Mantapkan Pilihan Prodi di Jalur Prestasi Masuk PTN

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Pendaftaran seleksi mahasiswa baru lewat jalur prestasi di perguruan tinggi negeri berlangsung hingga tanggal 18 Februari 2026. Di jalur prestasi ini, siswa kelas XII SMA/SMK sederajat yang berpretasi secara akademik dan nonakademik punya peluang kuliah di perguruan tinggi negeri melalui seleksi daring tanpa tes secara nasional.

Koordinator Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) Riza Satria Perdana yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (6/2/2026), meminta peserta yang memenuhi syarat atau eligible ikut SNBP segera mendaftarkan diri. “Jika siswa sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, berkisar  5-10 menit saja untuk pendaftaran sampai finalisasi. Jika sudah finalisasi pengisian data dan pemilihan program studi atau prodi tidak bisa diganti,” ujar Riza.

Pendaftaran SNBP ditutup pada 18 Februari. Lalu, pengumuman  siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) yang dituju pada 31 Maret 2026.

Baca JugaDiterima Jalur Prestasi, Calon Mahasiswa Diajak Bertanggung Jawab terhadap Pilihan

Sesuai ketetapan Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Tahun 2026, pendaftar yang ikut SNBT haruslah yang memiliki sertifikat tes kemampuan akademik (TKA). Meskipun keitkusertaan TKA di kelas XII SMA/SMK sederajat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak wajib, namun hasil TKA jadi pertimbangan untuk jalur SNBP di PTN.

Bahkan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto saat rapat kerja dengan Komisi X DPR beberapa waktu lalu mengatakan, hasil TKA untuk jalur prestasi ini bisa lewat SNBP maupun jalur mandiri.  Selama ini, jalur mandiri  yang dilaksanakan tiap PTN ada yang membuka jalur prestasi, salah satunya bisa saja memanfaatkan hasil TKA.

 Brian mengatakan karena TKA belum diwajibkan, Kemendiktsaintek mendiskudikan dengan panitia dan pimpinan PTN soal pemanfatan TKA di jalur prestasi.  Ada masukkan TKA ini dapat digunakan untuk memvalidasi nilai rapor di jalur SNBP.

Brian menambahkan, penilaian TKA dalam SNBP belum didefinitifkan. “Aturan sedang digodog dengan panitia mahasiswa baru. Ada permintaan Kemendikdasmen sebagai salah satu pertimbangan di SNBP. Kecenderungan kami, tidak dulu dipergunakan untuk penentuan. Apalagi beberapa daerah  ada yang mengalami masalah dalam pelaksanaan TKA SMA/SMK sederajat tahun lalu. Kami akan mendefinitifkan dengan panitia SNPMB untuk mendapatkan kepastiannya seperti apa,” ujar Brian.

Proses seleksi

Di acara daring “Sosialisasi Pendaftaran dan Pembuatan Portofolio SNBP 2026”, terkait proses seleksi SNBP, Riza mengatakan kompones seleksi yang dinilai adalah rata-rata nilai rapor, rata-rata nilai mata pelajaran (mapel) pendukung, dan prestasi kompetisi di tingkat daerah, ansional maupun internasional.  Sesuai peraturan menteri, rata-rata nilai rapor secara keseluruhan diberi bobot minimal 50 persen. Sisanya, terdiri dari mapel pendukung yang relebvan untuk masuk prodi tertentu, dan prestasi.

“Sebenarnya jika dilihat dari rumus, yang nilai keseluruhan rapor cukup dominanya. Bisa minimal 50 persen atau lebih,  lala mapel pendukung, dan prestasi,” kata Riza.

Baca JugaSeleksi Masuk PTN Tanpa Tes Tuntut Integritas Sekolah dan Siswa

Riza mengingatkan agar pendaftar di SNBP memilih prodi yang relevan dengan pilihannya semasa di SMA. Dengan Kurikulum merdeka, siswa SMA belajar kelompok mapel pilihan. Ketika ikut TKA, selain tiga mapel wajib (Bahasa Indoensia, Bahasa Inggris, dan Matematika) juga dua mapel pilihan yang kira-kira relevan dnegan prodi yang dipilih di PTN.

