FAJAR, SLEMAN -FAJAR, SLEMAN — PSM Makassar tak lagi sekadar bermain untuk tiga poin. Saat menantang PSBS Biak pada pekan ke-20 Super League 2025/2026 di Stadion Maguwoharjo, Minggu (8/2/2026), Pasukan Ramang membawa misi yang jauh lebih besar: memastikan mereka tetap bertahan di kasta tertinggi.
Tujuh laga beruntun tanpa kemenangan—lima kali kalah, dua kali imbang—menjadi bayang-bayang yang belum sepenuhnya sirna. Di papan klasemen, PSM tertahan di peringkat ke-13 dengan 20 poin. Jarak dari zona degradasi belum benar-benar aman.
Laga di Sleman ini adalah barometer.
Tiga Alasan PSM Dijagokan
Secara historis, PSM punya modal psikologis. Dalam tiga pertemuan terakhir melawan PSBS Biak, Juku Eja mencatat dua kemenangan dan satu hasil imbang. Rekam jejak ini memberi kepercayaan diri tambahan bagi Yuran Fernandes dan kolega.
Kedua, PSBS tidak bermain di Papua. Bermarkas di Maguwoharjo sepanjang musim membuat atmosfer laga lebih netral. Tekanan khas publik Biak yang biasanya intens tak sepenuhnya terasa.
Ketiga, kondisi internal PSBS. Klub promosi itu tengah dibelit persoalan finansial dan terkena FIFA Registration Ban. Enam sanksi yang diterima membuat mereka tak bisa menambah pemain di putaran kedua. Sementara tim lain memperkuat skuad, PSBS harus bertahan dengan komposisi lama.
Momentum ini jelas tak boleh disia-siakan PSM.
Catatan Kritis untuk Tomas Trucha
Meski demikian, inkonsistensi PSM tetap jadi sorotan. Jurnalis senior Sulawesi Selatan, M. Dahlan Abubakar, menyebut naik-turunnya performa adalah hal wajar dalam sepak bola, namun adaptasi pelatih anyar belum sepenuhnya menemukan formula ideal.
“Mungkin Tomas Trucha belum menemukan format yang pas. Hampir di setiap laga selalu ada pemain inti yang absen karena akumulasi kartu atau sanksi,” ujarnya.
Mantan pelatih PSM, Syamsuddin Umar, bahkan menilai identitas permainan yang dulu dibangun Bernardo Tavares mulai memudar.
“PSM sebenarnya sudah punya kekuatan taktik. Tapi belakangan ini identitas itu seolah hilang. Mental dan chemistry harus diperkuat kembali,” tegasnya.
Nilai siri’ na pacce—harga diri dan solidaritas khas Makassar—kembali disinggung sebagai fondasi militansi di lapangan.
Teka-Teki Dusan Lagator dan Sheriddin Boboev
PSM datang ke Sleman membawa amunisi baru: Dusan Lagator (bek, Montenegro) dan Sheriddin Boboev (penyerang, Tajikistan). Keduanya langsung mendapat porsi latihan khusus sejak tiba di Makassar.
Menu intensif, simulasi taktik, hingga skema build-up menjadi sinyal kuat bahwa mereka dipersiapkan untuk masuk Daftar Susunan Pemain.
Namun regulasi membatasi hanya sembilan pemain asing dalam DSP. Dengan total 11 pemain asing di skuad, Tomas Trucha harus membuat keputusan strategis.
Apakah Lagator langsung mengisi jantung pertahanan?
Apakah Boboev menjadi solusi kebuntuan lini depan?
Atau PSM memilih pendekatan lebih konservatif demi stabilitas?
Keputusan itu akan menentukan arah pertandingan—bahkan arah musim.
PSBS Tak Bisa Diremehkan
Caretaker PSBS, Kahudi Wahyu Widodo, memastikan timnya siap tempur. Dengan 33 pemain tersedia, rotasi bukan masalah. Namun mereka kehilangan Nurhidayat karena akumulasi kartu—celah yang bisa dimanfaatkan PSM.
Bermain di Maguwoharjo tetap menghadirkan atmosfer kompetitif. PSBS punya motivasi sendiri untuk membuktikan mereka bukan sekadar tim bertahan hidup.
Lebih dari Sekadar Tiga Poin
Di Maguwoharjo, Minggu sore nanti, PSM tak hanya mempertaruhkan angka di klasemen.
Ada reputasi yang harus dijaga.
Ada momentum yang harus direbut kembali.
Dan ada arah musim yang sedang ditentukan.
Jika menang, narasi krisis bisa berubah menjadi kebangkitan.
Jika kembali gagal, tekanan akan semakin berat.
Bagi Pasukan Ramang, laga ini bukan sekadar pertandingan pekan ke-20. Ini tentang memastikan mereka masih layak berdiri di Super League — bukan sekadar bertahan, tetapi kembali bersaing.





