Penulis: Fityan
Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi ke level 7.935 seiring penurunan kapitalisasi pasar dan aktivitas transaksi harian di Bursa Efek Indonesia.
Pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja kontraksi pada pekan pertama Februari 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan tren negatif, dipicu oleh penurunan signifikan pada volume transaksi dan nilai kapitalisasi pasar.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis pada Minggu 8 Februari 2026, IHSG ditutup di level 7.935,26.
Angka ini merefleksikan pelemahan sebesar 4,73 persen dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya yang sempat bertengger di level 8.329,60.
Koreksi Kapitalisasi Pasar dan Transaksi
Pelemahan indeks ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan.
Data bursa menunjukkan total valuasi pasar menyusut menjadi Rp14.341 triliun, turun sekitar 4,69 persen dari angka pekan lalu yang mencapai Rp15.046 triliun.
Penurunan tidak hanya terjadi pada nilai aset, tetapi juga pada gairah perdagangan harian.
Rata-rata nilai transaksi harian di lantai bursa kini berada di angka Rp24,75 triliun.
Penurunan paling tajam terlihat pada frekuensi transaksi harian yang anjlok hingga 28,62 persen.
"Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa tercatat sebanyak 2,72 juta kali transaksi selama sepekan ini," tulis laporan resmi pihak otoritas Bursa Efek Indonesia dalam keterangan tertulisnya.
Sebagai perbandingan, pada periode pekan sebelumnya, frekuensi transaksi masih mampu menyentuh angka 3,82 juta kali.
Penurunan frekuensi ini mengindikasikan adanya sikap wait and see atau kehati-hatian yang tinggi dari para investor di tengah dinamika pasar saat ini.
Analisis Singkat
Koreksi tajam di bawah level psikologis 8.000 ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar.
Meskipun demikian, fluktuasi ini dinilai sebagai bagian dari penyesuaian pasar setelah periode pertumbuhan sebelumnya.
Penurunan frekuensi transaksi yang mencapai hampir 30 persen menunjukkan berkurangnya partisipasi ritel maupun institusi dalam perdagangan aktif selama lima hari terakhir.
Para analis memprediksi bahwa pergerakan pasar pada pekan depan akan sangat bergantung pada rilis data makroekonomi domestik dan sentimen global yang memengaruhi aliran modal asing di pasar saham Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F08%2Fc829c69a05fc1f58e5e53b0847052de1-WhatsApp_Image_2026_02_08_at_15.34.58.jpeg)

