Seorang jenderal Rusia ditembak berkali-kali di Moskow dalam insiden yang oleh otoritas setempat disebut sebagai upaya pembunuhan pada 6 Februari.
EtIndonesia. Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev, seorang petinggi Kementerian Pertahanan Rusia diserang di sebuah gedung perumahan di Jalan Raya Volokolamskoe, di wilayah barat laut ibu kota Rusia.
Menurut Svetlana Petrenko, juru bicara Komite Investigasi Rusia, Alekseyev dilarikan ke rumah sakit setelah kejadian tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Rusia, TASS.
Petrenko menambahkan bahwa Komite Investigasi Rusia telah membuka perkara pidana untuk menyelidiki dugaan percobaan pembunuhan dan perdagangan senjata api ilegal. Ia mengatakan bahwa berdasarkan temuan penyelidik, seorang individu yang hingga kini belum teridentifikasi menembak seorang pria beberapa kali lalu melarikan diri dari lokasi kejadian.
Para penyelidik dan ahli forensik dari Komite Investigasi Moskow saat ini bekerja di tempat kejadian perkara, meninjau rekaman kamera pengawas (CCTV), serta mewawancarai para saksi mata sebagai bagian dari upaya mengidentifikasi pelaku atau para pelaku, ujar Petrenko.
Kantor Kejaksaan Moskow kini mengambil alih kendali atas penyelidikan pidana tersebut, demikian dikutip dari TASS.
Letnan Jenderal Vladimir AlekseyevJuru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah diberitahu mengenai insiden penembakan Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev .
Menurut media pemerintah Rusia, Kommersant, Alekseyev lahir di Ukraina pada tahun 1961 dan telah mengabdi di dinas intelijen militer Rusia selama beberapa dekade. Sepanjang kariernya, ia pernah bertugas di Suriah, menerima berbagai penghargaan militer, dan dikenai sanksi oleh Amerika Serikat atas dugaan “aktivitas siber berbahaya.”
Hingga saat ini, belum ada kelompok atau negara yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Penembakan ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian serangan terhadap tokoh militer Rusia di Moskow dalam beberapa waktu terakhir.
Letnan Jenderal Fanil Sarvarov tewas akibat bom yang dipasang di bawah mobilnya di Moskow pada 22 Desember 2025.
Pada saat itu, Petrenko mengatakan bahwa para penyelidik sedang mengejar beberapa teori terkait pembunuhan tersebut, termasuk dugaan bahwa “kejahatan itu diorganisasi oleh badan keamanan Ukraina.”
Sarvarov, 56 tahun, adalah kepala Direktorat Pelatihan Operasional di Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia. Sepanjang kariernya, ia banyak bertugas di lingkungan militer Moskow dan dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk Orde Keberanian, Medali Suvorov, serta Orde Jasa kepada Tanah Air kelas satu dan dua.
Pusat komunikasi strategis Spravdi milik Ukraina, yang beroperasi di bawah naungan Kementerian Kebudayaan Ukraina, mencatat kematian Sarvarov dalam sebuah unggahan di platform X.
“Para jenderal Rusia terus meledak di kampung halaman mereka sendiri di Rusia, dengan satu lagi hari ini di Moskow,” tulisnya.
“Mayor Jenderal Fanil Sarvarov meninggal pagi ini pukul 07.00 ketika mobilnya meledak. Bertanggung jawab atas banyak kekejaman, Sarvarov terlibat dalam operasi selama invasi ke Georgia, Chechnya, Suriah, dan Ukraina. Ia tidak akan melakukan semua itu lagi.”
Pada April 2025, seorang perwira tinggi militer Rusia lainnya, Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik—wakil kepala departemen operasional utama di Staf Umum—juga tewas akibat bom mobil di dekat gedung apartemennya di pinggiran Moskow.
Pada 17 Desember 2024, Letnan Jenderal Igor Kirillov, kepala pasukan perlindungan nuklir, biologis, dan kimia militer Rusia, tewas akibat bom yang disembunyikan di sebuah skuter listrik di luar gedung apartemennya. Serangan tersebut juga menewaskan asistennya.
Dinas keamanan Ukraina mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Seorang pria asal Uzbekistan ditangkap dan didakwa atas pembunuhan Kirillov atas nama dinas keamanan Ukraina.
Upaya pembunuhan terbaru ini terjadi sehari setelah utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, mengumumkan adanya kesepakatan antara Kyiv dan Moskow untuk menukar 314 tahanan—pertukaran pertama dalam lima bulan—menyusul perundingan yang dimediasi AS di Abu Dhabi.
Baik Moskow maupun Kyiv menggambarkan pembicaraan yang berlangsung di Uni Emirat Arab tersebut sebagai hal yang positif.
Perwakilan presiden Rusia sekaligus kepala Dana Investasi Langsung Rusia, Kirill Dmitriev, yang hadir dalam pembicaraan itu, mengatakan kepada TASS bahwa “ada kemajuan” dan bahwa terdapat “pergerakan maju yang baik dan positif.”
Negosiator utama Kyiv, Rustem Umerov, menyampaikan penilaiannya atas pembicaraan tersebut dalam unggahan Telegram pada 4 Februari, dengan mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai.
“Setelah pertemuan trilateral di Abu Dhabi, proses negosiasi berlanjut hari ini dalam format kerja kelompok,” ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa pekerjaan tersebut “bersifat substantif dan produktif, dengan fokus pada langkah-langkah konkret dan solusi praktis.”

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495730/original/081554300_1770402033-1000001837.jpg)


