Indeks Prestasi Kumulatif Tinggi Saja Tak Cukup

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Rencana kuliah ke luar negeri saat ini tak cukup jika seseorang hanya mengandalkan kompetensi generalis. Perkembangan ilmu pengetahuan dan pasar kerja yang sangat dinamis menuntut tiap calon mahasiswa untuk menentukan peminatan ilmu pengetahuan lebih spesifik agar bisa bersaing dengan sumber daya manusia global.

Direktur Indonesia-Britain Education Centre (IBEC) Indonesia Satyadhi Hendra mengatakan tren beasiswa dari luar kampus-kampus di luar negeri, khususnya di Britania Raya (UK), saat ini makin sering ditujukan pada bidang tertentu untuk memperkaya perspektif global di ruang kelas. Peluang mendapatkan beasiswa di UK sangat spesifik dan kompetitif.

"Mahasiswa dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 3,5 atau 4,0 itu ribuan di Indonesia. Jika anda tidak memiliki sesuatu yang bisa ditonjolkan kepada universitas, anda tak jauh lebih baik dari pelajar-pelajar lain di seluruh dunia, anda hanya seorang pelajar," kata Satyadhi, kepada Kompas, Minggu (8/2/2026).

Agen pendidikan transnasional yang berpengalaman lebih dari 25 tahun ini mengungkapkan, kesempatan beasiswa dari universitas-universitas di UK sebenarnya banyak. Sebagai contoh, ada beberapa universitas di Inggris membuka kesempatan beasiswa yang bisa dimanfaatkan para magister Indonesia untuk melanjutkan studi doktoral.

Kompetensi spesifik

Namun tak banyak mahasiswa memiliki kompetensi spesifik yang diharapkan kampus pemberi beasiswa. Jikalau pun ada, kebanyakan dari mereka sudah terlalu memiliki keluarga atau nyaman bekerja dengan pendapatan cukup, sehingga tak ada motivasi untuk melanjutkan studi.

"Saya mencari sampai hari ini belum ketemu orang yang mau lanjut S3 bidang astronomi, fisika, dan ilmu komputer itu enggak ada. Mereka tidak punya nilai lebih dibandingkan mahasiswa lainnya," ungkapnya.

Baca JugaBersiasat Hidup dengan Beasiswa Kuliah Luar Negeri

Dengan begitu, dia menyarankan semua pelajar di Indonesia yang berniat meneruskan studi ke luar negeri agar memupuk peminatan lebih spesifik. Selain itu, kegiatan di luar akademik penting, berbagai cara bisa dilakukan seperti aktif berorganisasi, mengikuti kompetisi, dan menjadi sukarelawan.

"Cari kemampuan dirimu selama kuliah, jangan sekadar menimba ilmu karena itu akan menjadi bekal pada saat anda kuliah ke luar negeri. Kemana pun dalam negeri, tidak hanya ke Inggris," tutur Satyadhi.

Deputy Head of International and Postgraduate Recruitment The University of Edinburgh Louise Tracey menambahkan, setiap mahasiswa internasional yang berkuliah di UK selalu membawa perspektif berbeda sesuai asal usulnya. Keberagaman perspektif itu sangat dibutuhkan dalam membuat suasana belajar lebih hidup.

Menurut Louise, lebih dari 150 mahasiswa Indonesia yang kini menempuh studi di University of Edinburgh berkontribusi tidak hanya akademik, tetapi juga sosial dan kultural. Kehadiran mereka menjadi jendela penting bagi mahasiswa lain untuk memahami Asia Tenggara.

"Hanya dengan memiliki mahasiswa Indonesia di kampus dan berbagi budaya mereka, hal itu sudah menjadi pengalaman yang luar biasa bagi komunitas lokal,” tuturnya.

Louise juga menegaskan, keunggulan utama belajar di UK terletak pada reputasi sistem pendidikan berkualitas dan dikenal sebagai salah satu tujuan pendidikan masyarakat global. Setiap kota di UK juga sangat mendukung kegiatan belajar, mulai dari transportasi publik yang layak hingga kondisi lingkungan hidup yang baik.

