Dalam kesunyian, Fatmawati Soekarno menyatukan seluruh anak bangsa. Sayup-sayup pemberdayaan perempuan turut diperjuangkannya. Sekarang, memori kolektif tentangnya digali kembali dalam ajang lomba desain busana.
Deretan foto lawas berwarna hitam putih berderet-deret dipajang pada salah satu lorong, di kediaman Fatmawati Soekarno, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Foto-foto itu menampilkan Fatmawati pada beragam kesempatan dengan berbagai busana anggunnya.
Di sudut lorong itu, kebaya berwarna merah kecoklatan dengan motif bunga, jarik batik, dan kerudung putih terpasang pada sebuah manekin yang disorot lampu jingga. Kombinasi mode semacam itu merupakan gaya busana khas Fatmawati yang sering terlihat dalam potret berbagai arsip sejarah.
Secuplik kenangan tentang Fatmawati itu dipamerkan saat seremoni pembukaan lomba fesyen nasional bertajuk “Fatmawati Trophy” yang dihelat PDI-Perjuangan untuk mengenang 103 tahun hari lahir sang tokoh. Ajang itu lahir dari kontemplasi putra Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri - yakni M Prananda Prabowo - yang ingin mengabadikan Fatmawati dalam arsip nilai peradaban, bukan sekadar ikon nostalgia.
Ini adalah doa yang penuh makna dari seorang Fatmawati, Ibu Bangsa kita, yang menginginkan bahwa kemerdekaan - sebagai jembatan emas - harus tetap kita jaga menjadi jembatan kokoh yang membawa seluruh rakyat Indonesia menjadi rakyat yang memiliki keadilan, kedaulatan, kesejahteraan, dan kemakmuran.
“Dalam rangka membangun dan menguatkan memori kolektif bangsa terhadap keteladanan ‘Ibu Bangsa’, Fatmawati Soekarno, dipandang perlu menyelenggarakan kompetisi ini,” kata Ketua Panitia Nasional Fatmawati Trophy, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, dalam sambutannya.
Selain sebagai seorang istri dan ibu, Fatmawati dikenal sebagai sosok yang menjahit bendera pusaka Indonesia, “Sang Merah Putih”. Secarik kain merah dan putih yang mempersatukan anak bangsa dalam pekik merdeka.
Pada era itu, urusan menjahit bendera tidak sesederhana kelihatannya. Pasalnya, Indonesia masih berada di bawah penjajahan Jepang. Sebagai penjajah, Jepang menerapkan sistem ekonomi perang yang memprioritaskan logistik untuk kebutuhan mereka. Kain berukuran besar sebagai bahan baku pembuatan bendera sulit diperoleh.
Dalam situasi sulit itu, Fatmawati diberi dua lembar kain besar-besar dari seorang perwira bernama Hitoshi Shimizu, yang menjabat kepala propaganda Jepang di Indonesia. Masing-masing berwarna merah dan putih. Kedua kain itu diambil dari sebuah gudang di kawasan Pintu Air, Jakarta. Sepasang kain itulah yang selanjutnya dijahit Fatmawati menjadi bendera pusaka.
Sewaktu menjahit, kondisinya juga tidak mudah. Fatmawati tengah hamil tua anak pertamanya, Guntur Soekarnoputra. Dokter pun melarangnya untuk menggunakan mesin jahit kaki sehingga ia hanya bisa menggunakan mesin jahit tangan. Keterbatasan itu tak membuatnya bergeming. Dalam dua pekan, jahitan benderanya rampung dan siap dikibarkan.
Kendati bendera pusaka selesai dijahit, kisah perjuangan Fatmawati terus berlanjut. Senjatanya bukan lagi mesin jahit tangan, tetapi berbagai alat masak serta bahan pangan. Ia sigap mendirikan dapur umum saat situasi keamanan masih bergejolak sesudah proklamasi. Masakan buatannya memberi energi ratusan orang yang berkumpul membentuk benteng perlindungan bagi Presiden Soekarno dan keluarganya, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Hal serupa terulang sewaktu ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta selama 1946-1949. Sekali waktu, ada pengumpulan makanan untuk pasukan Divisi Siliwangi yang sedang bergerilya di Jawa Barat. Untuk kebutuhan itu, Fatmawati dan para pembantunya memasak rendang lalu mengirimkannya sebagai bekal bagi para pasukan yang tengah berperang mempertahankan republik.
“Keteladanan Ibu Bangsa - Fatmawati Soekarno - dalam kesederhanaan, keteguhan, moral, dan keanggunan perempuan Indonesia adalah nilai luhur yang tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Tetapi, harus terus dihidupkan, ditafsirkan ulang, dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa,” kata Bintang.
