EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi tajam. Pada Rabu, 4 Februari 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi mengeluarkan peringatan keamanan darurat yang mendesak seluruh warga negara Amerika Serikat yang berada di Iran segera meninggalkan wilayah tersebut.
Peringatan ini disampaikan melalui Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat untuk Iran, sebuah kanal resmi yang selama ini digunakan Washington untuk menyampaikan imbauan konsuler mengingat tidak adanya hubungan diplomatik langsung antara kedua negara.
Dalam pernyataan tersebut, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa situasi dapat memburuk tanpa peringatan, termasuk kemungkinan pembatalan mendadak penerbangan internasional, penutupan wilayah, hingga penguncian akses transportasi. Pemerintah AS bahkan secara eksplisit memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, bantuan konsuler atau operasi evakuasi mungkin tidak dapat diberikan.
“Warga negara Amerika harus segera menyusun rencana evakuasi mandiri yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah Amerika Serikat,” tegas pernyataan resmi tersebut.
Imbauan Bertahan Hidup Jika Tak Bisa Evakuasi
Bagi warga AS yang tidak dapat segera meninggalkan Iran, Departemen Luar Negeri memberikan panduan rinci langkah-langkah darurat. Warga diminta untuk:
- Tetap berada di rumah atau bangunan yang aman
- Menyimpan persediaan makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya
- Menghindari kerumunan dan aksi demonstrasi
- Menjaga profil rendah dan meningkatkan kewaspadaan
- Memastikan perangkat komunikasi selalu terisi daya
- Menjaga komunikasi rutin dengan keluarga dan kerabat, serta melaporkan kondisi terkini
Hingga kini, Iran tetap diklasifikasikan oleh Amerika Serikat sebagai Level 4: Do Not Travel (Jangan Bepergian)—tingkat risiko tertinggi dalam sistem peringatan perjalanan AS.
Latar Belakang: Gejolak Internal Iran Tak Pernah Padam
Peringatan keras ini muncul di tengah ketidakstabilan internal Iran yang belum pernah benar-benar mereda dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang protes anti-pemerintah terus muncul, sering kali berujung pada bentrokan berdarah dengan aparat keamanan.
Nilai mata uang rial Iran terus merosot, inflasi meroket, dan tekanan ekonomi memicu kemarahan publik. Organisasi HAM internasional mencatat bahwa puluhan ribu warga Iran telah ditangkap, sementara ribuan lainnya dilaporkan tewas atau menghilang akibat tindakan represif rezim.
Meski beberapa gelombang protes berhasil ditekan, para pengamat menilai ledakan sosial baru dapat terjadi kapan saja, terutama jika tekanan eksternal meningkat.
Washington Tegaskan Garis Merah: Opsi Militer Tetap Terbuka
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menegaskan bahwa perundingan dengan Iran tidak akan bermakna jika hanya membahas isu nuklir semata.
Menurut Rubio, pembicaraan harus mencakup empat poin utama:
- Program nuklir Iran
- Pengembangan rudal balistik
- Dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional
- Perlakuan rezim terhadap rakyatnya sendiri
Pernyataan ini memperjelas bahwa garis merah Washington tidak berubah, dan jalur diplomasi berjalan berdampingan dengan opsi militer yang tetap berada di atas meja.
Presiden AS, Donald Trump bahkan melontarkan peringatan yang lebih keras. Dalam wawancara dengan NBC, Trump secara terbuka memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“Dia seharusnya sangat khawatir—sangat khawatir,” ujar Trump.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan armada militer paling kuat di dunia ke kawasan Timur Tengah dan kembali menegaskan satu prinsip mutlak: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Jika tidak tercapai kesepakatan, maka kita akan melihat akibatnya,” tegasnya.
Trump juga mengungkapkan bahwa elite Iran disebut sedang mengalirkan uang ke luar negeri dalam jumlah besar, sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan AS—indikasi kepanikan internal rezim.
Israel Siap Pukul Lebih Keras
Sinyal eskalasi juga datang dari Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam rapat keamanan khusus menyatakan bahwa momentum untuk menggulingkan rezim Iran sedang terbentuk.
Netanyahu menegaskan Israel siap melancarkan serangan berskala sangat besar, jauh melampaui operasi terhadap target militer Iran pada Juni 2025. Dia juga menekankan bahwa Israel akan berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat.
Para analis menyoroti bahwa peringatan evakuasi AS semacam ini terakhir kali dikeluarkan tepat sebelum Trump hampir memerintahkan serangan militer, yang kala itu dibatalkan pada detik terakhir. Namun kali ini, kondisi dinilai sangat berbeda:
- Kapal induk AS telah berada di posisi strategis
- Trump berulang kali menegaskan serangan berikutnya akan “jauh lebih dahsyat”
- Israel secara terbuka menyatakan kesiapan tempur
Gabungan sinyal ini dinilai sebagai peringatan paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Perundingan 6 Februari: Risiko Gagal Sangat Tinggi
Perundingan tingkat tinggi AS–Iran dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026. Namun jarak posisi kedua pihak dinilai sangat lebar.
Amerika Serikat menuntut pembahasan komprehensif mencakup nuklir, rudal, dan jaringan proksi, sementara Iran menolak keras agenda di luar isu nuklir. Banyak analis memperkirakan risiko kegagalan perundingan sangat tinggi, dan jika negosiasi runtuh, konfrontasi militer nyaris tak terhindarkan.
Gedung Putih Dorong Agenda Pergantian Rezim
Menjelang perundingan tersebut, kebijakan Washington tampak memasuki fase baru. Pemerintahan Trump dilaporkan telah mendorong isu pergantian rezim Iran dari balik layar ke panggung depan.
Menurut laporan media Uni Emirat Arab The National, Gedung Putih tengah menyusun rencana transisi kekuasaan Iran, termasuk rencana pertemuan tertutup tokoh-tokoh oposisi Iran di Florida akhir pekan ini.
Laporan tersebut menyebut Jared Kushner, menantu Trump, terlibat aktif dalam pembentukan dewan penasihat pengusaha AS keturunan Iran untuk membahas:
- Pengisian kekosongan kekuasaan pasca-runtuhnya rezim Khamenei
- Struktur pemerintahan sementara
- Pengalihan kendali militer
Langkah ini menandai eskalasi kebijakan AS dari tekanan maksimum menuju persiapan pergantian rezim secara nyata.
72 Jam Penentuan
Apa pun hasil perundingan 6 Februari, para analis sepakat bahwa badai ini hampir tak dapat dibendung. Sorotan dunia kini tertuju ke Florida, yang dinilai berpotensi menjadi tempat lahirnya cetak biru era pasca-Khamenei.
Nasib Iran, tekad Amerika Serikat, dan masa depan stabilitas Timur Tengah mungkin akan ditentukan dalam 72 jam ke depan—saat dunia menahan napas menunggu apakah diplomasi masih memiliki ruang, atau senjata akan benar-benar berbicara.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495041/original/041361200_1770352557-Pandji_penuhi_panggilan_polda_metro_jaya.jpeg)
