Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings menurunkan outlook lima bank jumbo di Indonesia dari stabil menjadi negatif dalam pengumumannya hari ini, Jumat (6/2).
Hal ini menyusul revisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia yang sebelumnya disampaikan kemarin. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank.
Kelima bank tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Sebelumnya pada Kamis (5/2) kemarin, Moody’s mempertahankan peringkat penerbit Pemerintah Indonesia di level Baa2. Namun lembaga itu menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Moody’s menilai dalam setahun terakhir terdapat penurunan prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang efektif. Jika berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas ekonomi, fiskal, dan sektor keuangan Indonesia.
"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan outlook negatif atas peringkat sovereign Indonesia di level Baa2. Hal ini mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, yang terlihat dari menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif selama setahun terakhir," tulis Moody's dalam keterangan resminya dikutip Jumat (6/2).
Kendati demikian, Moody’s tetap menegaskan peringkat sovereign Indonesia dengan mempertimbangkan ketahanan ekonomi yang masih solid. Hal ini ditopang oleh basis sumber daya alam dan demografi yang kuat, sehingga menjaga pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tetap stabil.
Moody’s menyatakan, apabila peringkat sovereign Indonesia diturunkan, maka peringkat kelima bank tersebut juga berpotensi mengalami penurunan. Untuk Bank Mandiri, BRI dan BCA, penurunan peringkat sovereign akan langsung berdampak pada penurunan baseline credit assessment (BCA) yang saat ini berada di level Baa2.
Sementara itu, bagi BNI dan BTN, penurunan peringkat akan lebih dipengaruhi oleh berkurangnya asumsi dukungan pemerintah. Selain itu, counterparty risk rating (CRR) dan counterparty risk assessment (CRA) Mandiri, BRI, BCA, dan BTN juga akan diturunkan jika peringkat sovereign Indonesia mengalami penurunan.
Kinerja dan Risiko Tiap BankMoody’s menilai Bank Mandiri masih memiliki buffer permodalan dan profitabilitas yang baik. Namun, bank pelat merah ini menghadapi risiko penurunan modal akibat dividen tinggi, tekanan kualitas aset di sejumlah segmen, serta eksposur kredit ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi yang mencapai lebih dari 200% dari modal inti berwujud (TCE) per September 2025.
Untuk BRI, Moody’s menyoroti profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat, tetapi risiko aset dinilai tetap tinggi karena besarnya eksposur kredit ke segmen mikro dan UMKM. Profitabilitas BRI diperkirakan menurun pada 2026 seiring penyempitan margin bunga bersih dan tingginya biaya kredit.
Sementara itu, BNI dinilai memiliki permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil. Namun, profitabilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya, seiring tekanan margin dan meningkatnya persaingan kredit korporasi. Peringkat BNI masih mendapatkan tambahan satu tingkat (uplift) berkat probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi.
Adapun BCA dinilai tetap memiliki kualitas aset yang kuat dan profitabilitas yang sangat tinggi, didukung oleh dominasi di bisnis transaction banking. Namun, profil keuangan BCA tetap dibatasi oleh peringkat sovereign Indonesia.
Untuk BTN, Moody’s menilai bank ini masih menghadapi tantangan kualitas aset, terutama dari tingginya kredit restrukturisasi dan pencadangan yang dinilai belum memadai. Meski demikian, peringkat BTN memperoleh tambahan tiga tingkat berkat peran strategisnya dalam program perumahan nasional dan kepemilikan mayoritas pemerintah.
Moody’s menyebutkan, peluang kenaikan peringkat bagi kelima bank dalam waktu dekat relatif kecil selama outlook sovereign Indonesia masih negatif. Outlook bank-bank tersebut baru akan kembali stabil apabila peringkat sovereign Indonesia tetap bertahan di level Baa2 dengan outlook stabil.



