Lewat Final Suam-Suam Kuku Piala Dunia 1962, Brasil Pertahankan Gelar

tvrinews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Christian Gunawan

TVRINews - Santiago, Cili 

Final Piala Dunia 1962 tampak kurang gereget pada latarnya, tapi Brasil tetap bisa berdansa di akhir turnamen.

Duel pamungkas Piala Dunia 1962 Estadio Nacional, Santiago, Cili, pada 17 Juni 1962 antara Brasil dan Cekoslowakia memiliki latar yang terbilang suam-suam kuku, dingin tidak, panas juga tidak. Akan tetapi, latar rada tawar mungkin cukup membuat laga puncak ini menjadi lebih menarik. 

Final ini menjadi yang kedua, setelah Piala Dunia 1954, yang mempertemukan dua tim yang sudah bertemu di fase grup. Hanya, dengan reputasi sebagai tim yang memeragakan permainan menyerang, kedua tim bermain imbang tanpa gol di Grup 3. Harapan penggemar sepak bola akan adanya gol bisa diwujudkan kedua kubu.

Di sisi lain, laga puncak di Santiago ini juga merupakan yang pertama dengan dua finalis sama-sama sudah pernah merasakan final di perhelatan sebelumnya. Brasil merupakan juara bertahan, dan Cekoslowakia merupakan runner-up Piala Dunia 1934.

Sejumlah sumber menyebut tidak banyak lagi hal yang bisa dikedepankan sebagai latar menarik partai ini. Kewaspadaan setelah bencana gempa bumi dahsyat sebelum turnamen, atau tertutup bahasan soal duel keras Pertempuran Santiago antara tuan rumah Cili dan Italia di fase grup, boleh jadi berandil pada berkurangnya gereget final.

Belum lagi hilangnya bintang. Kampanye Brasil untuk mempertahankan gelar tampak muram di fase grup. Bintang yang meroket di Piala Dunia 1962, Pele, mengalami cedera parah di pertandingan kedua di grup. 

Enggak ada Pele. Buat Brasil, itu bukan masalah.

Brasil tampak mengandalkan jam terbang para penggawanya. Delapan pemain mereka merasakan gairah tampil di final Piala Dunia empat tahun sebelumnya. Empat gelandang--Mario Zagallo, Didi, Zito, dan Garrincha--tetap menjadi andalan dalam pakem 4-2-4 serupa di Swedia 1958. Empat pilar lain dari gelaran sebelumnya adalah kiper Gilmar, dua bek sayap Nilton dan Djalma Santos, serta Vava di depan. 

Kekurangan daya gedor dan pengalaman pada diri Pele memang sempat membuat Brasil goyah di final. Cekoslowakia langsung mengancam saat laga baru berlangsung 90 detik ketika umpan Tomas Pospichal dicecar Adolf Scherer, tapi masih bisa disergap Gilmar. Peluang dini itu membuat Cekoslowakia percaya diri hingga bisa mengendalikan tempo permainan.  Pemain Cekoslowakia, Josef Masopust, membawa timnya memimpin setelah menjejalkan sodoran daerah apik Scherer saat duel memasuki menit ke-15.

Akan tetapi, seperti empat tahun sebelumnya, Brasil bangkit dari ketertinggalan. Selecao tak berlama-lama memberikan balasan. Amarildo, pemain yang baru melakukan debut di Timnas Brasil pada April setahun sebelum final di Santiago ini, memuncaki penampilan memukau yang membuat Brasil mampu melupakan kehilangan Pele. 

Amarildo bersinar di laga pertamanya di turnamen ini, tepatnya pada 6 Juni 1962 saat dua golnya Brasil memastikan kelolosan ke perempat final dengan menekuk Spanyol, juga dari posisi tertinggal. Di final, pemain bernama lengkap Amarildo Tavares da Silveira itu berhasil memanfaatkan kesalahan langka kiper Cekoslowakia, Viliam Schrojf, dua menit setelah gol Masopust dengan penyelesaian dari sudut sempit.

Setelah skor imbang saat jeda antarbabak, Brasil memperlihatkan keperkasaannya. Sebaliknya, Cekoslowakia terpuruk karena kesalahan fatal di partai penting ini.

Zito dan Vava memastikan gelar kedua beruntun Selecao dengan dua gol dalam tempo sembilan menit, masing-masing pada menit ke-69 dan 78. Catatan buat gol Vava, Schrojf kembali mesti melihat bola bersarang di gawangnya karena kelalaiannya sekali lagi.

Brasil pun mengikuti jejak Italia sebagai tim yang bisa mempertahankan gelar. Gli Azzurri melakukannya di Piala Dunia 1938.

Sebuah fakta menarik, penyerang Brasil, Amarildo, menjadi pemain terakhir di final tersebut yang masih hidup, berusia 86 tahun hingga awal 2026 ini. Pemain Cekoslowakia terakhir adalah Josef Jelinek, yang meninggal pada 29 November 2024 di usia 83 tahun. 

Editor: Christian Gunawan

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Purbaya Akui Sudah Lama Tahu Dugaan Safe House dalam Kasus Bea Cukai
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Putus Rantai Tengkulak, Polri Fasilitasi Permodalan KUR dan Penyerapan Bulog bagi Petani Jagung
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Ingatkan Kader Gerindra Mawas Diri: Jaga Uang Rakyat, Jangan Lakukan Perbuatan Tercela!
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Harga Emas Hari Ini: UBS dan Galeri24 Turun, Antam Justru Naik
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Adjie Pangestu Murka Disebut Ayah Biologis Anak Denada, Akhirnya Buka Suara: Mau Nangis Gue
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.