Bayi Sering Gumoh? Ini Fakta Medis yang Perlu Diketahui

tabloidbintang.com
19 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Fenomena gumoh atau regurgitasi pada bayi kerap bikin orang tua panik. Tak sedikit yang langsung mengaitkannya dengan penyakit serius. Padahal, secara medis, kondisi tersebut justru tergolong normal dan umum dialami bayi, khususnya di awal masa kehidupannya.

CEO RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari, MARS, dalam sambutannya menekankan pentingnya edukasi kesehatan anak yang berbasis ilmiah. Relia Sari menyebut peran media sangat krusial dalam membantu orang tua mendapatkan informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

“RS Premier Bintaro berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak secara optimal melalui edukasi yang akurat dan berbasis bukti,” ujar dr. Relia Sari di acara Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro, di Tribrata, Jakarta Selatan.

Mengangkat tema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan”, acara tersebut membahas soal kesehatan pada bayi.

Berdasarkan data klinis yang dipaparkan, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3 hingga 4 bulan.

Kondisi ini biasanya akan berangsur membaik dan menghilang sendiri sebelum usia satu tahun. Bayi dengan kondisi ini kerap disebut happy spitter, karena tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh normal meski sering gumoh.

Berbeda dengan regurgitasi biasa, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tergolong jauh lebih jarang terjadi, dengan angka kejadian hanya sekitar 3–8 persen.

GERD dapat memicu peradangan kerongkongan dan berujung pada berbagai komplikasi, mulai dari gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, hingga regurgitasi bercampur darah.

Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro, Rabu (4/2) di Tribrata, Jakarta Selatan

Sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menegaskan bahwa kesalahan paling sering terjadi adalah menyamakan regurgitasi fisiologis dengan GERD.

“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya. GERD justru jarang. Kita harus waspada bila muncul tanda bahaya seperti gagal tumbuh, regurgitasi berdarah, nyeri hebat, atau gangguan neurologis,” jelas Prof. Badriul.

Ia menambahkan, tanpa adanya tanda bahaya tersebut, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan. Tangisan berlebihan atau bayi rewel pun belum tentu menandakan GERD, karena hal itu bisa terjadi pada bayi yang sehat.

Dalam diskusi juga disoroti pentingnya evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain, seperti alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD.

Untuk penanganan awal, dokter menekankan pendekatan non-obat sebagai langkah utama. Mulai dari edukasi orang tua, melanjutkan ASI, menghindari pemberian susu berlebihan, mengatur posisi bayi, hingga penggunaan susu formula khusus bila diperlukan. Pemberian obat hanya dilakukan pada kasus GERD yang benar-benar terkonfirmasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cetak Emas Digital Sedang Sulit? Simak Tips Investasi Ini
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Survei Indikator: Kepercayaan TNI Tertinggi tapi Turun Gegara Peran Makin Luas
• 2 jam laludetik.com
thumb
8 Bahaya Sering Konsumsi Obat Tidur
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Posisinya di Ducati untuk MotoGP 2027 Terancam, Francesco Bagnaia Akui Dirinya Sudah Siap untuk....
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Bidik Pasar Timur Tengah, Indospring (INDS) Perluas Ekspansi Ekspor
• 12 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.