Nelayan di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga kini masih menggantungkan aktivitas melaut pada mesin tempel berbahan bakar fosil. Mesin berbahan bakar bensin atau solar itu menjadi penggerak utama perahu yang digunakan untuk mencari ikan setiap hari.
Ketergantungan pada mesin tempel berbahan bakar fosil bukan tanpa konsekuensi. Emisi gas buang dan tumpahan bahan bakar dari mesin itu turut mencemari perairan pesisir. Dalam jangka panjang, pencemaran dari aktivitas perikanan skala kecil ini berpotensi memperburuk mutu ekosistem laut yang menjadi ruang hidup nelayan itu sendiri.
Selain itu ketersediaan bahan bakar yang tak selalu lancar, harga yang fluktuatif, serta ketergantungan pada distribusi informal di tingkat lokal kerap memaksa nelayan mengeluarkan biaya lebih besar. Pada akhirnya, hal ini akan menggerus pendapatan dan mempersempit ruang bagi nelayan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Kondisi ini melatar belakangi periset dari Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi baterai nikel mangan kobalt (NMC). Teknologi ini dirancang sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bahan bakar fosil penggerak perahu nelayan dengan jenis seperti kapal ketinting.
Periset Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN Himma Firdaus mengemukakan, solar sebagai bahan bakar perahu cukup sulit didapat di beberapa daerah karena persediaannya terbatas. Oleh karena itu, baterai ini dikembangkan sebagai solusi penggerak perahu nelayan.
“Pada dasarnya, inovasi ini ditujukan untuk membantu nelayan, terutama mereka yang mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar, khususnya di daerah-daerah kecil. Selain itu, penggunaan baterai dinilai lebih hemat karena biaya operasionalnya lebih irit dibandingkan bahan bakar fosil,” ujarnya, pada Jumat (6/2/2026).
Pengembangan teknologi ini dilakukan sejak awal tahun 2024. Pada akhir tahun 2024 dilakukan uji coba di sejumlah wilayah dengan karakteristik laut yang berbeda yakni Pantai Ciwaru (Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat), Pantai Sendang Biru (Kabupaten Malang, Jawa Timur), Pantai Sadeng (Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta), dan Kepulauan Bangka.
Inovasi ini ditujukan untuk membantu nelayan, terutama mereka yang mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar, khususnya di daerah-daerah kecil. Selain itu, penggunaan baterai dinilai lebih hemat karena biaya operasionalnya lebih irit dibandingkan bahan bakar fosil.
Himma menjelaskan, ketahanan baterai pada sistem penggerak perahu listrik sangat dipengaruhi oleh karakteristik pantai dan kondisi laut. Pada perairan yang relatif tenang dengan ukuran perahu kecil, motor berdaya 5 kilowatt (kw) dinilai cukup untuk menempuh jarak sekitar 20 kilometer (km) dengan menggunakan dua baterai pack.
Kondisi tersebut berbeda ketika perahu beroperasi di laut dengan gelombang tinggi atau ombak besar. Dalam situasi ini, dua baterai pack dan motor 5 kw tidak lagi memadai untuk menopang kinerja perahu sehingga memerlukan motor dengan daya minimal 9-10 kw. Penambahan daya tersebut diikuti dengan kebutuhan baterai yang lebih banyak.
Selain penambahan daya, aspek efisiensi sistem penggerak terus dikembangkan dalam tahap uji coba. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengubah desain baling-baling atau propeller karena komponen ini amat berpengaruh pada efisiensi kinerja penggerak perahu secara keseluruhan.
Inovasi baterai untuk penggerak perahu nelayan ini menggunakan baterai jenis NMC 72V dengan arus 55Ah sebagai sumber energi. Baterai jenis ini memiliki densitas energi yang lebih tinggi dibandingkan baterai lain dan ketersediaan di lapangan lebih banyak.
Fitur keamanan berbasis sistem manajemen baterai (BMS) merupakan keunggulan lain dari teknologi baterai ini untuk menjaga suhu tetap aman serta penggunaan bracket untuk pemasangan motor listrik direct current (DC) di dinding kapal. Kombinasi ini menggantikan mesin piston berbahan bakar fosil dengan sistem ramah lingkungan.
