Kisah Masyarakat Adat Iban Sadap Merawat Alam dan Tradisi lewat Tenun

merahputih.com
2 jam lalu
Cover Berita

MERAHPUTIH.COM — DI sebuah rumah panjang, di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, beberapa perempuan adat, dari usia muda hingga lansia, tekun menjalin helai-helai benang. Ruang besar serupa aula itu menjadi saksi cerita yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dirajut perlahan lewat benang-benang tenun.

Bagi masyarakat adat Dayak Iban, menenun merupakan jalan untuk menjaga identitas, mengingat leluhur, dan merawat hubungan dengan alam. Rumah panjang yang dipenuhi alat tenun dan benang bukanlah pemandangan langka di Desa Sadap. Kegiatan menenun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.


?“Bagi kami, tenun bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan simbol identitas dan ekspresi nilai-nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, yang memiliki makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ungkap Magareta Mala, salah seorang penggerak Festival Tenun Iban Sadap dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.

Motif tenun Iban Sadap menyimpan makna mendalam. Ada kisah tentang alam dan roh leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mala menjelaskan ada empat jenis tenun Iban, yaitu kebat, sungkit, pileh, dan sidan. “Tenun kebat dengan motif sakral menjadi tenun yang wajib dimiliki. Setiap motif tenun kebat mempunyai nilai tertentu, yang digunakan untuk kelahiran, juga suasana sukacita dan dukacita. Motifnya mencakup manusia, hewan, dan benda simbolis,” jelasnya.

Baca juga:

Menjaga Tradisi dan Alam Kalimantan lewat Tenun


?Setiap helai tenun Iban Sadap yang diwarnai secara alami. Di dalamnya tersimpan cerita tentang hutan yang masih dijaga, sungai yang tetap mengalir, dan pengetahuan lokal yang terus hidup. Tenun menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya tidak bisa dipisahkan dari melestarikan alam. ?“Ketika melakukan aktivitas menenun, artinya kami juga memelihara bumi. Kami tidak akan memusnahkan tanaman-tanaman yang terkait dengan tenun. Karena, banyak sekali tanaman pewarna yang diambil dari alam di wilayah adat. Seandainya masyarakat sampai kehilangan wilayah adat, itu berarti mereka juga kehilangan tradisi, salah satunya tradisi menenun,” kata Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu.

Nilai pelestarian alam inilah yang ingin dibagikan kepada banyak orang dalam Festival Tenun Iban Sadap yang sukses digelar perdana pada pertengahan Desember lalu. “Kami ingin menyampaikan kepada publik, festival ini merupakan tonggak penting dalam memastikan bahwa tradisi menenun itu masih ada, beserta nilai dan pengetahuannya,” imbuh Tomo, sapaan Herkulanus Sutomo.

“Semua bahan baku untuk menenun disediakan oleh alam. Festival kemarin menunjukkan bahwa untuk membuat tenun, kami tidak bergantung pada siapa pun, kecuali diri sendiri dan alam. Peralatan tenun dibuat dari bambu, pewarna dari berbagai jenis daun, akar, dan kulit kayu,” kata Mala.
?Itulah kenapa masyarakat adat Iban Sadap berkomitmen untuk tetap menjaga wilayah adat, agar tradisi menenun tetap terjaga. Mereka memahami, jika wilayah adat terjaga dengan baik, pengetahuan leluhur akan terus hidup. Karena itu, pengakuan dan perlindungan negara terhadap masyarakat adat, termasuk melalui pengesahan RUU Masyarakat Adat, menjadi penting.


?Penenun Muda Meneruskan Cerita



?Regenerasi dalam melestarikan warisan budaya merupakan tantangan di banyak komunitas adat, termasuk melestarikan tenun Iban. Beruntung, masih ada sejumlah orang muda yang tergerak untuk belajar menenun. Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari, perempuan muda yang tekun menenun benang demi benang, di sela-sela kesibukannya bekerja.
?

Bagi Yosefa, menenun bukan sekadar keterampilan yang diwariskan, melainkan bagian dari hidup yang ia jalani setiap hari. Dalam satu hari, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menenun. Kapan pun ketika tak ada kegiatan, ia akan duduk tenang di balik alat tenunnya.


?“Seru kalau menenun ramai-ramai di ruai. Ketika ada teman menenun, saya jadi semangat untuk menenun juga. Seperti berlomba,” kata Yosefa, yang tergerak untuk belajar menenun karena sering melihat ibu dan neneknya menenun.


?“Yosefa diharapkan bisa menjadi contoh bagi rumah panjang lain. Jika makin banyak orang muda yang bergerak, tenun Iban akan semakin terangkat, nilai wastra warisan leluhur juga kian terjaga,” kata Mala, menegaskan.


?Perempuan yang menenun sejak muda ini bersyukur perhatian terhadap pelestarian tenun terus meningkat. Itulah kenapa Mala dan komunitas penenun merancang paket tur tenun yang durasi dan programnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Ada paket beberapa hari saja untuk keperluan dokumentasi, ada pula paket bagi mereka yang ingin benar-benar belajar soal tenun Iban Sadap.


?“Beberapa waktu lalu, mahasiswa dari Kuala Lumpur datang karena ingin memahami tenun secara utuh. Ia tinggal cukup lama, menyelami sejarah, proses, dan pulang dengan pengalaman dan hasil tenun buatan sendiri,” kata Mala, yang kerap menerima kunjungan dari pencinta wastra dari luar pulau. ?Namun, sebenarnya yang paling diharapkan bukanlah banyaknya pengunjung, melainkan kesediaan untuk belajar dan menghargai proses.

“Memperkenalkan tenun memerlukan waktu panjang sebelum sampai pada titik ketika orang datang bukan hanya untuk melihat, melainkan untuk memahami,” tutupnya.(*)?

Baca juga:

Kisah di Balik Keindahan Tenun Garut


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wah Selamat! Gaji Karyawan di 9 Sektor Bisnis Ini Naik di 2025
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ganti Piring, Jual Telur Jadi Laris
• 9 jam laluerabaru.net
thumb
Istana Sebut Prabowo Sudah Teken Perpres Kenaikan Gaji Hakim Ad Hoc
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Bapanas Pastikan Harga dan Kualitas Pangan di Jatim dalam Kondisi Aman Jelang Ramadan dan Idulfitri
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
KUAI: Jepang fokus perkuat hubungan dengan RI dalam isu keamanan
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.