Peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Negara pertama RI, Fatmawati Soekarno, menjadi momen reflektif bagi keluarga besar Bung Karno. Dalam acara Fatmawati Trophy di Museum Fatmawati, Jakarta Selatan, kisah awal mula Sang Saka Merah Putih kembali dituturkan dari sudut pandang keluarga.
Cucu Fatmawati, Puti Guntur Soekarno, mengungkap cerita saat neneknya menerima dua helai kain merah dan putih dari seorang perwira Jepang pada Oktober 1944. Saat itu, Fatmawati tengah mengandung putra pertamanya, Guntur Soekarnoputra.
Menurut Puti, bahan kain tersebut datang dalam situasi yang serba tidak pasti.
“Bahan merah dan putih itu tidak ada yang tahu, bahkan Ibu Fatmawati sendiri tidak mengerti harus diapakan. Karena sedang mengandung, maka pikirannya mungkin—dari perwira yang memberikan bahan itu—ini adalah untuk dibuat popok bayi,” kata Puti dalam acara bertajuk Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno dalam Balutan Wastra Nusantara di Museum Fatmawati, Sabtu (7/2).
Dari kain itulah kemudian lahir bendera pusaka. Puti menuturkan, Fatmawati menjahit sendiri Merah Putih tanpa membayangkan peran besar kain tersebut di kemudian hari.
“Tanpa bertanya apakah suaminya akan menjadi presiden atau dirinya menjadi Ibu Negara, Fatmawati menjahit bendera itu dengan tangan, di tengah kondisi hamil besar dan ancaman tentara Jepang,” ujarnya.
Dalam pandangan keluarga, sosok Fatmawati bukan hanya tercatat sebagai penjahit Sang Saka, tetapi juga figur budaya yang membentuk citra Indonesia di mata dunia. Puti menyebut, neneknya konsisten menampilkan identitas nasional melalui busana tradisional saat mendampingi Presiden Soekarno menerima tamu-tamu negara.
“Beliau menampilkan diri sebagai Ibu Bangsa yang penuh percaya diri. Mendampingi Bung Karno menerima tamu-tamu negara dari segala bangsa, beliau tampil dalam ciri khas keindonesiaan, dalam balutan Wastra Nusantara,” tutur Puti.
Ia juga menyinggung sisi personal Fatmawati yang jarang tercatat dalam buku sejarah. “Sebagai seorang nenek, hari ini saya, Mas Romy, Mas Dade, sampai hari ini masih bisa merasakan kehangatan cinta dari Ibu Fatmawati. Cinta yang sederhana dari seorang ibu, melalui masakannya,” kata Puti.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut diluncurkan Fatmawati Trophy 2026 sebuah kompetisi desain busana yang terinspirasi oleh kebaya Fatmawati. Acara juga diisi tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno.



