Badan Geologi Ungkap Sejumlah Keunikan Fenomena Sinkhole di Situjuah

republika.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan sejumlah keunikan terkait fenomena sinkhole atau tanah yang tiba-tiba ambles dan membentuk lubang atau cekungan di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Sinkhole di Situjuah terjadi di jenis bebatuan yang tak lazim.

"Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik," kata ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM Taufiq Wira Buana saat dihubungi di Kota Padang, Ahad (8/2/2026).

Baca Juga
  • Cek Fakta: Aman Enggak sih Minum Air dari Sinkhole Sumatra Barat?
  • Sinkhole di Kalurahan Girikarto Bukan Lubang Biasa, Rongga Bawah Tanah Capai 30 Meter
  • Dedi Mulyadi Jamin Biaya Pasien Cuci Darah PBI BPJS akan Dibayarkan Pemprov Jabar

Fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua merupakan pseudokarst atau kars semu. Dalam kaji cepat yang dilakukan pada 9 hingga 11 Januari 2026, Badan Geologi juga menemukan keunikan lainnya yaitu sinkhole terjadi di material vulkanik (endapan gunung api) dan bukan di batu gamping (kars).

"Biasanya sinkhole ini terjadi di batu gamping, tapi sinkhole Situjuah terjadi di batuan kapur," ujar dia.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Terdapat sungai bawah tanah yang membentuk rongga di material vulkanik (tuflapili), mekanisme utamanya karena erosi buluh yaitu erosi internal yang mengikis partikel tanah dan membentuk saluran-saluran atau "pipa" alami.

Selanjutnya, peneliti juga menemukan lubang sinkhole terisi air dan terlihat kesan berwarna biru pada air. Fenomena ini pada bentang alam kars disebut dengan cenote. Temuan terakhir ialah derajat keasaman air (pH) termasuk kategori agak asam hingga netral.

"Karena keunikan ini Badan Geologi menamainya dengan Sinkhole Situjuah," kata Taufiq.

Secara umum, terdapat dua faktor yang menyebabkan munculnya fenomena sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota yakni faktor air dan stabilitas tanah. Untuk faktor air dipengaruhi oleh suplai air yang melimpah (hujan dan air tanah) yang terus-menerus menggali, serta kekuatan air tanah yang mengikis tanah dari dalam secara perlahan.

Sementara, untuk faktor stabilitas tanah berkaitan dengan jenis tanah di daerah tersebut (tuf/abu vulkanik) yang mudah terkikis oleh air. Kemudian adanya jalur retakan-retakan di dalam tanah yang mempermudah proses erosi buluh, serta perubahan tekanan rongga di bawah ambang batas toleransi sehingga tidak kuat menahan beban di atasnya.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Penampakan Ponpes Al-Adalah di Tegal Roboh Akibat Tanah Bergerak | KOMPAS PETANG
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Kemendikdasmen Gandeng McGill dan UEA, Perkuat Kepemimpinan Guru Indonesia
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Makna Logo dan Tema Hari Pers Nasional 2026, Intip Juga Sejarah Berdirinya!
• 21 jam laludisway.id
thumb
Ini Jadwal Konser Java Jazz Festival 2026
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Yudhoyono Dialogue Forum 2026: AHY Beberkan 5 Pilar Ekonomi Baru
• 17 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.