Cucu Fatmawati, Puti Guntur Soekarno mengenang neneknya sebagai seseorang yang berprinsip teguh. Citra itu tecermin dari kisah cinta kakek dan neneknya. Pasalnya, ungkapan cinta sang kakek tidak diterima begitu saja guna menguji perasaan itu. Alasan diterimanya pinangan juga bukan gara-gara status sang kakek yang kelak akan menjadi presiden.
“Ketika itu, Bung Karno mengatakan bahwa jika tidak ada Fatmawati, maka Soekarno tidak akan ada. Maka, betapa besarnya keinginan Bung Karno untuk bisa menjadikan Fatmawati sebagai pendamping hidupnya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Puti.
Dalam kenangannya, sebut Puti, sang nenek juga seorang ibu yang penuh kehangatan. Menurutnya, status “Ibu Negara” tidak lantas membuat sang nenek silau. Buktinya, sang nenek masih selalu memasak sendiri jika keluarga besarnya berkumpul. Bahkan, sosok itu mengulek sendiri sambal penambah cita rasa hidangan keluarga.
Lebih dari memasak, lanjut Puti, sang nenek juga sering menyuapi anak hingga cucunya ketika mereka sedang berkumpul. Suapan itu menyasar langsung dari tangan sang nenek ke mulut mereka. Anak-anak tetap disuapi walaupun sudah besar-besar dan mempunyai keluarga masing-masing.
“Walaupun ayah saya sudah menikah, Pak Lik Guruh (Guruh Soekarnoputra) sudah besar, ketika kami berkumpul, pasti dengan penuh cinta kasih Ibu Fatmawati menyuapkan makanan-makanan itu ke mulut putra dan putrinya. Itu pun yang kita rasakan. Maka, kehangatan cinta itu sebagai seorang ibu, sebagai seorang nenek yang saya tahu,” kata Puti.
Bagi Puti, sang nenek adalah “Ibu Bangsa”. Julukan itu bukan dipengaruhi statusnya sebagai istri Soekarno, melainkan sederet teladan yang ditinggalkan. Berkat ajarannya, anak-anaknya kemudian menjadi pemimpin dan tokoh bangsa. Jelang akhir hayat, sang nenek juga masih terus setia mendoakan bangsa Indonesia.
Doa itu dipanjatkan Fatmawati saat sedang umroh. Di depan Ka’bah, ia mendoakan agar Indonesia tetap diberi kemerdekaan. Jangan sampai kemerdekaan itu lenyap dari bangsa ini.
“Ini adalah doa yang penuh makna dari seorang Fatmawati, Ibu Bangsa kita, yang menginginkan bahwa kemerdekaan - sebagai jembatan emas - harus tetap kita jaga menjadi jembatan kokoh yang membawa seluruh rakyat Indonesia menjadi rakyat yang memiliki keadilan, kedaulatan, kesejahteraan, dan kemakmuran,” kata Puti.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto mengungkapkan, Fatmawati ikut bergerak dalam dimensi pembebasan politik karena mendorong Soekarno mengadakan kursus-kursus politik bagi kaum perempuan. Kursus-kursus itu digagas saat kondisi bangsa ini baru mempunyai 2 persen penduduk yang bisa baca tulis. Ini menjadi gagasan yang sangat progresif pada zamannya.
Dimensi sosial kemanusiaan tak luput dari pergerakan yang digeluti Fatmawati. Dalam sejumlah kunjungan, ia kerap menyaksikan banyak anak-anak menderita sakit paru tanpa layanan kesehatan memadai. Keadaan itu mendorongnya untuk mendirikan rumah sakit khusus anak-anak. Ia lantas bergotong royong mengumpulkan dana, termasuk melelang peci milik suaminya yang menjadi simbol kepemimpinan nasional.
Selain itu, ikhtiar perjuangan juga dijalani Fatmawati dari jalur kebudayaan. Pada berbagai kesempatan, ia selalu tampil percaya diri dengan wastra lokal ketika mendampingi suaminya, Soekarno, menerima tamu dari berbagai bangsa. Kepercayaan dirinya mengenakan mode busana lokal mencerminkan kemerdekaan negeri ini dalam kebudayaan.
“Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari pidato dan perjanjian semata, melainkan juga kerja sunyi, dari pengorbanan personal yang begitu banyak, dan keberanian perempuan-perempuan yang sering kali tidak tercatat secara adil dalam sejarah,” tandas Hasto.





