JAKARTA, DISWAY.ID - Bicara di acara Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama, Presiden Prabowo Subianto mengatakan tidak ada bangsa yang maju jika pemimpinnya tidak rukun.
Menurut Prabowo, Nahdlatul Ulama (NU) selama ini telah memberi contoh nyata dalam menjaga persatuan dan kerukunan di tengah perbedaan.
"NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan. Dan memang itulah pelajaran sejarah, tidak ada bangsa yang kuat, tidak ada bangsa yang bisa maju kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun," kata Prabowo di Malang, Minggu, 8 Februari 2026.
Karena itu ia mengajak semua pihak untuk bersatu dan mengatakan pemimpin harus menjaga persatuan dan kesatuan.
BACA JUGA:Prabowo: 100 Tahun NU Bukti Pilar Kebesaran Bangsa Indonesia
BACA JUGA:Begini Cara Mudah Cek NIK DTSEN di HP untuk Ambil Bansos Februari 2026, Warga Wajib Tahu!
"Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat, harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan," imbuhnya.
Prabowo mengingatkan bahwa sejarah mengajarkan tidak mungkin tercipta kemakmuran tanpa perdamaian.
Perdamaian, lanjut dia, hanya bisa terwujud jika para pemimpin di berbagai bidang politik, ekonomi, maupun intelektual bersatu dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.
“Tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian. Tidak mungkin ada perdamaian kalau pemimpin-pemimpinnya tidak bersatu, tidak rukun, tidak kompak,” ucapnya.
BACA JUGA:DPRD Pastikan Peserta BPJS PBI Aman, Andri Permana: Warga Kota Tangerang Tak Perlu Panik
BACA JUGA:Ekonomi Indonesia Tumbuh 5.39 Persen, Pengamat Minta Waspadai Hal Ini
Ia mengajak para pemimpin di setiap eselon, pemimpin politik, pemimpin ekonomi, pemimpin intelektual harus berpikir, berpikir, berjuang, mengabdi untuk kepentingan rakyat Indonesia semuanya.
"Tidak boleh pemimpin punya dendam, tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan pihak lain," tegasnya.
Bahkan, lanjut dia, guru-guru dan leluhur mengajarkan mikul dhuwur mendhem jero' yang artinya tidak boleh menyimpan dendam, kebencian, maupun rasa dengki.
- 1
- 2
- »