Inovasi baterai penggerak perahu nelayan ini juga dilengkapi dengan alat sistem pemosisi glonal (GPS) dan supervisory control and data acquisition (SCADA) yang memungkinkan pemantauan posisi perahu dan status kesehatan baterai secara real time melalui jaringan seluler. Dua alat ini meningkatkan efisiensi dan kontrol sistem secara keseluruhan.
Baterai ini mampu menggerakkan perahu dengan kapasitas dua hingga lima gross tonnage (GT) sehingga menjadikannya lebih efisien dan andal sesuai spesifikasi standar. Empat unit baterai berkapasitas 55Ah dengan berat masing-masing 18 kilogram dapat digunakan secara paralel untuk mendukung kebutuhan daya perahu tersebut.
Himma menyebut penggunaan baterai untuk menggerakkan perahu nelayan ini bisa menghemat pengeluaran nelayan untuk pembelian bahan bakar minyak hingga 90 persen sekaligus berkontribusi mengurangi emisi karbon. Namun, penghematan pengeluaran ini juga tetap bergantung pada kondisi laut yang berombak atau tenang.
Namun peralatan kelistrikan yang digunakan di laut berpotensi mengalami korosi akibat paparan air laut. Guna mengatasi hal tersebut, baterai pack ini menggunakan material stainless steel dan tengah dikembangkan alternatif berbahan polimer agar lebih tahan terhadap kondisi lingkungan perairan.
Selain itu sistem untuk meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan pada baterai NMC tengah dikembangkan. Upaya yang dilakukan di antaranya dengan penambahan fitur pembatas suhu, pengontrol daya dan arus, serta sistem pengaman untuk demi overheating dan overcharge yang berisiko menimbulkan kebakaran.
Himma mengatakan, baterai pack untuk penggerak perahu ini dirancang agar mudah digunakan oleh nelayan. Sistem ini dilengkapi konektor yang langsung disambungkan ke penggerak serta indikator yang menampilkan kondisi baterai, mulai dari persentase daya hingga kapasitas yang tersisa.
Setelah baterai terhubung, penggerak motor dapat dinyalakan melalui tombol khusus. Cara pengoperasiannya menyerupai skuter atau motor listrik, yakni cukup memutar gas untuk menggerakkan baling-baling dan mendorong perahu melaju di atas air.
Meski relatif sederhana, sistem ini tetap memerlukan pemahaman dasar mengenai teknologi yang digunakan. Pengenalan dan pelatihan diperlukan agar pengoperasian berlangsung aman dan tidak menimbulkan risiko yang tidak diinginkan bagi nelayan.
Baterai NMC dari BRIN telah mendapat paten dengan nomor P00202413647 bersama PT Teknologi Sirkular Biru. Proses komersialisasi dan produksi secara massal nantinya akan dilakukan oleh PT Teknologi Sirkular Biru.
“Kami juga sedang mengkaji untuk pengelolaan limbah baterai ini bersama mitra. Beberapa rekan dan mitra kami sebelumnya sudah berpengalaman dalam memilah dan mengelola sampah elektronik, termasuk pemanfaatan baterai bekas dengan mengambil kembali material-material penting dari baterai yang sudah digunakan,” kata Himma.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, dalam sejumlah kesempatan, selalu menekankan agar nelayan dapat menerapkan praktik perikanan ramah lingkungan. KKP juga mendorong penerapan penangkapan ikan terukur untuk mengurangi tekanan di wilayah penangkapan tertentu dan mencegah konflik antar nelayan.
Trenggono menegaskan, kebijakan alat tangkap ramah lingkungan dan pengaturan BBM diterapkan demi menjaga laut sebagai sumber penghidupan nelayan dalam jangka panjang. Saat ini, KKP juga tengah menyiapkan program modernisasi kapal perikanan untuk meningkatkan produktivitas nelayan.




