MAKASSAR, KOMPAS—Lebih sepekan upaya pemadaman, kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, bisa dikendalikan. Namun petugas masih bersiaga karena kekeringan dan angin yang bertiup kencang masih berpotensi memicu kebakaran lahan.
“Hasil pantauan udara menunjukkan situasi sudah kondusif. Api mulai bisa dipadamkan dan tim gabungan melakukan pendinginan di area titik api. Kami cukup terbantu karena cuaca mendung dan hujan sempat turun,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi A Sembiring, Sabtu (72/2026).
Sejak awal Februari, kebakaran lahan dan hutan mulai terjadi di beberapa desa di Kecamatan Parigi Utara. Kebakaran ini diduga akibat pembersihan dan pembukaan lahan yang dilakukan warga dengan membakar ilalang dan rumput kering.
Kebakaran turut menghanguskan kebun kelapa, kakao, durian, cengkeh , hingga pala milik warga. Kemarau dan angin yang bertiup cukup kencang membuat kobaran api meluas ke sejumlah desa hingga Kecamatan Siniu. Api bahkan sudah mendekat ke permukiman warga.
Upaya memadamkan api sempat terhambat akibat lokasi yang jauh hingga ke perbukitan. Warga yang berupaya membantu juga tak bisa berbuat banyak karena sumber air sumur dan sungai sebagian kering akibat kemarau.
Hingga api berhasil dipadamkan, total ratusan hektar lahan milik warga maupun hutan hangus terbakar. “Walau api padam, petugas gabungan dan warga tetap siaga untuk langkah antisipasi. Terlebih cuaca kering dan angin,” kata Sembiring.
Sementara itu terkait penyebab kebakaran, Kepala Seksi Humas Polres Parigi Moutong Inspektur Satu Arbit mengatakan masih dalam penyelidikan. Ia mengakui kondisi cuaca panas saat ini dan lahan kering, sangat rawan memicu kebakaran dan dapat meluas ke permukiman.
“Dugaan sementara mengarah pada faktor kelalaian manusia. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membershkan lahan dengan cara dibakar karena dampaknya sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kerugian besar,” katanya.
Tak hanya kebakaran lahan dan hutan, kemarau juga menyebabkan warga di sejumlah Kecamatan kesulitan air bersih. Hal ini disebabkan sumur warga hingga sungai mengering.
“Kemarau panjang terjadi sejak akhir 2025. Minimnya curah hujan menyebabkan penurunan debit air sungai dan warga kesulitan air bersih. Ribuan warga terdampak,” kata Pelaksana tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Tengah, Asbudianto, Kamis (5/2/2026).
Walau sebagian wilayah di Indonesia mengalami musim hujan, di Sulawesi Tengah, sebagian wilayah masih mengalami kemarau. Kekeringan bahkan sudah mulai dirasakan warga sejak akhir tahun lalu.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG Sulteng, sepanjang Sabtu, sejumlah kabupaten/kota di wilayah ini berawan. Hujan ringan hanya terjadi di Kabupaten Tojo Unauna dan Tolitoli.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495698/original/071772900_1770395305-1000284285.jpg)