MALANG, KOMPAS - Selama satu abad kiprah pengabdiannya, Nahdlatul Ulama atau NU telah membuktikan diri sebagai pilar kebesaran bangsa Indonesia. Setiap kali negara menghadapi bahaya, NU selalu hadir untuk menyelamatkan dan menjaga keutuhan bangsa sejak awal kemerdekaan hingga masa kini.
Presiden Prabowo Subianto menuturkan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selama satu abad, NU telah berjuang sejak masa-masa awal kemerdekaan hingga kini menjaga keutuhan dan kemerdekaan bangsa.
“100 tahun kiprah pengabdian NU telah membuktikan bahwa NU sungguh-sungguh adalah pilar kebesaran bangsa Indonesia. Setiap kali negara dalam keadaan bahaya, NU tampil untuk menyelamatkan,” ujar Presiden saat Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026).
Terima kasih Nahdlatul Ulama yang selalu setia menjaga martabat dan kebesaran bangsa Indonesia.
Hadir dalam acara tersebut Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, Ketua Umum Dewan Pembina Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, dan Ketua Umum Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi.
Dalam acara yang digelar Pengurus Wilayah NU Jawa Timur tersebut, turut hadir Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, serta sekitar 105.000 warga Nahdliyin dari berbagai daerah.
Prabowo melanjutkan, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 memang terjadi di Jakarta. Namun, ujian untuk mempertahankan kemerdekaan berlangsung di Surabaya, Jatim. Dalam kondisi tersebut, NU ikut dalam pertempuran di Surabaya yang menjadi titik balik dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Para kiai dan ulama bersama para santri bahkan menjadi garda terdepan melawan penjajahan. "NU selalu memberi contoh. NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan dan memang itulah pelajaran sejarah," ucap Presiden.
Oleh karena itu, Presiden berharap agar di usia satu abad, NU dapat meningkatkan kiprahnya dalam mencerdaskan, menyejahterakan, menyatukan, dan menjaga kedamaian kehidupan bangsa Indonesia. NU harus terus memberi contoh dalam menjaga toleransi antaraumat beragama sebagaimana diajarkan oleh tokoh-tokoh NU seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden Ke-4 RI itu telah mengajarkan umat untuk selalu menjaga kedamaian dan kerukunan umat beragama tanpa membedakan latar belakang.
Lebih jauh, Prabowo mengingatkan bahwa tidak ada bangsa yang kuat dan maju apabila pemimpin-pemimpinnya tidak rukun. Oleh karena itu, ia selalu mengajak semua unsur untuk terus bersatu. Sekalipun harus bertanding, para pihak harus kembali rukun ketika kontestasi telah berakhir.
Sejarah manusia, kata Presiden, mengajarkan kepada manusia bahwa tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian. Oleh karenanya, para pemimpin harus kompak, rukun, dan bersatu demi berjuangan untuk kepentingan rakyat. Pemimpin tidak boleh memiliki rasa benci, dengki, dan mencari-cari kesalahan pihak lain.
"Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat, harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan," katanya.
Di hadapan ratusan ribu warga Nahdliyin, Presiden juga menyampaikan kabar baik mengenai rencana pembangunan Kampung Haji di Mekkah, Arab Saudi. Indonesia telah berhasil memiliki lahan di Tanah Suci untuk pembangunan fasilitas hunian yang layak bagi jemaah haji dan umrah. Melalui pembangunan kampung haji, diharapkan pelayanan bagi jemaah haji dan umrah asal Indonesia dapat lebih baik.
Pembangunan kampung haji tersebut ditargetkan selesai dalam tiga tahun yang pembangunannya akan dimulai dengan hunian berkapasitas 1.000 orang. Presiden bahkan berjanji akan kembali menurunkan biaya haji untuk jemaah Indonesia.
"Terima kasih Nahdlatul Ulama yang selalu setia menjaga martabat dan kebesaran bangsa Indonesia," pungkas Presiden.
Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz menilai, kehadiran Presiden Prabowo di tengah-tengah warga Nahdliyin memiliki arti strategis. Momen tersebut mencerminkan kedekatan nyata antara ulama, umat, dan negara yang dapat menjadi modal penting bagi stabilitas nasional. Kehadiran Presiden Prabowo dalam peringatan hari lahir ke-100 NU menunjukkan bersatunya ulama dan pemerintah dalam memperkuat kejayaan di masa depan.
Menurutnya, kemitraan antara NU dengan negara bukan hal baru. Sejak awal berdiri, organisasi ini memosisikan diri sebagai penjaga tradisi keislaman yang sekaligus setia pada keutuhan NKRI. Maka ketika memasuki abad kedua, peran itu dinilai justru semakin berat.
"Kami menyadari memasuki abad ke-2 Nahdlatul Ulama menjalankan peran sebagai penjaga tradisi dan pendukung NKRI bukanlah sesuatu yang ringan. Karena itu, untuk terus mengembangkan peradaban dalam berorganisasi, kami mengajak semua pihak untuk kembali berpedoman kepada kaidah-kaidah dasar pendirian Nahdlatul Ulama," tuturnya.
Dengan jumlah anggota yang diperkirakan telah melampaui 100 juta orang, kata Abdul Hakim, NU kini menjelma menjadi salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar di dunia. Besarnya basis keanggotaan tersebut adalah anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga dengan kerja keras dan kecerdasan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar warga NU tidak tercerabut dari nilai-nilai dasar pendirian organisasi. Ia merujuk Qonun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari yang menekankan keadilan, keamanan, perdamaian, serta tradisi saling menasihati dan bekerja sama melalui dakwah yang menyejukkan dan argumentasi yang kuat.
Nilai cinta kasih, persatuan, dan kebersamaan harus menjadi fondasi dalam berorganisasi sekaligus bernegara karena tetap relevan di tengah dinamika sosial-politik yang kian kompleks.
Adapun NU lahir pada 16 Rajab 1344 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi. Momentum satu abad NU sebelumnya telah diperingati pada 7 Februari 2023 atau 16 Rajab 1444 H di Sidoarjo, Jawa Timur. Sementara peringatan 100 tahun menurut kalender Masehi digelar oleh PBNU pada Sabtu (31/1/2026). Namun, dalam peringatan itu, acara hanya dipimpin oleh Yahya Cholil Staquf tanpa kehadiran Miftachul Akhyar dan Saifullah Yusuf.
Sementara dalam Mujahadah Kubro Satu Abad NU kali ini, pucuk pimpinan PBNU hadir lengkap. Namun dalam kesempatan ini, Yahya tidak memberikan pidato sambutan. Adapun sambutan hanya diberikan kepada Ketua PWNU Jatim dan Rais Aam membacakan doa penutup.
Riska Rahmi dari LTNU Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, menyayangkan konflik internal elite PBNU yang sempat terjadi. Ia berharap pemimpin NU dapat menjaga persatuan dan tidak memihak pada satu pihak. “Pemimpin harus merangkul semuanya dan menjaga persatuan,” katanya.
Sedangkan warga Nahdliyin dari Gresik, Muhajir (46), berharap NU dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat. “Harapannya NU bisa menjembatani pemerintah untuk lebih memperhatikan masyarakat, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan,” ucapnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496256/original/009191900_1770518586-unnamed__7_.jpg)

