Ceramah ini mengupas satu akar besar dari berbagai kerusakan dalam hidup manusia: dusta.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang mukmin masih mungkin memiliki rasa takut dan sifat pelit, karena itu bagian dari kelemahan manusia.
Namun ada satu sifat yang tidak pernah bisa berdampingan dengan iman, yaitu berbohong.
Tanpa kita sadari, dusta sering kali dimulai dari hal kecil, bahkan dari rumah sendiri.
Orang tua mengajarkan kebohongan ringan kepada anak demi menghindari rengekan.
Padahal kebohongan kecil yang terus dipelihara akan tumbuh menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi karakter.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa dusta adalah induk dari segala kemaksiatan dan keburukan.
Ada kisah seseorang yang datang kepada Rasulullah SAW karena ingin bertobat, namun selalu gagal.
Ia meminta satu amalan sederhana agar bisa berhenti dari maksiat. Jawaban Rasulullah SAW sangat singkat, tetapi luar biasa dampaknya:
“L takzib.” Jangan berbohong.
Kejujuran itulah yang akhirnya membuat setiap pintu dosa tertutup satu per satu dalam hidupnya.
Nilai ini kemudian dikuatkan dengan kisah nyata dari sejarah Islam tentang Mubarak, seorang penjaga kebun kurma yang sederhana.
Bertahun-tahun bekerja, ia tidak pernah sekalipun mencicipi kurma yang dijaganya.
Ketika ditanya mana kurma terbaik, ia menjawab jujur, “Saya tidak tahu.” Karena tugasnya menjaga, bukan mengambil hak yang bukan miliknya.
Kejujuran itu mengguncang hati sang pemilik kebun. Bahkan putrinya yang cantik, berasal dari keluarga kaya, dan satu-satunya, dibuat terkesan oleh kejujuran sang penjaga.
Dari pernikahan seorang wanita salehah dengan pria yang jujur dan beriman inilah lahir seorang ulama besar yang namanya dikenang sepanjang zaman: Syaikh Abdullah bin Al-Mubarak, guru utama dari Imam Bukhari rahimahullah.
Di bagian akhir ceramah, disampaikan peringatan yang sangat tegas. Dusta adalah sumber dari segala kekacauan hidup.
Rumah tangga hancur bukan karena kurang cinta, tapi karena cinta yang dicampur dusta.
Rezeki terasa sempit bukan karena kurang, tapi karena ada kejujuran yang disembunyikan.
Al-Qur’an menggambarkan orang-orang pendusta sebagai ciri orang munafik.
Dalam Surah An-Nisa ayat 145, Allah SWT menegaskan bahwa orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka, dan tidak akan mendapatkan pertolongan sedikit pun.
Rasulullah SAW pun diperlihatkan azab pedih bagi para pendusta saat Isra Mi’raj: mulut mereka dirobek berulang kali karena kebiasaan berdusta semasa hidup.
Kejujuran mungkin terasa pahit, bahkan menyakitkan. Namun para sahabat dan ulama sepakat: lebih baik jujur walaupun pahit, daripada berdusta demi terlihat mulia.
Sebab tidak ada kemuliaan yang lahir dari kebohongan, dan tidak ada keberkahan yang tumbuh dari dusta.
Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita, menjauhkan kita dari kemunafikan, dan menjadikan kita hamba-hamba yang jujur dalam setiap keadaan.
Sahabat Kompas TV,
saksikan video lengkapnya hanya di channel youtube Kalam Hati,
setiap hari Minggu jam 13.00 WIB.
Jangan lupa Like, Comment, and share.
Serta follow akun Instagram kita di: @dikalamhati
Penulis : Mukhammad-Rengga-
Sumber : Kompas TV
- kalam hati
- kalam hati kompas tv
- kajian islami
- ceramah agama
- kultum




