Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan komitmennya untuk menjaga resiliensi sektor jasa keuangan agar tetap kontributif terhadap perekonomian nasional. Sebagai upaya konkret, OJK menetapkan tiga kebijakan prioritas pada 2026 guna memperkuat kredibilitas, serta tata kelola pasar keuangan Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026 di Jakarta. Pada forum tersebut, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi memaparkan tiga pilar strategis arah kebijakan OJK tahun 2026, yakni penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem yang kontributif, serta pendalaman pasar keuangan berkelanjutan.
Pada pilar penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, OJK bersama self-regulatory organization (SRO), pelaku industri, dan pemangku kepentingan sepakat membentuk Satuan Tugas Reformasi Integritas Pasar Modal. Satgas tersebut akan mengeksekusi delapan rencana aksi percepatan, di antaranya peningkatan ambang batas free float menjadi 15 persen serta penguatan transparansi pemilik manfaat atau ultimate beneficial owner.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto. Ia menyampaikan apresiasi atas langkah perbaikan yang terus dilakukan OJK, sekaligus menitipkan perhatian pemerintah terhadap industri padat karya.
"Berterima kasih bahwa OJK terus melakukan perbaikan, namun kami punya satu titipan, bahwa pemerintah ingin melakukan perbaikan terhadap industri padat karya. Dalam hal ini industri tekstil, dan Bapak Presiden sudah menyetujui kita akan siapkan dana sebesar Rp6 bilion, dan sudah punya roadmapnya," ujar Airlangga dalam tayangan program Prioritas Indonesia di Metro TV, Jumat, 6 Februari 2026.
Baca Juga :
OJK Siapkan Satgas Khusus Benahi Integritas Pasar ModalIa menambahkan, ekspor industri terkait saat ini berada di kisaran Rp4 miliar dan dinilai masih berpeluang meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun.
Sejalan dengan itu, OJK menilai kondisi fundamental ekonomi dan kinerja sektor jasa keuangan saat ini cukup solid sebagai modal pertumbuhan ke depan. Friderica menyampaikan optimisme terhadap kinerja sektor keuangan pada 2026.
"Mencermati berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, dan juga kebijakan saat ini yang kita ambil, maka kami optimistis kinerja sektor keuangan tetap tumbuh secara berkelanjutan di tahun 2026. Di mana kami memberikan outlook untuk kredit perbankan, diproyeksikan akan tumbuh sebesar 10-12 persen, didukung pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 7-9 persen, kemudian aset program asuransi diperkirakan akan tumbuh 5-7 persen, aset program dana pensiun diperkirakan akan tumbuh 10-12 persen, dan aset program penjaminan diperkirakan tumbuh 14-16 persen," kata Friderica.
Selain itu, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan diproyeksikan tumbuh 6-8 persen. Di pasar modal, penghimpunan dana ditargetkan mencapai Rp250 triliun pada 2026.
OJK juga memproyeksikan total permintaan skor kredit melalui innovative credit scoring mencapai 200 juta permintaan, sementara nilai transaksi melalui agregator diperkirakan tumbuh hingga Rp27 triliun.



