JAKARTA, KOMPAS.com - Cahaya matahari seakan kesulitan menembus permukiman padat penduduk Gang Sejahtera di kawasan Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Di lorong selebar tak lebih dari 1,5 meter itu, tembok-tembok rumah warga berdiri berimpitan, menyisakan sedikit ruang bagi aktivitas warga di dalam gang.
Kabel-kabel semrawut menggelantung rendah di atas kepala, bersanding dengan jemuran pakaian warga yang dikeringkan di depan rumah.
Tak jauh dari hiruk-pikuk tersebut, terdapat sebuah fasilitas umum yang menjadi tumpuan hajat hidup warga, yaitu sebuah WC umum yang kondisinya memprihatinkan.
Bangunan kecil dengan cat hijau yang mulai mengelupas itu menjadi tempat andalan sanitasi warga sehari-hari.
Di pintunya yang kusam, tertempel kardus bertuliskan "2000, Tolong Isi Kotak Toilet", imbauan sumbangan sukarela untuk membayar biaya listrik dan air WC umum tersebut.
Terdapat dua bilik WC yang dapat digunakan warga untuk buang air besar, meski kondisinya jauh dari kata higienis.
Tampak dinding keramik putih penuh noda kecokelatan dan lumut tumbuh subur di tembok.
Sebuah kloset jongkok berwarna biru tampak kusam, ditemani ember hitam dan gayung plastik seadanya.
Atap WC tersebut pun terlihat sudah lapuk. Beberapa kayu mulai habis dimakan rayap, serta asbes yang menutupinya penuh dengan noda kehitaman.
Bahkan, semerbak bau tak sedap langsung menyergap hidung saat membuka pintu WC tersebut.
Di balik kumuhnya fasilitas ini, tersimpan cerita warga yang selama puluhan tahun tidak memiliki akses sanitasi layak di rumah mereka sendiri.
KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Kondisi WC umum yang digunakan warga RT 05 RW 08, Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat yang tidak memiliki septic tank di rumahnya
Tak Punya Septic Tank
Heni (48), warga yang tinggal di Gang Sejahtera, adalah salah satu yang tak memiliki WC pribadi di rumahnya.
Sudah 30 tahun ia tinggal di kawasan tersebut. Selama itu pula rumah Heni tidak memiliki septic tank sehingga dia harus mengandalkan WC umum.
"Belum pernah, belum punya septic tank, kalau buang air ya di WC umum," kata Heni saat ditemui Kompas.com di lokasi, Sabtu (8/2/2026).
Heni mengaku, kendala ekonomi menjadi alasan utama ia dan suaminya tidak membangun saluran pembuangan kotoran tersebut.
"Ya karena biaya. Terkendala biaya. Kita sehari-hari aja masih mikir, jadi enggak nyampe kalau mau bikin septic tank," ucap wanita yang sehari-hari bekerja membuka warung makan kecil itu.