Aku pernah duduk manis di beberapa kajian. Ada yang di masjid, ada yang di YouTube. Tema yang diangkat hampir sama: kalau hidup mentok, kalau masalah terasa seperti tembok beton bertulang, solusinya adalah perbanyak istighfar. Perbanyak tobat. Nanti Allah tunjukkan jalan.
Kalimat itu terdengar hangat. Menenangkan, seperti selimut tebal di musim hujan. Tidak ada yang salah, bahkan indah. Sampai pikiranku, entah kenapa, tersandung batu yang bernama epistemologi.
Epistemologi itu cabang filsafat yang cerewet. Ia tidak peduli seberapa merdu suara penceramah. Ia hanya bertanya dengan polos tapi kejam, "Kamu tahu itu dari mana?" dan "Bagaimana kamu tahu cara mencapainya?"
Di situlah kepalaku mulai rewel.
Karena dalam ceramah itu, solusi seolah digambarkan sebagai sesuatu yang turun. Ditunggu, diantisipasi, seperti wangsit yang pelan-pelan menembus langit, lalu mendarat di kepala orang yang cukup banyak beristighfar. Ada kesan pasif yang sangat halus. Tugasmu adalah menunggu dengan saleh.
Padahal, kalau sedikit saja kita menggeser kursi dan duduk di ruang epistemologi, pemandangannya berubah total.
Di sana, solusi dari masalah bukan sesuatu yang ditunggu. Ia sesuatu yang dicari. Dibongkar, diuji, dicoba, direvisi. Gagal? Coba lagi.
Bukan menunggu jalan ditunjukkan, melainkan berjalan sambil menyalakan lampu yang bernama akal.
Di titik ini, aku mulai merasa ada dua cara berpikir yang tidak sepenuhnya akur, meski sering dipeluk dalam satu kalimat yang sama.
Cara pertama:
Masalah = tanda dosa.
Solusi = perbanyak istighfar.
Hasil = Allah menunjukkan jalan.
Cara kedua:
Masalah = fenomena yang bisa dianalisis.
Solusi = gunakan akal, data, pengalaman, percobaan.
Hasil = jalan ditemukan melalui proses berpikir.
Yang lucu, keduanya sama-sama menyebut nama Allah, tetapi bekerja dengan mekanisme yang sangat berbeda.
Cara pertama menjadikan Allah seperti Google Maps spiritual. Kamu cukup diam, nanti rute akan muncul.
Cara kedua memandang Allah sebagai pemberi kendaraan, bahan bakar, peta, dan kemampuan membaca arah. Kamu tetap harus menyetir.
Di sinilah sarkasmenya pelan-pelan muncul.
Karena kalau semua jalan keluar masalah cukup dengan istighfar, para ilmuwan, insinyur, dokter, penemu vaksin, pembuat jembatan, ahli pertanian sebenarnya selama ini hanya kurang istighfar saja. Seharusnya mereka tidak perlu laboratorium. Cukup sajadah.
Padahal, realitasnya tidak begitu.
Pesawat terbang bukan hasil dari seseorang yang duduk di padang pasir menunggu inspirasi turun setelah 10.000 kali istighfar. Ia lahir dari eksperimen, kegagalan, hitung-hitungan, dan keberanian berpikir. Dan semua itu, ironisnya adalah penggunaan akal yang juga merupakan anugerah Allah.
Di sini terasa ada kekeliruan halus dalam cara memahami hubungan antara tobat dan solusi.
Tobat itu urusan moral dan spiritual. Ia membersihkan hati, menenangkan batin, dan membuat pikiran lebih jernih. Itu masuk akal. Itu sangat logis.
Namun, solusi dari masalah tetap berada di ranah pengetahuan dan tindakan.
Istighfar tidak menggantikan proses berpikir. Ia hanya membuat proses berpikir tidak keruh.
Masalahnya, di banyak ceramah, posisi ini sering terbalik. Seolah istighfar adalah metode utama menemukan solusi, sementara akal hanya penonton yang duduk sopan di pojok kepala.
Padahal, kalau ditarik ke epistemologi, justru akal adalah alat utama untuk mengetahui, memahami, dan memecahkan, sedangkan istighfar adalah kondisi batin yang mendukung alat itu bekerja lebih sehat.
Jadi bukan, “Beristighfarlah, nanti Allah beri jalan” melainkan lebih tepat, “Beristighfarlah, agar akalmu jernih ketika mencari jalan.”
Perbedaannya tipis di kalimat, tetapi sangat besar pada cara berpikir.
Yang satu membuat orang menunggu.
Yang satu membuat orang bergerak.
Yang satu berharap solusi turun.
Yang satu sadar solusi harus ditemukan.
Dan di situlah aku sering merasa geli setiap kali mendengar ceramah itu. Bukan karena salah, melainkan karena setengah benar. Dan setengah benar, dalam filsafat, sering lebih berbahaya daripada salah total.
Karena ia membuat orang merasa sudah melakukan sesuatu, padahal belum mulai berpikir.
Istighfar membuat hati tenang. Akal membuat masalah selesai.
Keduanya bukan saingan, tetapi juga bukan pengganti satu sama lain.
Dan mungkin, yang paling jarang dikatakan di mimbar adalah perkataan ini:
“Allah tidak hanya memberi kita kesempatan untuk bertobat. Allah juga memberi kita otak.”


