Di balik rutinitasnya memulung botol bekas di jalanan Bandung Barat, Yadi (13) sesungguhnya menyimpan keinginan sederhana yang belum terwujud, yakni kembali bersekolah.
Bocah asal Kampung Bojong ini terpaksa putus sekolah bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga yang memaksanya memilih membantu orang tua.
Yadi mengaku berhenti sekolah saat kelas 5 SD. Sejak itu, hari-harinya dihabiskan menyusuri jalanan bersama sang adik, Siska (7), mengumpulkan botol bekas untuk dijual ke pengepul. Penghasilan yang diperoleh, meski tidak seberapa, menjadi bagian penting untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Saya pengin sekolah lagi,” ucap Yadi pelan, sambil menundukkan kepala saat ditemui di Bandung Barat, Jumat (6/2).
Keinginan itu masih ia simpan rapat, meski kenyataan hidup belum berpihak. Jika mengikuti jenjang pendidikan semestinya, Yadi kini seharusnya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun keterbatasan biaya membuatnya harus menunda mimpi tersebut dan memilih turun ke jalan.
Meski demikian, Yadi tidak memiliki cita-cita yang muluk. Saat ditanya tentang harapannya di masa depan, ia hanya ingin membantu dan membahagiakan orang tuanya.
Ia menyadari betul kedua orang tuanya juga bekerja sebagai pemulung dan harus berjuang keras setiap hari demi menyambung hidup.
“Sekarang mah pengennya bantu orang tua. Biar mereka enggak capek terus,” katanya.
Keinginan untuk membahagiakan orang tua menjadi alasan terkuat Yadi bertahan menjalani kehidupan keras di usia dini. Ia berharap, suatu hari nanti kondisi keluarganya membaik sehingga ia dan adiknya bisa kembali merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya.
Bagi Yadi, melihat orang tuanya tersenyum sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Ia tak menuntut banyak hal untuk dirinya. Harapan terbesarnya saat ini adalah keluarganya dapat hidup lebih baik dan tidak terus bergelut dengan kesulitan ekonomi.
Kisah Yadi menjadi gambaran nyata bahwa di balik angka putus sekolah, terdapat anak-anak yang masih memiliki semangat belajar dan mimpi masa depan. Namun mimpi itu kerap terhalang oleh keterbatasan ekonomi dan kondisi sosial yang belum sepenuhnya berpihak kepada mereka.




