Jakarta, VIVA – Warren Buffett dikenal sebagai investor kelas dunia dengan kekayaan miliaran dolar AS, tetapi kehidupan pribadinya justru sederhana. Ia masih tinggal di rumah di Omaha yang dibelinya pada 1958 seharga US$31.500 atau setara Rp529,2 juta.
Kekayaannya tidak dibangun dari gaya hidup mewah atau spekulasi berisiko tinggi, melainkan dari keputusan finansial disiplin yang konsisten selama puluhan tahun.
Filosofi pengeluarannya menyoroti kebiasaan keuangan yang sering dianggap normal, padahal justru menjadi penghambat utama kebebasan finansial. Kebiasaan ini tampak kecil, namun efeknya terakumulasi dan menggerus peluang membangun aset dalam jangka panjang.
Berikut tujuh jenis pengeluaran yang dinilai paling menghambat seseorang menjadi kaya, sebagaimana dirangkum dari New Trader U, Minggu, 8 Februari 2026.
1. Utang Kartu Kredit Berbunga Tinggi
Utang kartu kredit termasuk jebakan finansial paling berbahaya. Dengan bunga 18–20 persen, pertumbuhan utang lebih cepat daripada imbal hasil investasi rata-rata. Akibatnya, bunga berbunga justru bekerja melawan peminjam dan membuat kondisi keuangan makin sulit dikejar. “Jika saya meminjam uang dengan bunga 18 atau 20 persen, saya akan bangkrut,” kata Warren Buffett.
2. Mobil Baru
Mobil baru langsung mengalami depresiasi besar begitu keluar dari dealer, bahkan bisa kehilangan sekitar 20% nilainya di hari pertama dan lebih dari 30% dalam setahun. Kendaraan sejatinya adalah alat transportasi, bukan instrumen investasi. “Faktanya, saya hanya mengemudi sekitar 3.500 mil per tahun, jadi saya sangat jarang membeli mobil baru,” ungkapnya.
3. Judi dan Lotre
Perjudian dan lotre menawarkan harapan instan, padahal peluang menang sangat kecil. Pengeluaran rutin untuk tiket lotre bisa terakumulasi menjadi jutaan rupiah per tahun yang seharusnya bisa diinvestasikan. “Saya bukan orang yang sok suci, tetapi sampai batas tertentu, perjudian adalah pajak atas ketidaktahuan,” kata dia.
4. Belanja Impulsif dan Pengeluaran Tak Perlu
Iklan digital, promo instan, dan kemudahan transaksi mendorong orang belanja dulu, menabung belakangan. Pola ini membuat investasi selalu jadi sisa, bukan prioritas utama. “Jangan menabung dari sisa setelah belanja, tetapi belanjalah dari sisa setelah menabung,” pesannya.
5. Kebiasaan Mahal Seperti Merokok




