Catatan Editor:
Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
__________
Kasus anak berusia 10 tahun yang memilih mengakhiri hidupnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengejutkan banyak pihak. Apalagi, siswa kelas IV sekolah dasar itu diduga bunuh diri karena keluarganya tidak mampu membeli pena dan buku untuk sekolah.
Jika dirunut ke belakang, kasus bunuh diri berulang kali terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, pada 2018, terdapat 158 desa di NTT yang ditemukan kasus bunuh diri. Khusus di Ngada, saat itu ada empat desa dengan kasus bunuh diri.
Pada 2021, jumlah desa dengan kasus bunuh diri di NTT berkurang menjadi 145 desa. Di Ngada, lagi-lagi terdapat empat desa dengan kasus tersebut.
Namun, pada 2024, jumlah desa di NTT yang ditemukan kasus bunuh diri meningkat menjadi 226 desa. Jumlah desa di Ngada dengan kasus bunuh diri juga meningkat menjadi 16 desa.
Di sisi lain, Ngada adalah salah satu wilayah dengan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku yang terbilang rendah di Pulau Flores, NTT. Pada 2024, PDRB Ngada adalah Rp 4,4 triliun. Angka itu membuat Ngada menjadi wilayah dengan PDRB terendah ketiga di Pulau Flores.
Kabupaten Nagekeo menjadi wilayah dengan PDRB terendah dengan nilai Rp 2,8 triliun. Adapun daerah dengan PDRB terendah kedua adalah Manggarai Timur, yakni Rp 4,2 triliun. Adapun Kabupaten Ende memiliki PDRB paling tinggi di Pulau Flores, yaitu Rp 7,8 triliun.
Pada 2024, pertumbuhan ekonomi Ngada sebesar 3,67 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan 2023 yang sebesar 3,49 persen. Adapun tiga sektor penopang ekonomi Ngada adalah pertanian (51,61 persen), industri (32,44 persen), dan jasa (15,95 persen). Sementara 72,51 persen masyarakat Ngada bekerja di sektor informal.
Tingkat kemiskinan di Ngada sebesar 11,22 persen pada 2025. Meski menurun ketimbang kondisi 2024 yang sebesar 11,87 persen, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional yang sebesar 8,25 persen pada September 2025.
Pada 2024, jumlah penduduk Ngada sebanyak 174.088 jiwa. Artinya, ada sekitar 19.000 warga miskin di kabupaten tersebut.
Selain kemiskinan, Ngada juga masih mengalami masalah ketimpangan ekonomi. Berdasarkan data BPS Ngada, rasio gini di kabupaten itu pada 2024 sebesar 0,343. Angka tersebut naik ketimbang kondisi 2023 yang sebesar 0,312.
Sejumlah kondisi tersebut perlu dipahami untuk melihat latar sosial yang lebih luas dalam kasus anak yang bunuh diri di Ngada. Seperti diberitakan Kompas, korban ditemukan tewas di dekat sebuah pondok pada Kamis (29/1/2026) siang. Pondok itu merupakan tempat tinggal korban bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dari hasil pemeriksaan polisi terhadap sejumlah tetangga korban, diperoleh informasi bahwa korban sempat terlihat duduk di bale-bale, tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, di luar pondok tempat tinggalnya, beberapa jam sebelum ditemukan tewas.
Dua tetangga pun mengaku sempat berbincang dengan korban. Mereka menanyakan keberadaan nenek korban serta alasan korban tidak ke sekolah. Saat itu, korban tampak murung.
Sebelum bunuh diri, korban disebut sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena sang ibu tidak punya uang.
Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Wida Ayu Puspitosari, mengatakan, anak yang melakukan bunuh diri itu bisa jadi merasa dihukum secara sosial karena tidak mampu memenuhi standar minimal seorang siswa.
Sebab, saat siswa lain bisa membeli buku dan pena, korban tidak mampu. Kondisi ini pun mencerminkan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.
”Bunuh diri di sini adalah bentuk protes paling ekstrem terhadap struktur sosial yang tidak memberikan ruang bagi mereka yang paling lemah,” kata Wida.
Dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat, Malang, dr Yulia Fatima Bessing, SpKJ, mengatakan, bunuh diri biasanya disebabkan oleh dua hal, yaitu putus asa dan merasa sendiri. Dia menyebut, dua hal itu sering menjadi bahan bakar timbulnya pikiran dan tindakan bunuh diri.
Menurut Yulia, pelaku bunuh diri biasanya merasa buntu atau tak punya opsi lain untuk menyelesaikan masalahnya. Selain itu, ia juga merasa sendiri dan tidak ada orang lain yang memahami.
”Apa pun masalah yang dialami, selama mempunyai ’jalan keluar’ atau tetap merasa terhubung dengan sekitar, maka tindakan dan pikiran bunuh diri bisa tereliminasi,” kata Yulia.
Namun, Yulia juga mengingatkan, kemampuan anak-anak untuk mencari solusi atas masalah yang dialaminya tentu terbatas. Hal ini karena mereka masih bergantung kepada orang di sekitarnya, seperti orangtua dan guru.
Bunuh diri di sini adalah bentuk protes paling ekstrem terhadap struktur sosial yang tidak memberikan ruang bagi mereka yang paling lemah.
Oleh karena itu, dia menambahkan, orang dewasa harus bisa membuat anak-anak merasa terhubung dengan membuka dialog dan menemani mereka. Keluarga serta sekolah juga harus menjadi tempat tumbuh yang aman dan nyaman.
Yulia menyebut, salah satu hal penting yang bisa dilakukan untuk memutus mata rantai bunuh diri di kalangan anak adalah dengan menguatkan peran keluarga dan sekolah.
”Berikan pola asuh yang memungkinkan anak merasa nyaman untuk bercerita, dan orangtua memberikan validasi atas emosi yang dirasakan anak. Stop membekap emosi mereka dengan beragam alasan. Bangun koneksi sosial yang kuat. Itu bisa ditempa di sekolah, supaya mereka terkoneksi dan tidak merasa sendiri apa pun masalahnya,” kata Yulia.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F05%2F140d479cfb5a7b598fee85eabc4c81ec-20260205ronA.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496065/original/061653900_1770460451-Timnas_Futsal.jpeg)

