Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah bayang-bayang penguatan indeks dolar Amerika Serikat untuk periode sepekan ke depan.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kondisi itu tidak terlepas dari sentimen ketidakpastian global yang masih mengadang pasar keuangan, mulai dari arah kebijakan bank sentral utama hingga dinamika geopolitik internasional.
Menurutnya, pergerakan dolar AS masih akan berada dalam rentang resistance indeks 96,7 hingga 98,6 untuk sepekan ke depan.
“Tekanan dolar tersebut berpotensi mendorong pelemahan rupiah pada pekan depan, dengan kisaran support di Rp16.750 per dolar AS dan resistance di Rp17.200 per dolar AS," ujarnya, Minggu (8/2/2026)
Dalam catatan Bisnis, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp16.876 pada perdagangan hari ini, Jumat (6/2/2026). Rupiah melemah bersama dengan mata uang Asia lainnya.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,20% ke level Rp16.876 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,03% ke 97,85.
Baca Juga
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Minggu 8 Februari 2026
- Rupiah Ditutup Melemah Sentuh Level Rp16.876 per Dolar AS
- Pertaruhan Jaga Selera Investor kala IHSG & Rupiah Kompak Ambrol
Adapun, Ibrahim memerinci, salah satu faktor utama yang memicu volatilitas adalah ditundanya rilis data tenaga kerja Amerika Serikat hingga 11 Februari 2026. Data tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter The Federal Reserve, apakah akan menurunkan atau mempertahankan suku bunga acuannya.
Di sisi lain, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga masih memilih menahan suku bunga, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah adanya pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran terkait isu reaktor nuklir. Sementara di Eropa, Presiden AS Donald Trump mendesak tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina pada periode Mei–Juni mendatang.
“Namun, sentimen pasar kembali terganggu oleh tudingan Amerika Serikat terhadap China yang disebut melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, meskipun tuduhan tersebut telah dibantah.”


