TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Tanpa perubahan mesin pertumbuhan, ekonomi nasional dinilai berpotensi kembali tertahan di kisaran 5%. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman.
Ia menjelaskan, sepanjang 2025 konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 53-54% terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga secara aritmetika hampir selalu menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan.
Namun, ia menekankan bahwa kualitas konsumsi saat ini menunjukkan pelemahan daya beli. Meski inflasi terjaga rendah di kisaran 2-3% secara tahunan, sejumlah indikator mikro justru mencerminkan tekanan pada sisi permintaan masyarakat.
Baca juga : Pemerintah Optimistis Ekonomi 2025 Tembus 5,2%, Sesuai Target
“Kredit kendaraan bermotor terkontraksi sekitar 6,6% secara tahunan pada Desember 2025, penjualan ritel riil cenderung stagnan, dan pola belanja bergeser ke kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman,” ujar Rizal, Minggu (8/2).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi bertahan lebih karena kebutuhan minimum (necessity consumption), bukan karena peningkatan kesejahteraan. Tekanan daya beli terutama dirasakan oleh kelompok kelas menengah bawah, sehingga konsumsi dinilai tidak lagi cukup kuat untuk mendorong akselerasi pertumbuhan jangka menengah.
Di sisi lain, PMTB juga masih menopang pertumbuhan dengan kontribusi sekitar 28-29% terhadap PDB dan pertumbuhan di kisaran 4-5%. Namun, struktur investasi dinilai belum merata dan cenderung terkonsentrasi pada sektor tertentu.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi 2026 Dikuatkan Konsumsi dan Manufaktur
“Peningkatan investasi terutama terjadi pada hilirisasi mineral seperti smelter nikel serta proyek pemerintah dan proyek strategis nasional. Sementara itu, manufaktur padat karya, properti residensial, dan investasi modal kerja UMKM relatif tertahan,” jelasnya.
Rizal menambahkan, kondisi tersebut sejalan dengan indikator pembiayaan perbankan. Kredit investasi masih tumbuh lebih baik dibandingkan kredit konsumsi tertentu, tetapi industri pengolahan non-komoditas belum menunjukkan ekspansi yang signifikan.
Berbagai insentif pemerintah dinilai berhasil menjaga pertumbuhan agar tidak turun di bawah 5%, namun belum menciptakan perluasan ekonomi yang luas berbasis sektor riil domestik.
Memasuki 2026, Rizal menilai tantangan utama perekonomian Indonesia adalah struktur mesin pertumbuhan yang masih terlalu bergantung pada konsumsi domestik. Dalam satu dekade terakhir, kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi cenderung berada pada growth plateau di kisaran 5%.
"Untuk keluar dari jebakan ini, transformasi manufaktur padat karya menjadi kunci. Setiap kenaikan output industri pengolahan memiliki efek penciptaan lapangan kerja yang besar dan langsung memperbaiki daya beli masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah perlu mendorong investasi swasta domestik yang produktif, tidak hanya mengandalkan penanaman modal asing berbasis komoditas.
Fokus investasi perlu diarahkan ke industri antara, agroindustri, serta penguatan rantai pasok domestik agar PMTB tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga memperluas kapasitas produksi nasional. Rizal juga menekankan pentingnya transformasi ekspor ke arah manufaktur dan jasa modern. Ketergantungan ekspor pada komoditas dinilai membuat pertumbuhan ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global.
"Ketika harga batu bara dan nikel melemah, pertumbuhan langsung tertahan. Tanpa transformasi manufaktur dan ekspor bernilai tambah, pertumbuhan ekonomi 2026 berpotensi tetap berada di kisaran 4,8-5,1%,” pungkasnya. (E-4)





