Mampukah Cendrawasih Kuning-Besar dan Kura-Kura Moncong Babi Bertahan di Hutan Produksi?

republika.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR — Penelitian selama empat tahun yang dilakukan IPB University bersama Tunas Sawa Erma (TSE) Group menunjukkan bahwa pengelolaan hutan produksi dan lanskap sungai secara bertanggung jawab mampu menjaga keberlangsungan habitat Cenderawasih Kuning-Besar dan Kura-kura Moncong Babi di Papua, meski dihadapkan pada tantangan perubahan iklim.

Temuan tersebut terungkap dari Seminar dan Lokakarya Konservasi Hidupan Liar bertema Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026).

Baca Juga
  • Airlangga: Ekonomi RI Butuh 3 Mesin Biar Nggak Ngebul
  • Wapres Gibran Tinjau Desa Terdampak Tanah Bergerak di Tegal, Ini Perintahnya
  • Cara Meraih Syafaat Nabi

Dalam konteks konservasi burung endemik, penelitian terhadap Cenderawasih Kuning-Besar menunjukkan spesies tersebut masih ditemukan secara konsisten di areal hutan produksi yang dikelola dengan sistem tebang pilih. Selama periode penelitian, lebih dari 100 individu teridentifikasi di dua konsesi hutan, dengan sebagian wilayah dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi.

Selain mencatat keberadaan populasi, tim peneliti juga mendokumentasikan perilaku kawin (lekking) serta mengidentifikasi pohon pakan dan pohon lek yang menjadi elemen kunci dalam menjaga kelangsungan populasi Cenderawasih Kuning-Besar.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Peneliti Cenderawasih IPB University, Prof. Dr. Ani Mardiastuti, mengatakan hasil riset ini menegaskan bahwa pengelolaan hutan produksi yang mempertahankan area bernilai konservasi tinggi (HCV) dan menerapkan tebang pilih berkelanjutan dapat berkontribusi nyata terhadap konservasi burung endemik Papua.

“Area hutan produksi yang dikelola secara bertanggung jawab tetap mampu mendukung keberadaan Cenderawasih, bahkan berpotensi dikembangkan untuk kegiatan ekowisata berbasis pengamatan burung,”kata dia.

Sementara itu, tantangan berbeda muncul pada spesies perairan tawar. Penelitian terhadap Kura-kura Moncong Babi menunjukkan bahwa perubahan iklim menjadi faktor yang semakin memengaruhi keberhasilan reproduksi satwa tersebut.

Curah hujan ekstrem dan banjir di kawasan Sungai Kao tercatat menyebabkan kegagalan peneluran pada beberapa periode pengamatan. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan habitat, tetapi juga pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika iklim.

Cendrawasih kuning kecil (Paradisaea minor) ditunjukkan saat pengungkapan kasus penyelundupan Satwa dilindungi di kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat di Kota Sorong, Papua Barat, Jumat (22/4/2022). - (ANTARA/Olha Mulalinda)

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapolda Sulsel Kerahkan 400 Personel Bersihkan Pantai Losari
• 22 jam lalueranasional.com
thumb
Lokasi Akhir Proyek PLTSa Makassar Tetap di TPA Antang
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia Dinilai Stagnan, Pakar Soroti Dampaknya ke Iklim Usaha
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Cuaca Jawa Timur Hari Ini, BMKG: Waspada Potensi Hujan Petir Sepanjang Hari
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gempa Pacitan M 6,2 Dipicu Subduksi Lempeng, Ini Penjelasan BMKG
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.