JAKARTA, KOMPAS.com – Di balik hiruk-pikuk kawasan Tanah Abang, tepatnya di Jalan Bakti, RW 01, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, potret kemiskinan kota tampak begitu nyata.
Di lahan sempit sepanjang sekitar 300 meter, puluhan rumah terpal dan gerobak berdiri rapat, menjadi tempat bertahan hidup warga yang terpinggirkan oleh modernisasi Ibu Kota.
Warga hidup di ruang sempit tanpa fasilitas dasar yang layak. Kebutuhan sehari-hari dipenuhi dengan perjuangan, sementara masa depan anak-anak kerap terabaikan karena keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan.
Baca juga: Berulang Kali Ditertibkan, Warga Jalan Bakti Tetap Kembali Bangun Rumah Terpal
Tina (43), salah satu warga Jalan Bakti, telah tinggal di kawasan tersebut sejak lahir. Seperti mayoritas warga lain, Tina menyambung hidup dengan memulung botol dan barang bekas. Sesekali, ia bekerja sambilan membantu tetangga atau mengantar orang lain.
Rumah yang ditempatinya hanya berukuran sekitar tiga meter persegi, dirakit dari terpal plastik tipis dan kayu bekas. Satu ruang kecil itu menampung segalanya: pakaian, alat makan, kasur tipis, serta anak-anak yang tidur berdesakan.
“Rumah ini cukup untuk tidur saja. Kalau hujan, ya kehujanan. Tapi mau ke mana lagi? Kita nggak punya rumah lain,” kata Tina saat ditemui Kompas.com di depan rumah terpalnya, Kamis (5/2/2026).
Hidup sehari-hari dipenuhi perjuangan sederhana, memastikan keluarga tetap bisa makan dan anak-anaknya sehat. Tina menuturkan, bantuan pemerintah nyaris tidak pernah ia terima.
“Kadang dapat dari tetangga, sisa makanan atau sebungkus nasi,” ujar dia.
Bagi Tina, pendidikan anak-anak menjadi harapan terbesar, meski terasa jauh dari jangkauan.
“Anak-anak saja, semoga bisa sekolah dan lanjut. Tapi kalau hari ini makan saja susah, mana sempat mikirin sekolah?” kata Tina.
Baca juga: Getir Hidup Warga Pinggir Stasiun Tanah Abang, Tinggal di Rumah Terpal Tanpa MCK
Hidup tanpa rumah, makan saja sulitKhalik (40) juga tinggal di Jalan Bakti, tak jauh dari rumah Tina. Kondisi hidupnya tak jauh berbeda. Ia tidak memiliki rumah permanen, sementara penghasilan dari memulung sangat tidak menentu.
“Kami enggak punya rumah, cuma tinggal di rumah terpal. Makan sehari-hari saja kadang nggak cukup. Kadang anak-anak harus menunggu sampai saya dapat uang dari jual barang bekas,” kata Khalik.
Khalik menekankan, hidup di kawasan tersebut penuh ketidakpastian. Saat hujan deras, rumah mereka bocor, sementara angin kencang kerap merobohkan terpal. Meski demikian, ia tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
“Kalau pindah ke tempat lain, kita nggak bisa hidup. Kerja kita kan di sini, memulung di pasar dan sekitar stasiun,” ujar dia.
Anak-anak yang tumbuh di Jalan Bakti hidup dalam keterbatasan yang sama. Banyak dari mereka belum pernah mengenyam bangku sekolah.