Baca JugaPetualangan Mahasiswa Sekaligus Jurnalis di Bloomsbury
Agen pendidikan transnasional

Salah satu isu yang mendapat sorotan besar dalam rencana studi ke luar negeri adalah peran agen pendidikan transnasional. Di tengah kompleksitas kebijakan visa, keamanan global, dan tuntutan orangtua terhadap masa depan anak, agen tidak lagi sekadar membantu proses pendaftaran.

Hanya dengan memiliki mahasiswa Indonesia di kampus dan berbagi budaya mereka, hal itu sudah menjadi pengalaman yang luar biasa bagi komunitas lokal.

Country Director Indonesia dan Southeast Asia Lead British Council Summer Xia menyatakan, agen pendidikan perlu menjadi pendamping strategis bagi pelajar dan orangtua untuk memberi masukan tidak hanya soal universitas, tapi juga keselamatan, pengalaman budaya, hingga prospek karier.

British Council mendorong profesionalisme agen melalui Agents Quality Framework (AQF), program pelatihan gratis dan bersertifikasi internasional. Agen yang telah melalui AQF dan disertifikasi British Council adalah indikator kuat bahwa informasi yang mereka berikan akurat dan dapat dipercaya.

Meski demikian, Summer menegaskan penggunaan agen bukanlah kewajiban. Tidak sedikit pula pelajar yang sukses mendaftar langsung ke universitas luar negeri. Agen hanya menjadi solusi atas keterbatasan waktu dan kebutuhan lainnya.

"Agen pendidikan transnasional hanya memberi lebih banyak pilihan bagi pelajar untuk mengakses pendidikan berkualitas UK,” kata Summer.

Baca JugaSingapura, Negeri Impian Talenta Unggul Indonesia (3)

Selain itu terkait talenta unggul Indonesia pindah ke luar negeri atau brain drain menjadi isu tersendiri. British Council menegaskan pilihan pasca-lulus sepenuhnya berada di tangan para mahasiswa. Inggris menyediakan Graduate Route Visa agar lulusan memperoleh pengalaman kerja internasional.

Terkait hal ini, Satyadhi menilai isu brain drain tidak terlalu banyak terjadi pada mahasiswa Indonesia. Mayoritas mahasiswa tetap memilih pulang dan berkarya di Indonesia.

"Hampir semuanya selalu kembali ke Indonesia dan mereka terlibat secara langsung di pemerintahan, swasta, sektor energi, ataupun pendidikan, kesehatan, banyak sekali sampai hari ini," ucap Satyahadi.

Sementara dalam ThinkTNE Forum yang diadakan British Council di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (4/2/2026), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie menyampaikan pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga Indonesia mendapat pendidikan. Itu dilakukan antara lain melalui pendidikan transnasional bersifat multilateral.

Baca JugaStella Christie, Tantangan Ilmuwan Perempuan

Pendekatan government to government (G2G) yang didorong pemerintah menjadi langkah strategis mentransformasi ekosistem pendidikan nasional. Melalui kolaborasi lintas negara, Indonesia mengirim mahasiswa ke luar negeri sekaligus membuka diri sebagai tujuan pendidikan global.

“Kita tidak lagi berjalan sendiri dengan satu universitas saja, yang ada adalah kolaborasi,” kata Stella.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ibu Tien Didatangi Sosok Ngaku Anak Soeharto, Malam-Malam Malah Kabur
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Fraksi NasDem Dorong Daya Kritis Mahasiswa di Tengah Tsunami Informasi
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenag Jabar Tetapkan 11 Lokasi Pemantauan Hilal Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Zhao Lusi Livestreaming, Dongkrak Penjualan Pertanian Sampai Rp 82 Miliar
• 14 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Era Pemerintahan Presiden Prabowo, Pemulihan Kerugian Negara Capai Rp28,6 T
• 17 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.