Jakarta, VIVA – Perubahan teknologi dan dinamika industri global mulai mengubah peta ketenagakerjaan. Di tengah ancaman otomatisasi terhadap lapangan kerja dan menyusutnya lowongan kerja entry-level, terutama di sektor kerah putih (white-collar) atau perkantoran, kebutuhan terhadap pekerja teknis dan blue-collar justru meningkat.
Fenomena ini terjadi di negara tetangga, Vietnam. Laporan rekrutmen akhir 2025 dari platform pencarian kerja TopCV menunjukkan, AI kini semakin masuk ke aktivitas kerja sehari-hari. Setengah dari perusahaan yang disurvei menyatakan sudah menggunakan AI pada level dasar, sementara 40 perseb lainnya berencana menjadikannya prioritas strategis jangka panjang.
Penggunaan AI paling banyak terkonsentrasi di bidang bisnis dan penjualan, pemasaran, komunikasi, periklanan, serta teknologi informasi dan perangkat lunak. Sektor-sektor tersebut, bersama keuangan, akuntansi, dan audit internal, dinilai paling rentan terhadap pengurangan tenaga kerja atau penggantian dini karena banyak tugas bersifat standar yang bisa diotomatisasi.
Laporan terpisah dari platform kerja Joboko pada Desember 2025 menunjukkan tren serupa. Pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak lagi terbatas pada sektor teknologi, tetapi mulai meluas ke perbankan dan perusahaan domestik besar.
Pada kuartal pertama 2025 saja, bank dan perusahaan besar memangkas sekitar 400 hingga 1.600 pekerjaan, setara 10–15 persen tenaga kerja. Banyak perusahaan juga mulai mengalihkan pekerjaan repetitif seperti pemrosesan administrasi, layanan pelanggan, serta tugas konten dasar dan pemasaran ke sistem AI.
Fenomena ini mencerminkan perkembangan global. Morgan Stanley memproyeksikan bahwa pada 2030, bank-bank di Eropa dapat menghilangkan lebih dari 200.000 pekerjaan seiring percepatan adopsi AI dan penutupan kantor cabang fisik, memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja di 35 bank besar.
Posisi yang paling berisiko meliputi administrasi kantor, manajemen risiko, dan kepatuhan. Meski demikian, Pham Ngoc Toan, wakil direktur Institute of State Organizational and Labor Sciences di bawah Kementerian Dalam Negeri Vietnam, menilai AI tidak akan sepenuhnya menggantikan pekerja kantoran.
“AI tidak menyebabkan pengangguran massal, tetapi secara mendasar mengubah cara orang bekerja,” kata Toan, sebagaimana dikutip dari VN Express, Minggu, 8 Februari 2026. “AI mengurangi tugas-tugas manual yang berulang, sekaligus memaksa pekerja untuk terus meningkatkan keterampilan mereka,” sambungnya.



