Perundingan Tanpa Harapan? Operasi Militer AS Ungkap Arah Baru Krisis Iran

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Timur Tengah kembali memasuki fase ketegangan tinggi pada awal Februari 2026, ditandai oleh dua dinamika besar yang berjalan bersamaan: pengerahan militer Amerika Serikat dalam skala luar biasa dan perundingan nuklir AS–Iran yang sarat tarik-menarik politik serta kepentingan regional.

Operasi Udara Malam Hari Skala Historis

Informasi yang beredar di platform X sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026 menunjukkan bahwa Amerika Serikat tengah menjalankan operasi pengangkutan udara malam hari terbesar dalam sejarah militernya. Sedikitnya 12 pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III terpantau bolak-balik secara intensif menuju pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Sumber pelacakan penerbangan mencatat, puluhan C-17 lepas landas hampir setiap malam, mengangkut peralatan tempur, amunisi, dan sistem pertahanan udara. Bahkan, terdapat pesawat yang dalam satu malam menempuh lebih dari 14 rute penerbangan. Jejak penerbangan yang saling bersilangan di langit malam memicu perhatian luas komunitas internasional dan memunculkan satu pertanyaan mendasar: apakah ini persiapan menuju konflik terbuka dengan Iran, atau sekadar tekanan maksimum jelang perundingan?

Perundingan Nuklir AS–Iran Berbalik Arah

Pada 5 Februari 2026, kabar mengenai perundingan nuklir AS–Iran mengalami pembalikan dramatis. Awalnya, beredar informasi bahwa perundingan dibatalkan. Tak lama kemudian, muncul konfirmasi bahwa dialog tetap berlangsung. Media Israel lalu menegaskan bahwa perundingan ini sejak awal hampir mustahil menghasilkan terobosan.

Rencana awal menyebutkan bahwa AS dan Iran akan bertemu di Turki, dengan agenda luas: program nuklir Iran, rudal balistik, serta jaringan proksi Iran di Timur Tengah. Turki, Mesir, dan Qatar semula diproyeksikan terlibat sebagai pihak terkait.

Namun, Teheran mengajukan perubahan besar:

Washington awalnya menyetujui perubahan ini. Keputusan tersebut langsung memicu ketidakpuasan keras Israel, yang menilai langkah itu memberi keuntungan strategis besar bagi Iran. Tak lama kemudian, AS mengumumkan pembatalan perundingan 6 Februari, yang oleh publik ditafsirkan sebagai keberhasilan Israel menghentikan dialog.

Tekanan Negara-negara Timur Tengah

Alur kembali berubah ketika Axios melaporkan bahwa setelah pembatalan diumumkan, sedikitnya sembilan negara Timur Tengah secara serentak menghubungi pemerintahan Donald Trump, mendesak agar pertemuan dengan Iran tidak dibatalkan.

Kekhawatiran mereka satu: putusnya saluran komunikasi AS–Iran dapat langsung menyeret kawasan ke perang besar. Di bawah tekanan kuat para pemimpin Arab dan Islam, AS akhirnya mengalah.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa perundingan nuklir akan berlangsung Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 10 : 00 waktu setempat di Muscat, serta menyampaikan terima kasih kepada Oman atas peran mediasi.

Media Israel: Perundingan Tanpa Substansi

Pada 5 Februari, media dan radio militer Israel menyuarakan narasi yang sangat konsisten: Iran telah memenangkan perundingan secara politik. Dalam pandangan mereka, Teheran berhasil:

Media Israel bahkan menyebut pertemuan 6 Februari sekadar manuver hubungan masyarakat, bukan upaya mencapai kesepakatan nyata. Iran tidak akan mengalah, sementara AS tidak mungkin puas hanya membahas nuklir. Kegagalan dinilai sudah tertanam sejak awal.

Sikap Trump dan Opsi Militer Terbatas

Dalam periode yang sama, seorang wartawan menanyakan langsung kepada Trump apakah Pemimpin Tertinggi Iran perlu merasa khawatir. Jawaban Trump lugas: ya, sangat khawatir. Namun ia menegaskan tidak berniat menggulingkan rezim Iran.

Tujuan Washington, menurut Trump, jelas:

Jika Iran menolak, opsi serangan militer terbuka, dengan batasan tegas: tanpa pengerahan pasukan darat, fokus pada serangan udara dan rudal, dipimpin AS dengan keterlibatan Israel, dan bukan untuk pergantian rezim. Pertanyaan kuncinya: mampukah Ali Khamenei menahan tekanan ini?

Iran Balas Kirim Sinyal Keras

Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tak kalah tegas. Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Bagheri, saat meninjau fasilitas rudal bawah tanah, menegaskan bahwa peningkatan teknologi kunci telah secara signifikan memperkuat daya tangkal Iran.

Dia menyatakan bahwa doktrin militer Iran telah berubah pasca konflik 12 hari dengan Israel—dari pertahanan pasif menjadi kemampuan serangan aktif. Pesannya jelas: jika diprovokasi, Iran akan membalas keras.

Tekanan Ganda: Diplomasi dan Militer

Secara paralel, Washington terus mengirim sinyal tekanan ganda—ancaman militer melalui pernyataan publik, sekaligus pengerahan pasukan besar di sekitar Iran—untuk memaksa Teheran menerima kerangka perundingan versi AS.

Trump kembali memperingatkan bahwa jika kesepakatan gagal, hasil yang “sangat buruk” bisa terjadi. Pada 3 Februari, dia mengonfirmasi di Gedung Putih bahwa pembicaraan dengan Iran memang berlangsung, meski lokasi dan detailnya dirahasiakan.

Gedung Putih berupaya menenangkan publik. Juru bicara Karoline Leavitt menyatakan kepada Fox News bahwa perundingan diperkirakan tetap berlangsung pekan itu. Sumber lain menyebut Jared Kushner kemungkinan bergabung bersama utusan AS Steve Witkoff dan Araghchi.

Gesekan Militer di Lapangan

Di luar meja diplomasi, gesekan militer meningkat tajam. Pada 3 Februari 2026, militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati USS Abraham Lincoln secara agresif di Laut Arab. Beberapa jam kemudian, dua kapal cepat Garda Revolusi Iran mengganggu kapal berbendera AS di Selat Hormuz dan mengancam penyitaan.

Kesimpulan

Seluruh sinyal yang muncul mengarah pada satu kesimpulan tegas: perundingan AS–Iran hampir mustahil menghasilkan terobosan substansial. Kedua pihak kemungkinan akan sama-sama mengklaim kemajuan, sementara inti konflik tetap tak tersentuh.

Dengan operasi militer besar AS, dorongan perang dari Israel, serta sikap keras Iran, Timur Tengah kini berdiri di persimpangan baru—di mana diplomasi dan kekuatan militer berjalan beriringan, menciptakan keseimbangan paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir. Jika satu saja kalkulasi meleset, kawasan ini bisa dengan cepat meluncur ke konflik terbuka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Novel Bamukmin Tuntut Permohonan Maaf Pandji Pragiwaksono soal Mens Rea | BOLA LIAR
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Disambut Rebana, Prabowo Tiba di Masjid Istiqlal Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Hadiri Acara MUI, Prabowo Tekankan Persatuan Ulama dan Umara untuk Kemajuan Bangsa
• 3 jam lalumerahputih.com
thumb
Danantara Targetkan Proyek Listrik Smelter Mempawah Rampung pada 2028
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Optimalkan Rp500 Triliun, Prabowo Segera Resmikan Lembaga Pengelolaan Dana Umat
• 5 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.