Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) memproyeksikan pertumbuhan kepesertaan dana pensiun bisa mencapai 5%—6% pada 2026.
Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja menilai dinamika kepesertaan pada 2026 adalah fase transisi yang positif bagi industri dana pensiun. Hal tersebut berdasarkan kepesertaan di industri DPLK yang tumbuh 3,43% (year-on-year/YoY) pada periode November 2024—2025.
“Memang lebih rendah jika dibandingkan periode sebelumnya sebesar 6,47%. Namun, ke depannya kami memproyeksikan angka ini akan kembali stabil dan menguat di level 5%—6% pada tahun 2026,” ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (6/2/2026).
Optimismenya itu mengacu pada peluang kepesertaan dari sektor pekerja informal yang sangat besar. Mengacu kepada data BPS per November 2025, jumlah pekerja informal mencapai 57,7% dari total 147,91 juta angkatan kerja.
Tondy membeberkan strategi pertama yang dijalankan industri DPLK untuk mengangkat peluang itu adalah menyediakan platform onboarding yang end-to-end melalui aplikasi mobile guna mempermudah proses pendaftaran bagi masyarakat luas.
Kemudian, pihaknya melakukan pendekatan langsung kepada komunitas-komunitas yang sudah ada seperti pelaku UMKM, koperasi, hingga mitra ojek online untuk membangun kepercayaan secara lebih cepat.
“Selain itu, kami juga gencar melakukan edukasi berbasis manfaat nyata, seperti mengampanyekan gerakan menyisihkan ‘harga segelas kopi’ secara konsisten ke dana pensiun untuk hasil yang signifikan di masa depan,” jelasnya.
Hal tersebut, tegasnya, bertujuan untuk menggeser narasi dari sekadar tabungan hari tua menjadi upaya perlindungan daya beli masyarakat.
Lebih lanjut, Tondy meyakini bahwa fleksibilitas adalah kunci utama dalam mendesain produk dana pensiun bagi pekerja informal. Baginya, desain yang ideal harus memiliki manfaat yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat.
“Selain itu, sistem iuran harus dibuat sangat fleksibel agar dapat dilakukan kapan saja dengan nominal yang rendah, serta tidak mengenakan denda jika peserta terpaksa berhenti mengiur sementara waktu akibat pendapatan yang tidak tetap,” ucapnya.
Terakhir, asosiasi DPLK pun mendorong pengembangan produk hybrid yang mengintegrasikan manfaat jangka panjang dengan manfaat jangka pendek, melalui program manfaat lain agar peserta merasakan nilai tambah yang lebih cepat.



