Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti isu child grooming, termasuk kasus yang menimpa aktris Aurelie Moeremans. Menurutnya, pencegahan child grooming membutuhkan kepekaan dari lingkungan terdekat anak serta kesadaran bersama.
“Kalau saya lihat dari bukunya Aurelie, child grooming itu memang membutuhkan kepekaan dari masyarakat, orang-orang terdekat di sekitarnya,” ujar Arifah usai menghadiri pengukuhan pengurus MUI 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).
Ia mencontohkan pola dalam kasus child grooming. Meski korban memiliki kesadaran untuk keluar dari situasi tersebut, pelaku terus berusaha membangun ketergantungan dengan meyakinkan korban bahwa dirinya adalah satu-satunya pelindung.
“Sebetulnya Aurelie ini kadang tumbuh kesadaran untuk lari dari situ, tetapi pelaku mencoba memperkuat bahwa ‘saya yang paling benar, saya yang paling bisa melindungi kamu, jadi kamu tidak bisa melepaskan diri dari saya’,” jelas Arifah.
Peran MediaArifah menilai media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan kewaspadaan publik terhadap tanda-tanda child grooming.
“Ayo kita bareng-bareng memberikan pemahaman dan penyadaran kepada anak-anak, kepada siapa pun, untuk mawas diri,” tuturnya.
Ia juga mengajak keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
“Terutama keluarga terdekat,” ujarnya.
“Itu bisa keluarga di rumah, di sekolah, dan masyarakat sekitar. Kalau melihat ada seseorang yang kemudian berubah sikap secara tiba-tiba, maka perlu ada pendekatan yang lebih khusus,” papar Arifah.
Menurutnya, upaya pencegahan child grooming merupakan tanggung jawab bersama karena menyangkut masa depan anak-anak.
“Yuk bareng-bareng dengan media. Saya pikir media juga punya kepentingan yang sama karena ini adalah masa depan kita dalam menjaga anak-anak kita,” tandas Arifah.




