Di awal Februari 2026 ini, harapan akan perdamaian di Ukraina kembali berbenturan dengan realita. Senin, 3 Februari 2026, warga Kyiv terbangun bukan karena berita baik dari meja perundingan, melainkan oleh rangkaian ledakan dari serangan udara pasukan Rusia.
Serangan ini hanya berselang dua hari setelah tragedi berdarah di wilayah Dnipropetrovsk pada 1 Februari lalu. Ketika itu, Rusia meluncurkan pesawat tanpa awak yang menghantam bus pengangkut pekerja tambang di Ternivka, yang berjarak sekitar 65 km dari garis depan. Serangan itu menewaskan sedikitnya 12 jiwa serta melukai tujuh orang lainnya.
Ukraina pun membalas melalui serangan drone ke wilayah Stary Oskol, Belgorod, yang menewaskan dua warga sipil Rusia. Eskalasi selama beberapa hari terakhir menyiratkan bahwa perang yang telah berkembang menjadi adu ketahanan logistik dan teknologi ini nampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Berdasarkan sejumlah estimasi lembaga riset Barat, termasuk CSIS, total korban tewas ataupun luka dari perang ini diperkirakan telah melampaui 1,5 juta orang. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu konflik bersenjata paling mematikan setelah Perang Dunia II.
Jika kedua pihak tidak segera menjumpai kata sepakat di meja perundingan, korban jiwa diperkirakan dapat menembus lebih dari dua juta orang hingga pertengahan tahun ini.
Seri Perundingan Tanpa Hasil vs Korban yang Terus BertambahPerhatian masyarakat internasional kini tertuju pada Abu Dhabi. Sejak pekan lalu, ibu kota Uni Emirat Arab tersebut menjadi tuan rumah negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat. Babak pertama perundingan telah berlangsung pada 23-24 Januari 2026 tanpa hasil yang signifikan. Pertemuan selanjutnya yang sedianya digelar pada akhir pekan lalu mengalami penundaan dan dijadwalkan ulang pada 4-5 Februari.
Upaya perundingan untuk mendamaikan kedua negara bertetangga ini telah dilakukan sebelum invasi Rusia yang dimulai pada pagi hari 24 Februari 2022. Sekitar dua pekan sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, berkunjung ke Kremlin untuk bertemu Putin guna mengupayakan deeskalasi.
Hal yang sama juga dilakukan Olaf Scholz—ketika Kanselir Jerman tersebut bertandang ke Kremlin. Sayangnya, mereka tidak berhasil meredam keinginan Putin untuk menjalankan “Operasi Militer Khusus” nya di Ukraina. Invasi skala penuh pun terjadi hingga sempat membuat Kyiv terkepung dari berbagai penjuru di masa-masa awal konflik.
Setelah itu, delegasi dari kedua negara telah berulang kali bertemu di meja perundingan melalui perantara Belarusia dan Turki sejak akhir Februari 2022 hingga Juli 2025. Namun, pertemuan-pertemuan tersebut belum mampu menjadi media bagi Kyiv dan Moskwa untuk menghentikan peperangan. Oleh karena itu, bagi Washington, diplomasi bukan semata upaya menghentikan perang, melainkan juga instrumen untuk mengendalikan eskalasi agar tidak semakin meluas.
Diplomasi sebagai Jalan Terakhir?Perang ini perlahan berubah dari konflik teritorial menjadi ajang tarik menarik kepentingan geopolitik yang melibatkan lebih banyak aktor dan agenda. Pada tahap awal invasi, banyak analis memperkirakan Kyiv akan segera jatuh di bawah keunggulan militer Moskwa.
Namun, hitung-hitungan di atas kertas tidak serta merta membuat prediksi tersebut berjalan mudah. Melalui konsolidasi kekuasaan domestik serta dukungan politik, ekonomi, dan militer (terutama dari negara-negara NATO), Zelensky berhasil memimpin Ukraina bertahan dalam konflik bersenjata yang secara matematis timpang.
Serangan dari kedua pihak saat ini lebih banyak dilakukan melalui drone dan rudal jarak jauh. Pada titik ini, kedua pihak tampak terperangkap dalam apa yang dikenal sebagai sunk cost trap, sebuah kondisi ketika kerugian yang telah dan sedang dialami justru mendorong keputusan untuk terus melanjutkan konflik. Melanjutkan perang akan terus menumpuk kerugian, tetapi menghentikannya tanpa hasil—yang dapat dinarasikan sebagai kemenangan—juga membawa risiko politik yang tidak kalah besar.
Bagi Putin, mengakhiri perang tanpa penguasaan mutlak atas teritori yang saat ini dikuasai berpotensi memudarkan klaim Rusia sebagai kekuatan politik dan militer utama internasional.
Sementara itu, menerima hilangnya hampir seperlima wilayah Ukraina tanpa jaminan keamanan jangka panjang dan kompensasi yang sepadan akan dianggap sebagai kelemahan, bahkan pengkhianatan terhadap narasi perlawanan dan pengorbanan nasional yang selama ini dibangun. Hal tersebut akan menjadi bencana politik besar untuk Zelensky.
Dalam konteks inilah eskalasi konflik kerap dipandang sebagai alat untuk mempertahankan legitimasi domestik sekaligus meningkatkan posisi tawar. Namun, pengalaman sejak perundingan pertama pada 28 Februari 2022 di Gomel, Belarus, menunjukkan bahwa peningkatan kekerasan di garis depan tidak serta-merta menghasilkan kemajuan diplomatik yang berarti.
Justru sebaliknya, ruang kompromi semakin menyempit seiring dengan bertambahnya korban dan pergeseran wilayah yang dikuasai.
Semakin lama perang ini berlangsung, semakin sulit pula bagi para pemimpin politik serta militer di kedua belah pihak untuk menjelaskan secara terbuka kepada publik mengenai kehilangan, kerusakan, dan kehancuran yang telah terjadi.
Dalam situasi semacam ini, diplomasi kerap tidak lagi dipandang sebagai upaya tulus untuk menghentikan kekerasan, tetapi sebagai bagian dari strategi perang itu sendiri.
Perang ini kini berada di titik nadir. Serangan terhadap infrastruktur energi melalui drone dan rudal jarak jauh dari masing-masing pihak telah menciptakan krisis kemanusiaan yang akut di tengah musim dingin yang membeku. Ketika jalur konvensional semakin kehilangan daya dorong, muncul aktor yang justru memanfaatkan kebuntuan tersebut.
Ironisnya, di tengah kebuntuan inilah dunia justru diarahkan untuk berharap pada upaya mediasi yang dipimpin oleh figur—selama ini dikenal meremehkan multilateralisme—Donald Trump.
Bukan karena visi “perdamaian” yang ia bawa, melainkan karena ia bergerak di luar kerangka moral dan institusional yang selama ini masih menjadi sandaran diplomasi internasional.
Pertanyaannya kini beralih: Apakah pertemuan di Abu Dhabi akan melahirkan kesepakatan gencatan senjata yang nyata, ataukah saling balas serangan merupakan sinyal bahwa Moskwa dan Kyiv memilih untuk terus melalui perang atrisi yang panjang?
Selama ongkos politik untuk berdamai dianggap lebih mematikan daripada ongkos untuk terus berperang, perdamaian di tanah Ukraina akan tetap menjadi harapan yang membeku di balik salju Februari.

