Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings merevisi outlook PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN menjadi negatif dari sebelumnya stabil, seiring perubahan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia.
Dalam pernyataan resminya, Jumat (6/2/2026), Moody’s menegaskan peringkat penerbit PGN tetap di level Baa2 dengan baseline credit assessment (BCA) baa2. Namun, revisi outlook mencerminkan meningkatnya risiko dari perubahan arah peringkat sovereign Indonesia yang turut berdampak pada entitas milik negara.
Moody’s menjelaskan, langkah tersebut mengikuti keputusan mereka yang lebih dulu mengubah outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari stabil pada 5 Februari 2026.
Perubahan outlook sovereign tersebut mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan, termasuk menurunnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif dalam setahun terakhir.
Meski demikian, Moody’s tetap menilai fundamental PGN relatif solid. Peringkat Baa2 PGN tidak memasukkan tambahan peringkat berdasarkan asumsi dukungan pemerintah, tetapi tetap terpapar pada risiko penurunan peringkat sovereign mengingat kepemilikan mayoritas efektif PGN oleh negara serta fokus bisnis perseroan yang berbasis domestik.
Dari sisi kinerja keuangan, Moody’s mencatat penguatan metrik PGN dalam beberapa tahun terakhir. Rasio retained cash flow (RCF) terhadap utang meningkat menjadi 43% pada 2024 dari 39% pada 2023. Hingga 30 September 2025, rasio RCF terhadap utang dalam 12 bulan terakhir tercatat sebesar 42%.
Baca Juga
- Moodys Pangkas Outlook 4 Lembaga Pembiayaan RI, Ada ASF dan FIF
- Moody's Pangkas Outlook 5 Bank Jumbo RI
- Menakar Peluang Rebound Yield SUN Usai Dihempas Pengumuman Moody's
Bisnis inti transmisi dan distribusi gas PGN masih menjadi penopang utama kinerja operasional. Namun, Moody’s mengingatkan adanya potensi ketidakpastian akibat penurunan alami produksi dari blok gas pemasok utama serta perpanjangan kebijakan batas atas harga gas. Kendati demikian, metrik keuangan PGN diperkirakan tetap kuat, didukung oleh pengelolaan utang yang pruden dan posisi kas yang memadai.
Dalam jangka menengah, PGN juga merencanakan belanja modal yang signifikan dalam tiga hingga empat tahun ke depan, terutama untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi gas serta perluasan kapasitas gas alam cair (LNG). Moody’s menilai risiko eksekusi belanja modal tersebut masih dapat dikelola, mengingat rekam jejak PGN dalam menjalankan proyek dan operasional.
Ke depan, Moody’s menegaskan tidak melihat potensi kenaikan peringkat PGN selama outlook masih negatif. Outlook dapat kembali stabil apabila outlook peringkat sovereign Indonesia membaik dan tidak terjadi penurunan signifikan pada kualitas kredit berdiri sendiri PGN. Sebaliknya, peringkat PGN berpotensi diturunkan apabila peringkat utang Indonesia ikut mengalami penurunan.
Sebagai informasi, PGN merupakan perusahaan transmisi dan distribusi gas alam terbesar di Indonesia. Selain bisnis hilir, PGN juga memiliki kegiatan usaha hulu melalui anak usaha PT Saka Energi Indonesia, dengan bisnis perdagangan gas serta transmisi dan distribusi menyumbang sekitar 70% pendapatan perseroan.



