Penulis: Intan Kw
TVRINews, Donggala
Desa Towale yang terletak di Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menyimpan sebuah tradisi yang masih bertahan hingga kini. Masyarakat menyebutnya Modiu Bulava Mpongeo.
Tradisi Bulava Mpongeo dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan Tahun Baru Islam (1 Muharram) dan berlangsung di rumah salah satu pewaris Bulava Mpongeo.
Kepala Desa Towale, Mohammad Subhan, mengatakan proses pelaksanaan ritual Bulava Mpongeo sendiri tidaklah singkqt. Rangkaian dimulai dari musyawarah lembaga adat, pembagian tugas kepada panitia, hingga pengambilan air dari empat sumber mata air yang dianggap sakral.
"Jadi proses memandikan emas ini sebenarnya itu sebelumnya kita rapat dulu bersama lembaga adat. Setelah rapat, sudah ada tugas-tugas yang diberikan kepada panitia di kegiatan upacara adat itu. Karena ada proses pengambilan air dari empat titik sumber mata air," kata Subhan saat ditemui oleh tvrinews.com di Masjid Auliya, Donggala, Sabtu, 7 Februari 2026.
Empat titik air tersebut berasal dari Banawa Selatan di kawasan Tolongano, Desa Towale bagian Toporandu, Uventumbuh, serta pertemuan Sungai Ngwara. Air dari keempat sumber itu disatukan, lalu dicampur dengan dedaunan seperti daun pandan sebagai wewangian sebelum digunakan dalam prosesi adat.
Dalam pelaksanaannya, seorang tetua adat yang mengenakan pakaian serba kuning memimpin jalannya ritual dengan membacakan doa. Air yang telah disiapkan kemudian dipindahkan ke dalam sebuah baskom besar untuk memandikan Bulava Mpongeo yang diletakkan di atas wadah beralas kain kuning.
Wadah yang dinaungi payung berwarna kuning itu dikelilingi sajen berupa telur, beras pulut tiga warna yakni kuning, hitam dan putih serta beberapa lembar daun. Dua perempuan paruh baya berpakaian serba kuning duduk mendampingi tetua adat.
Di atas wadah juga dibentangkan kain berisi dedaunan, sementara seorang perempuan lainnya bertugas menyiram dedaunan tersebut hingga airnya mengalir ke baskom di hadapan tetua adat.
Menariknya, seluruh peran dalam ritual telah ditentukan secara turun-temurun. Setiap rumpun keluarga memiliki tugas masing-masing, mulai dari pengambilan air hingga mendampingi prosesi pemandian.
"Jadi semua sudah diberikan tugas masing-masing oleh orang tua. Jadi kita tinggal mengikut. Mana turunannya, kalau neneknya sudah tidak ada, cari anaknya lagi. Kalau tidak ada anaknya, cucunya lagi. Begitu terus sampai ke bawah," jelas Subhan.
Ritual memandikan Bulava Mpongeo bukan sekadar upacara adat. Bagi masyarakat Towale, tradisi ini menjadi sarana menjaga warisan budaya sekaligus mempererat silaturahmi keluarga.
"Tujuannya mungkin salah satu ini untuk melestarikan budaya, dan kedua ini menjadi ajang atau tempat silaturahmi buat keluarga," tutur Subhan.
Editor: Redaksi TVRINews





