Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) mendorong perwujudan gizi seimbang yang merata lewat edukasi dalam pengabdian masyarakat.
Lailatul Muniroh, ketua pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat sekaligus dosen gizi FKM Unair mengatakan, edukasi dalam pengabdian masyarakat itu dilakukan pada ibu balita dan ibu hamil di Wonokitri, Tosari, Pasuruan, sepanjang Januari 2026.
Dalam edukasi untuk ibu balita, beberapa materi yang berikan yakni terkait pola makan masyarakat, faktor penyebab masalah gizi pada balita, dampak masalah gizi pada balita, gizi seimbang pada balita, serta peran zat gizi makro terhadap status gizi balita.
“Kemudian juga peran keluarga dan sosial terhadap masalah gizi pada balita, serta mitos dan fakta seputar makanan balita,” katanya, Sabtu (7/2/2026).
Sementara untuk sesi ibu hamil, materi yang tekankan berupa pola makan tradisional masyarakat Tengger, pengaruh budaya Tengger terhadap praktik menyusui, persiapan ASI eksklusif dimulai sejak hamil, mitos dan fakta ASI dalam budaya Tengger, serta dukungan keluarga dan lingkungan dalam budaya Tengger.
“Masyarakat antusias sepanjang kegiatan, terutama pada sesi tanya jawab. Berbagai pihak, mulai dari ibu balita, ibu hamil, kader, bidan, hingga ibu kepala desa yang juga memiliki balita turut aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi,” ucapnya.
Novri Susan Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair yang juga salah satu anggota tim pengabdian masyarakat mengatakan, dalam edukasi gizi juga penting menyesuaikan dua budaya, yakni budaya Ilmu dan budaya masyarakat.
“Budaya ilmu dan budaya masyarakat harus berjalan bersama-sama. Menghilangkan budaya masyarakat sepenuhnya bukanlah tindakan yang bijak,” ujarnya.
Sementara itu, Wirya Aditya Kepala Desa Wonokitri menambahkan bahwa penerapan gizi seimbang merupakan hal yang sangat penting, sehingga hasil edukasi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Balita dengan tubuh gemuk memang tampak lucu, namun hal tersebut hanya bersifat sementara hingga usia 5-6 tahun. Ketika anak memasuki usia sekolah, orang tua justru merasa khawatir terhadap risiko obesitas yang berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari anak,” ujarnya.
Ia juga menghaturkan rasa terima kasih kepada penyelenggara yang telah melakukan pengabdian ilmunya untuk masyarakat.
“Semoga kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan sebagai bentuk kolaborasi dalam mengembangkan desa Binaan,” pungkasnya.(ris/iss)




