Presiden Prabowo Subianto bertekad untuk membangkitkan seluruh industri yang ada di Indonesia. Menurutnya, langkah ini adalah jalan agar Indonesia menjadi negara maju.
Prabowo mengatakan kebangkitan industri tersebut ditargetkan dalam kurun waktu 2 sampai 3 tahun.
“Kita juga bertekad meningkatkan lapangan pekerjaan untuk bangsa Indonesia. Kita juga akan memimpin industrialisasi bangsa Indonesia, dalam 2-3 tahun ini kita akan membangkitkan seluruh industri kita. Kita sungguh-sungguh ingin menjadi negara maju,” kata Prabowo dalam Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama di Malang, Minggu (8/2)
Prabowo menegaskan kemajuan tersebut nantinya juga harus bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia. Kehidupan yang layak bagi masyarakat juga menjadi perhatian Prabowo.
"Dan kehidupan yang layak kita akan bangun jutaan rumah murah untuk seluruh rakyat kita yang membutuhkannya,” ujar Prabowo.
Sepanjang satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran sudah mencatat berbagai ekspansi pabrik dan kawasan industri. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mencatat terdapat delapan pabrik baru yang mulai dibangun atau sudah diresmikan dalam kurun waktu Oktober 2024-Juni 2025.
Di sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Agus mencatat terdapat tiga pabrik baru. Sektor ini tercatat mendapat investasi senilai Rp 266,95 triliun dari Oktober 2024-Juni 2025.
Pertama adalah pabrik pipa seamless pertama di Asia Tenggara yang berada di Cilegon, Banten. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 250.000 ton per tahun dan dibangun dengan nilai investasi Rp 2,5 triliun.
Selanjutnya ada peresmian pabrik baru Daimler (DCCMVI) yang berada di Cikarang, Jawa Barat. Investasi untuk pabrik tersebut bernilai Rp 500 miliar. Saat ini, pabrik tersebut bisa memproduksi 5.000 kendaraan niaga per tahun.
Lalu, ada pabrik industri panel surya di Kendal, Jawa Tengah yang bisa memproduksi 14 juta unit panel surya per tahun. Investasi untuk pabrik tersebut memiliki nilai Rp 1,5 triliun.
Bergeser ke sektor industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT), Agus mencatat terdapat investasi Rp 136,26 triliun pada kurun Oktober 2024-Juni 2025. Dari situ, terdapat 3 pabrik baru yang sudah terealisasi.
Pertama adalah pembangunan pabrik pakaian jadi di Brebes, Jawa Tengah dari PT Xinhai Knitting Indonesia dan H&M. Investasi untuk pabrik tersebut bernilai Rp 652,2 miliar.
Selanjutnya adalah peresmian pabrik produk karbamat milik PT Delta Giri Wacana Tbk yang berada di Serang, Banten. Pabrik tersebut memiliki nilai investasi sebesar USD 20 Juta.
Selanjutnya terdapat pabrik polyurethane resin milik PT Dongsung Chemical Indonesia di Karawang, Jawa Barat. Nilai investasi untuk pabrik tersebut mencapai Rp 1 triliun.
Dari sektor agro, Agus mencatat terdapat investasi senilai Rp 155,25 triliun dalam kurun Oktober 2024-Juni 2025. Dari situ, dua pabrik sudah terimplementasi. Pertama adalah pabrik makanan ringan milik Pepsico Indonesia yang berada di Cikarang, Jawa Barat. Nilai investasi untuk pabrik itu mencapai Rp 3,3 triliun.
Llau, terdapat pabrik minyak kelapa sawit dari PT Pacrim Lesatri Food yang berada di Lampung. Pabrik tersebut memiliki nilai investasi sebesar Rp 3,2 triliun.
Selain pabrik baru, pertumbuhan jumlah kawasan industri (KI) dalam setahun era pemerintahan Prabowo-Gibran juga meningkat dengan terdapat penambahan 9 KI.
9 KI baru tersebut adalah IPIP Sulawesi Tengah, I-Sentra Jawa Timur, Huadi Bantaeng Industrial Park Sulawesi Selatan, KI Cikembar II Jawa Barat, KI Losarang Jawa Barat, Purwakarta Integrated Industrial Park Jawa Barat, KI Pulau Penebang Kalimantan Barat, KI Seafer Jawa Tengah dan KI Tembesi di Kalimantan Barat.
Dengan bertambahnya jumlah kawasan industri tersebut, ruas lahan kawasan industri tumbuh 4,81 persen setara dengan 4.468 hektare. Sehingga kini total luas lahan KI di Indonesia mencapai 97.345,4 hektare.
Secara keseluruhan, jumlah KI saat ini mencapai 171 KI yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam setahun, Agus menuturkan jumlah perusahaan yang berada di KI juga meningkat 1,12 persen atau 132 perusahaan menjadi 11.970 perusahaan.
Selain itu, pertumbuhan jumlah KI dalam setahun terakhir juga membuat realisasi investasi tumbuh Rp 571,58 triliun atau meningkat menjadi 9,26 persen. Serapan tenaga kerja juga meningkat sebesar 15 persen atau sekitar 310.000 tenaga kerja dalam setahun.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F31%2F5d89d7e7-5231-42f3-95c9-4bd82794fdcb.jpg)