 “Sedikitnya dua mapel pendukung di sekolah yang dipilih harus relevan dengan prodi yang dipilih. Ini sebagai stratgei supaya peluang lolos bisa lebih besar. Jika mapel pendukung tidak relevan, berarti bobot mapel pendukung jadi kurang. Ini yang mesti dipertimbangkan siswa,” kata Riza.

Soal mapel pendukung  yang relevan dengan prodi yang diincar sering menimbulkan kebingungan. Sari, orangtua siswa, mengatakan anaknya mengambil peminatan IPA dengan mapel Kimia, Biologi, Ekonomi, dan Matematikt. Ketika TKA, anaknya mengambil mapel pilihan Kimia dan Biologi.

“Anak saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil pilihan pertama prodi kesehatan masyarakat dan kedua prodi akutansi. Jadi agak ragu ini dengan mapel pendukung, termasuk yang TKA kemarin, apakah tepat atau tidak,” kata Sari.

Riza mengatakan pilihan mapel di SMA harus dipikirkan dnegan matang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan sehingga tidak terkendala saat memilih prodi yang diinginkan.  “Kalau siswa ingin membidik SNBP, memang perlu dipikirkan sejak awal. Pilih mapel yang sesuai dengan prodi. Kalau mau menyebrang prodi, komponen di penilaian mapel pendukung rendah dan peluang masuk berkurang,” kata Riza.

Namun, Riza menekankan, yang perlu diketahui, untuk SNBP proses seleksinya tetap dilakukan PTN masing-masing, bukan panitia nasional. “PTN punya kewenangan penuh melakukan proses seleksi di PTN. Bisa saja tiap PTN beda. Panitia nasional hanya memberi guideline secara nasional,” kata Riza.

Termasuk, banyak juga PTN yang menerapkan indeks sekolah. Sebab, nilai 8, misalnya, di suatu sekolah belum tentu sama dengan sekolah lainnya. Penetapan indeks sekolah ini bisa saja dari memantau alumni sekolah yang kuliah di PTN selama 1-3 tahun lalu yang masuk jalur tes atau SNBP, maupun didasarkan Asesmen Nasional.

Bisa juga dengan mempertimbangkan berapa banyak siswa yang diterima dari sekolah tersebut di tahun lalu. Termasuk peringkat siswa di sekolah juga bisa jadi pertimbangan.

“Indeks sekolah ini tergantung tergantung tiap PTN, mau menerapkan atau tidak,” ujar Riza.

 Riza menambahkan, PTN juga umumnya melacak semua siswa di jalur masuk. Hal ini untuk memberikan gambaran pencapaian nilai rapor siswa selama di sekolah sesuai kemampuan. Jika sesuai, umumnya prestasi belajar di PTN juga tidak jauh berbeda.

“Kalau nilai rapor siswa bersesuaian dan ketika kuliah bagus, berarti sekolah tersebut dipercaya. Demikian juga kebalikannya. PTN bisa menilai dari situ, kayaknya sekolah itu kurang pas cara menuliskan nilai rapor. Jadi kuota SNBP bisa saja tidak diberikan,” jelas Riza.

Meskipun ada sekolah yang belum punya alumni di PTN tertentu, kata Riza, sejumlah PTN “melebarkan sayap”untuk mendapatkan talenta berprestasi.  “SNBP ini karpet merah untuk siswa berprestasi ke PTN. Kalau tidak diambil pas diterima, nanti kuota bisa tidak diberikan lagi, dialihkan ke sekolah lain yang siswa lebih serius,” ujar Riza.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Duel Antarlini PSIM Vs Persis di BRI Super League: Laskar Sambernyawa Datang dengan Wajah Berbeda
• 5 jam lalubola.com
thumb
Purbaya Respons Outlook RI Negatif dari Moody’s, Optimistis Ekonomi Membaik
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Proyek JETP Diharapkan Dukung Masa Depan Energi Berkelanjutan di Indonesia
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Waspada! Segera Hapus Aplikasi dengan Ciri Ini untuk Hindari Pencurian Data Pribadi
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Respons Bahlil soal Kemungkinan Prabowo Maju Pilpres 2029
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.