Warga Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang, diliputi rasa cemas akibat peristiwa tanah gerak yang terjadi dalam sebulan terakhir.
Fenomena tersebut membuat sejumlah rumah warga rusak, miring, hingga ambruk, terutama setelah hujan deras mengguyur wilayah itu.
Tanah gerak mulai dirasakan warga sekitar satu bulan lalu dan mencapai puncaknya sekitar dua pekan terakhir saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Tanahnya gerak sudah sekitar 1 bulanan yang lalu. Pelan-pelan tiba-tiba jalanan pada bengkak, rumah saya miring-miring terus. Nah puncaknya 2 minggu yang lalu kemiringannya semakin parah lalu akhirnya ambruk,” ujar Subianti (43), warga Kampung Sekip, Minggu (8/2).
Rumah Subianti yang ditempati bersama suami, dua anak, satu menantu, dan seorang cucu yang masih bayi kini tidak lagi layak huni. Struktur bangunan mengalami keretakan parah, sementara bagian dapur longsor hingga sekitar satu meter.
“Di sini tanah geraknya cepat sekali. Rumah itu bisa jalan sampai 1 meter. Jalan rusak. Ini juga nggak hanya saya tetangga yang lain juga kena,” ungkapnya.
Untuk sementara, Subianti terpaksa membangun hunian darurat demi keselamatan keluarganya.
“Bangun sementara dulu di sini. Semoga aman, karena masih ada cucu yang bayi baru lahiran kemarin,” tuturnya.
Jalan Ambles-LongsorHal serupa dialami Rojikah (54), warga lain yang rumahnya berada di tepi jalan penghubung kawasan Universitas Diponegoro (Undip)–Jangli. Teras rumahnya dilaporkan telah longsor akibat pergerakan tanah.
“Kalau saya rumahnya di depan jalan yang ambles itu tadi. Terasnya sudah kena, longsor,” kata Rojikah.
Ia menyebut, sedikitnya 10 rumah terdampak pergerakan tanah, dengan lima rumah mengalami kerusakan paling parah hingga tidak bisa dihuni. Menurutnya, tanah gerak pernah terjadi di Kampung Sekip sekitar 20 tahun lalu, namun kejadian tahun ini merupakan yang terburuk.
“Dulu sekitar 20 tahunan yang lalu memang ada longsor tanah gerak tapi nggak separah ini. Terus yang tahun ini yang paling parah, sampai ada 5 rumah rubuh nggak bisa dihuni lagi,” ujarnya.
Selain permukiman warga, jalan alternatif yang menghubungkan kawasan Undip–Jangli juga mengalami kerusakan. Jalan tersebut merekah dan ambles, sehingga warga menambalnya secara darurat agar masih bisa dilalui.
“Itu jalannya kan lumayan dalam dampaknya. Baru ditempel sebagian pakai karung isi pasir biar bisa lewat. Tapi banyak warga yang nggak berani lewat karena seram. Kadang masih kerasa kalau gerak itu tanahnya,” tutur Rojikah.
Minta Pemerintah Beri SolusiBagi warga, hujan deras menjadi ancaman paling menakutkan karena pergerakan tanah biasanya kembali terjadi setelah hujan.
“Rasanya was-was, takut apalagi kalau hujan deras apalagi malam hari. Tidur juga nggak nyenyak takut longsor. Karena tanahnya gerak setelah hujan,” ucap mereka.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi bagi sekitar 50 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Sekip, agar mereka dapat hidup dengan aman tanpa ancaman longsor.
“Harapannya ada solusi dari pemerintah, karena takut juga dengan kondisi ini. Mungkin bisa dipindah kami ke tempat lain yang lebih aman,” kata Rojikah.




