EtIndonesia. Situasi perang Rusia–Ukraina memasuki babak baru yang semakin kompleks. Di tengah kebuntuan pertempuran darat, serangkaian peristiwa besar terjadi hampir bersamaan: gangguan massal jaringan Starlink di wilayah pendudukan Rusia, ledakan misterius di jalur logistik Rusia, intensifikasi serangan drone lintas wilayah, serta tekanan ekonomi yang kian mencekik Moskow.
Starlink Terputus Massal, Sistem Komando Rusia Terguncang
Pada 5 Februari 2026, jaringan satelit Starlink yang selama ini digunakan oleh pasukan Rusia di wilayah pendudukan Ukraina tiba-tiba terputus secara luas dan serentak. Saluran Telegram dan media sosial berbahasa Rusia dipenuhi keluhan dari unit-unit militer yang melaporkan hilangnya koneksi hampir di seluruh garis depan.
Gangguan ini segera memicu kekacauan besar dalam sistem komando, pengendalian drone, serta koordinasi artileri Rusia. Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Sergei Beskrestnov, penasihat teknis Kementerian Pertahanan Ukraina, yang secara terbuka menyebut insiden ini sebagai “bencana nyata” bagi pasukan Rusia.
Menurut Beskrestnov, ribuan terminal Starlink milik Rusia mendadak tidak dapat terhubung ke jaringan, bahkan setelah dilakukan restart berulang kali. Kondisi ini secara drastis menurunkan kemampuan Rusia dalam pengintaian real-time dan pengambilan keputusan di medan tempur.
Tekanan Kiev ke SpaceX dan Langkah Pengamanan Baru
Meski Moskow menyangkal terjadinya keruntuhan rantai komando, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Rusia memang secara resmi dilarang menggunakan Starlink. Terminal-terminal tersebut diperoleh melalui negara ketiga dan jalur pasar gelap.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kiev secara aktif menekan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, agar memutus akses ilegal tersebut. Akibatnya, diperkirakan lebih dari 500.000 terminal Starlink di zona pendudukan Rusia kini tidak lagi aktif.
Sebagai langkah lanjutan, Ukraina mengumumkan akan menerapkan sistem whitelist, di mana hanya terminal Starlink yang terverifikasi dan terdaftar secara resmi yang dapat mengakses jaringan. Kebijakan ini bertujuan mencegah penyalahgunaan teknologi sipil oleh pihak militer Rusia di masa depan.
Dukungan Barat Berlanjut: Drone dan Infrastruktur
Sejalan dengan insiden Starlink, Pentagon pada awal Februari mengundang sejumlah perusahaan teknologi Ukraina untuk berpartisipasi dalam program pengembangan drone generasi baru. Program ini dipandang sebagai upaya memperkuat kemampuan asimetris Ukraina di tengah keterbatasan sumber daya.
Sementara itu, Prancis mengumumkan tambahan bantuan sebesar 71 juta dolar AS yang difokuskan pada perbaikan dan penguatan infrastruktur vital Ukraina, terutama sektor energi yang terus menjadi sasaran serangan Rusia.
Ledakan di Tambov: Jalur Logistik Rusia Terpukul
Di dalam wilayah Rusia sendiri, situasi keamanan juga memburuk. Pada 4 Februari 2026, sebuah kereta tanker bahan bakar militer anjlok dan meledak hebat di wilayah Tambov, sekitar ratusan kilometer dari Moskow. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat logistik utama bagi pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina.
Ledakan tersebut menyebabkan kerusakan serius pada jalur transportasi dan memicu spekulasi luas tentang aksi sabotase. Gangguan di Tambov dinilai dapat berdampak langsung pada rantai suplai bahan bakar dan amunisi menuju garis depan Rusia.
Serangan Drone Saling Balas dan Perubahan Medan Tempur
Pada 5 Februari 2026, perang Rusia–Ukraina resmi memasuki hari ke-1443. Di hari yang sama, Rusia melancarkan 183 serangan drone dan dua rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 156 drone, namun 16 lokasi tetap terdampak, termasuk fasilitas energi dan permukiman.
Sebagai balasan, Ukraina meluncurkan serangan drone berskala besar ke wilayah Rusia, Krimea, dan kawasan timur. Target serangan kini diarahkan secara sistematis ke simpul transportasi, fasilitas energi, dan industri militer, menandai perubahan strategi dari sekadar pertahanan menuju pelemahan struktural Rusia.
Di medan darat, meskipun sebagian besar sektor masih buntu akibat cuaca musim dingin ekstrem, Ukraina mencatat keberhasilan taktis langka dengan merebut kembali wilayah luas di barat daya Pokrovsk. Kemenangan ini dinilai penting secara moral dan operasional, meski belum mengubah peta perang secara keseluruhan.
Tekanan Ekonomi Rusia Kian Menggila
Di luar medan tempur, tekanan paling berat justru kini menumpuk di sektor ekonomi Rusia. Data awal Januari 2026 menunjukkan bahwa pendapatan minyak dan gas Rusia anjlok hampir 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga minyak mentah Ural turun ke sekitar 35 dolar AS per barel, jauh di bawah harga keseimbangan anggaran negara. Kondisi ini memaksa pemerintah Rusia mulai membahas langkah-langkah ekstrem untuk menutup defisit, termasuk pemangkasan anggaran dan penggunaan cadangan nasional.
Sebaliknya, Ukraina menerima dorongan signifikan dari luar negeri. Uni Eropa menyetujui pinjaman hingga 90 miliar euro untuk membantu stabilisasi ekonomi dan pemulihan energi Ukraina, memperkuat daya tahannya dalam perang jangka panjang.
Kesimpulan: Tekanan Terbesar Kini di Belakang Rusia
Meski pertempuran di garis depan masih berlangsung tarik-menarik, rangkaian peristiwa awal Februari 2026 menunjukkan satu pola jelas: tekanan terbesar kini tidak lagi berada di parit, melainkan di belakang Rusia—pada sistem komando, logistik, teknologi, dan fondasi ekonominya.
Insiden Starlink menjadi peringatan keras bahwa ketergantungan pada sistem satelit dan teknologi eksternal membawa risiko strategis besar, sementara serangan terhadap logistik dan ekonomi berpotensi menentukan arah perang lebih dari sekadar perebutan wilayah.





