Bisnis.com, DENPASAR – Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena mendatangi makam dan rumah duka YB, siswa berusia 10 tahun yang bunuh diri karena terjerat kemiskinan.
Melki datang pada Sabtu (7/2/2026) didampingi Bupati Ngada Raymundus Benda, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, serta jajaran Pemerintah Provinsi NTT.
Ia menjelaskan kehadirannya bukan sekadar menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menjadi momen introspeksi yang sangat dalam bagi dirinya pribadi dan seluruh jajaran pemerintah.
"Di hadapan ibu, nenek, dan kakak YB, saya menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian negara dan pemerintah yang belum sepenuhnya hadir menjaga anak-anak kita," jelas Melki dari keterangan resminya, Sabtu (7/2/2026).
Melki menyebut kepergian YB mengguncang nurani semua pihak dan menjadi peringatan keras. Ia menyebut peristiwa bunuh diri harus menyadarkan semua pihak untuk lebih peduli, lebih peka, dan lebih cepat bertindak.
"Anak-anak tidak boleh merasa sendirian, tidak boleh diabaikan, dan tidak boleh kehilangan harapan," kata Melki.
Baca Juga
- Kronologi Lengkap Siswa Bunuh Diri Siswa SD Versi Pemkab Ngada
- Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT, JK Sebut Akibat dari Masalah Kemiskinan yang Belum Bisa Diatasi
- Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Kemendikdasmen: Almarhum Penerima PIP
Melki menekankan kepada seluruh jajaran pemerintah di NTT agar bekerja lebih serius, memastikan pendidikan, bantuan sosial, dan layanan publik benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Pemkab Ngada, YB merupakan keluarga yang berada dalam kategori miskin ekstrem. Ia tinggal bersama neneknya, sementara ibunya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Keluarga YB sebenarnya berhak atas bantuan sosial dan pendidikan dari pemerintah, seperti BLTS Kesra sebesar Rp300.000 per bulan, bantuan Program Kartu Indonesia Pintar (PIP) untuk YB. Namun semua bantuan tersebut tidak bisa dicairkan karena terkendala administrasi kependudukan.
Walaupun tinggal di Kabupaten Ngada, KTP keluarga YB masih tercatat di Kabupaten Nagekeo. Menurut pengakuan Pemerintah Desa, pihaknya sudah meminta ibu YB memproses mutasi kependudukan, akan tetapi tidak ditindaklanjuti.


