan fasilitas sekolah yang lebih baik lagi. Aku berharap, semoga fasilitas di sekolah itu membaik dan pendidikannya juga lebih baik,” jelas Shaloom.

Kehadiran para selebriti, bagi Dini Widiastuti, menjadi sangat penting dalam upaya memperbaiki taraf kehidupan warga di NTT. Mereka berperan sebagai amplifier yang menunjukkan kondisi kehidupan warga Wae Codi dan Latung kepada publik luas.

“Mereka adalah influencer dengan banyak pengikut. Ketika mereka mengunggah (momen saat di NTT) di media sosial mereka, mereka bisa meningkatkan kesadaran lewat platform mereka bahwa ada, lho, kondisi yang seperti ini di Indonesia,” jelas Dini.

“Tapi, bukan cuma soal kesulitan atau tantangan yang dibagikan. Anak-anak ini juga penuh harapan dan bahagia, bahkan dengan segala keterbatasan. Kita harus sama-sama membangun solidaritas dan kesadaran untuk membantu warga di Indonesia bagian timur,” tutup Dini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Uang Dimasukkan Kardus! KPK Jabarkan Cara Korupsi Pejabat Pajak di Banjarmasin yang Terjaring OTT
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prediksi Persib Vs Malut United di BRI Super League: Laga Reuni Penuh Gengsi
• 8 jam lalubola.com
thumb
Pramono Targetkan Transjakarta Rute Blok M-Bandara Soetta Beroperasi Sebelum Lebaran
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
SIM Keliling Jakarta Hari Ini 6 Februari 2026: Ini Lokasi dan Syaratnya
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Top 3 News: Jamdatun Jadi Saksi Ahli Praperadilan Buron Kasus e-KTP Paulus Tannos
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.